Tags

, , , , , ,

IMG-20140607-WA0001

Cast: Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Siwon, Choi Minho, Lee Jonghyun and others
Genre: Romace, Comedy
Rating: AU
Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya
Summary: Kim Kibum seorang namja introvert yang terpaksa tinggal dengan Cho Kyuhyun yang dingin dan ketus. Kehidupannya yang datar berubah ketika para kingka mengelilinginya.
Pairing: KyuBum, ChangBum, SiBum
p. s Pairing lain menyusul seiring berjalannya cerita

©SnowBum KyuDevil proudly presents

.
.
.

Malam itu Changmin terlihat sibuk dengan bubur di tangannya, Kibum baru saja sadar dari pingsannya beberapa saat yang lalu dan dengan hebohnya Changmin menanyai kabar Kibum sementara yang ditanyai enggan menjawab.

“Habis ini kau harus minum obat ne! beritahu aku jika kau merasa sakit!” kata Changmin lembut.

“Hn.”

Minho terkikik geli, sejak bangun tadi Kibum tidak mau bicara dengan siapapun, bahkan saat ia meminta maaf Kibum hanya menjawab dengan gumaman. Tapi yang lebih lucu adalah ketika Changmin terus menerus menyerangnya dengan pertanyaan dan pernyataan tetapi tetap mendapatkan respon yang sama.

“Kau sudah kenyang?”

“Hn.”
“Sekarang minum obat!”

Aniya!” Kibum menepis tangan Changmin yang sedang menyodorkan obat dalam bentuk sirup berwarna merah.

Wae?” Changmin memasang tampang polosnya, kali ini benar-benar polos sepertinya.

Shireo!”

Wae?”

“…”

Waeyo Bummie-ah?”

“…”

“Ish yaa! Dia tidak sedang sakit dan lagi kenapa kau malah memberinya sirup batuk untuk anak-anak?” tegur Minho yang langsung mendapat deathglare dari Changmin.

“Minho benar, Kibum tidak apa-apa Changmin, dia pingsan karena syok bukan karena terkena penyakit berbahaya,” Jonghyun mengambil alih sirup rasa stroberi yang tengah dipegang Changmin, “Dan lagi kau membawa obat yang salah!”

“Tsk, sudahlah lebih baik kalian keluar!”

Yaa! Kalian kenapa cerewet sekali sih!” Changmin menunjuk ketiga temannya kesal.

‘Yang cerewet kan dia!’ batin semuanya termasuk Kibum.

“Aku mau tidur!” Changmin menoleh, dilihatnya wajah bantal Kibum yang memelas, sepertinya pria manis itu benar-benar mengantuk.

“Ah ya baiklah mari kita tidur!” katanya seraya merangkul bahu Kibum, menariknya untuk tidur.

PLAK

“AWW!” pekik Changmin saat Jonghyun menjitak kepalanya.

“Kamarmu di bawah babo!”

“Ini juga kamarku, ini kan resortku!” protes Changmin.

Kyuhyun yang sudah malas mendengar celotehannya dengan cepat menarik Changmin yang lebih tinggi dan tentunya lebih berat darinya, dengan bantuan dari Minho akhirnya Changmin berhasil didepak dari kamar tersebut. Jonghyun ikut keluar sembari membawa peralatan bekas makan Kibum dan juga sirup batuk yang dibawa Changmin tadi.

Jaljayo~” pamit Jonghyun dengan senyum hangatnya. Kibum diam tak membalas, Jonghyun berbeda, senyuman dan juga pancaran matanya menggambarkan dengan jelas bahwa, Jonghyun adalah pria yang hangat.

.
.
.

Yoboseyo?”

Seorang pria berkacamata hitam tampak berjalan menuju pintu keluar bandar udara Gimpo, sebuah koper berukuran sedang, tengah ditariknya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menggenggam ponsel genggamnya.

Ne, kau ada di mana?” kata pada suara di sebrang,

“Baiklah, bye~” dengan langkah santai pria berkacamata hitam itu keluar dan mencari sesorang yang akan menjemputnya. Tidak butuh waktu lama karena baru beberapa saat ia sampai dipinggiran pintu masuk, seorang pria lain berjalan menghampirinya dan menepuk bahunya.

“Sungmin-ah!” panggil pria dengan rambut abu-abu tersebut.

“Jungmo-ssi!” pekik Sungmin, dilepasnya genggaman tangannya dari koper lalu beralih memeluk pria di hadapannya, “Otthokhae jinae?” Sungmin melepas pelukannya, lalu memandangi pria yang lebih tinggi darinya.

“Sangat baik karena kembali bertemu denganmu setelah sekian lama!” jawab Jungmo dengan semangat.

“Aish terkadang kau berlebihan!” Sungmin memukul dada Jungmo membuat Jungmo tertawa.

“Itu benar!” sanggah Jungmo.

“Tidak benar! Bulan lalu kan kau mengunjungiku ke Jepang!” ralat Sungmin, memang benar Jungmo sering sekali ke Jepang sekedar mengunjunginya di waktu-waktu senggangnya.

“Masa sih? Kurasa karena terlalu sibuk makanya aku jadi sedikit lupa!” elak Jungmo.

“Bukan karena itu, kurasa kau sudah terlalu tua jadi mudah lupa, lihat saja rambutmu sudah putih semua!” kata Sungmin dengan jari telunjuk yang mengacung di depan wajah Jungmo.

“Dasar norak! Ini kan lagi ngetren, emangnya di Jepang ngga ada yang kayak gini apa? Lagi pula ini abu-abu bukan putih, kamu kok jadi buta warna sih pulang dari Jepang?” Sungmin kembali menarik kopernya dan berjalan menuju mobil yang diduganya sebagai milik Jungmo, malas mendengarkan ocehan Jungmo yang terkenal bawel itu.

“Eh kok ninggalin aku sih? Dasar curang, sudah dijemput malah mendahului aku!” protes Jungmo dengan wajah tertekuk, Sungmin tetap tak menghiraukannya dan malah asik bersandar di mobil berwarna merah tersebut.

“Baiklah~ kaja kita pulang!” Jungmo membuka pintu bagasi dan memasukan koper milik Sungmin sementara pemilik koper sudah masuk ke dalam mobilnya, “Ming~ kau tidur?”

“Belum-”

“Berarti akan, ya sudah tidurlah, pasti kau lelah!”

“Tokyo dan Seoul itu dekat!”

“Tetap saja bisa membuatmu jetlag, sudah tidur saja nanti aku bangunin!” Sungmin tak lagi menjawab, Jungmo menyimpulkannya sebagai ‘mencoba tidur’ maka pria yang hobi memainkan gitar itu tak lagi membuka suaranya.

.
.
.

“Changmin?” gumam Kibum melihat nama Changmin yang tertera di layar ponselnya, nomer itu baru saja diberikan Changmin saat di bandara tadi, sebenarnya ia dipaksa untuk menyimpan nomor tersebut. Malah Changmin memintanya untuk menamainya Choikang Changmin tapi dengan tegas Kibum menolaknya dengan alasan ia tak mengenal siapa itu Choikang dan hanya akan membuatnya bingung nantinya.

Nugu?” tanya Kyuhyun heran, pasalnya Kibum hanya diam memandangi layar sementara alunan Purple Line milik DBSK tersebut terus berteriak memenuhi mercy hitam itu.

“Changmin…” gumam Kibum pelan.

“Matikan saja!”

“Apa?” tanya Kibum, memastikan telinganya tidak salah dengar.

“Kalau tidak mau mengangkatnya, matikan saja!” suruh Kyuhyun jengah.

“Hn.” balas Kibum

“Berisik!” gerutu Kyuhyun, dengan itu Kibum mematikan panggilan dari si jangkung yang menculiknya kemarin.

Suasana di dalam mobil tersebut kembali hening, tak ada suara lagi bahkan dari ponsel Kibum yang sudah dinon-aktifkan olehnya. Sang supir juga hanya diam, sambil dalam hati mengeluh heran dengan sikap keduanya yang terlihat tidak akrab meskipun sudah tinggal bersama selama 4 bulan.

Neowa nae sai like ABCcheoreom swipji anha like XYZ
Uriui geori like ABC meoreojyeo gane like XYZ

Tiba-tiba saja alunan lagu dari album terbaru milik nation grup SNSD itu memenuhi ruang sunyi itu, sang supir terlihat tersenyum mendengar sebait lirik unik yang cocok menggambarkan keadaan kedua majikannya. Kalau dipikir-pikir Kyuhyun dan Kibum memang sangat jauh, seperti jarak dari huruf ABC ke huruf XYZ.

“Aish kau malah menyalahkan radio!” gerutu Kyuhyun yang tak dihiraukan sang supir yang sepuluh tahun lebih tua darinya, supir itu adalah supir pribadi Kyuhyun sejak SMP, Kyuhyun sendiri yang meminta orang tuanya memberi supir yang tidak terlalu tua. Tapi agaknya ia menyesal dengan keinginannya yang tak bijak, karena supir berusia muda itu mengendarai mobil dengan sesuka hatinya dan suka mendengarkan siaran radio yang dianggapnya menganggu ketenangannya.

Eoriseogeun ni mal soyongeobseo da boyeo~ neomanui geim kkeuchi nan geoji~” Kyuhyun mengernyit, dilihatnya Kibum menggumam mengikuti alunan lagu tersebut, memang saat album milik Girls’ Generation itu dirilis ia sudah berada di Korea tapi Kyuhyun tak menyangka bahwa Kibum adalah seorang fanboy.

“Wah Kibum-ssi bisa bernyanyi ya!” kata sang supir hendak memuji, “Suaramu bagus juga!” lanjutnya yang hanya mendapat balasan senyum simpul dari yang dipuji.

“Dasar fanboy!” sungut Kyuhyun.

“Kenapa emosian sekali sih jadi orang!” sindir Kibum memperhatikan wajah sinis Kyuhyun.

None of your business!”
“Tapi tadi kau mencampuri urusanku babo!”
Kyuhyun tertohok, pria manis di sampingnya yang biasanya lebih banyak diam itu baru saja mengatainya babo, di hadapan supirnya pula.

“Aish!”

Kyuhyun kehabisan kata-kata, ia memilih memainkan kekasih portablenya dengan headset yang terpasang di kedua telinganya, meredam suara-suara lain yang tak ingin di dengarnya. Kibum tak memikirkannya ia kembali bernyanyi karena saluran radio yang dipilih sang supir tepat, ada begitu banyak lagu-lagu popular yang sedang disukainya. Jujur saja, Kim Kibum sangat menyukai musik.

.
.
.

Changmin membanting ponselnya kesal, iya kesal sekali rasanya jika pujaan hatimu tak mau mengangkat telepon darimu. Changmin tersenyum kecut, konyol sekali ia jatuh cinta pada laki-laki, terlebih orang yang disukai sepertinya adalah pria normal. Tapi demi cintanya ia bersedia melakukan apapun untuk mendapatkannya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Changmin menyukai seorang pria, bahkan cinta pertamanya juga seorang pria. Awalnya ia merasa, mungkin saja ia terlalu mengagumi sosok yang sudah seperti kakak baginya dan teman-temannya tersebut.

Tapi kebersamaan yang sudah mereka jalin sejak kecil itu disadarinya sebagai perasaan cinta, seperti ketika kau menyukai lawan jenis, bukan seperti perasaan sayang adik untuk kakaknya.

Changmin kembali mengingat kenangan pahit masa lalunya, orang itu, orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta di umur yang masih sangat belia. Orang yang pernah membuat hubungannya dengan Kyuhyun menjadi renggang, orang yang juga dicintai Kyuhyun.

They said all teenagers scare the living sh*t out of me
They could care less as long as someone’ll bleed
So darken your clothes or strike a violent pose
Maybe they’ll leave you alone, but not me

Changmin gusar, ingin sekali rasanya membanting ponselnya lagi ketika mendengar alunan menghentak yang membuat jantungnya nyaris terlepas.

“Tsk bocah ini!” umpatnya melihat nama Minho yang tertera dilayar ponsel pintarnya.

“CHANGMIN-AH!” Changmin menjauhkan telinganya demi menyelematkannya dari ketulian, belum sepatah katapun yang dicuapkannya tapi pria bermata kodok yang meneleponnya itu malah sudah memekik keras di sebrang sana.

“MIN~” Changmin kembali mendekatkan speaker ponselnya, mendengar teriakan dari sahabat kentalnya.

“PELANKAN SUARAMU!” Changmin balas memekik, masih sempat ia mendengar keluhan dan umpatan bernada kesal dari temannya tersebut, “Dasar pengganggu!” kata Changmin tak kalah kesal.

“Aku hanya terlalu bersemangat tahu!” sungut Minho.

“Memang kau selalu seperti itu tahu!” ralat Changmin.

“Tidak terbalik?” tuding Minho, “Aish sudahlah, aku hanya ingin memberi tahumu bahwa Sungmin hyung sudah kembali ke Seoul!”

DEG!

Kedua mata Changmin membola bersamaan dengan ekspresi terkejut campur cemasnya, dia, orang itu sudah kembali ke Korea, ke tempat yang dulu paling dihindarinya, ke tempat yang Changmin harap tak akan pernah menjadi tujuan pulang baginya.

“Min~” sayup-sayup terdengar suara Minho memanggilnya, Changmin kembali sadar dari lamunannya.

Mianhae, aku lelah, jaljayo~”

Tuut~

Changmin memutuskan sambungan telepon, pria yang lebih muda beberapa hari dari Kyuhyun itu langsung menonaktifkan ponselnya kemudian memilih tidur.

Sungmin, nama itu terus terngiang di telinganya, membuatnya sulit tertidur.

“Kau, benar-benar kembali?” tanya Changmin retorik, matanya tampak berkaca-kaca, sepertinya ia harus bersiap-siap menahan rasa sakit kembali karena pada kenyataannya ia belum mampu menghapus rasa cintanya dari sulung keluarga Lee.

TBC

Advertisements