Tags

, , , , , , , , , ,

Bt3f5lECEAIbSJ3

Title: 1st Day

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Kibum and others.

Rating: K+ (Semua anak yang bisa baca boleh baca)

Summary: Jung bersaudara memulai harinya sebagai siswa baru di sekolah masing-masing, menghindari kerepotan Yunho memutuskan untuk menyewa dua orang pengasuh. Bagaimana hari pertama mereka di sekolah?

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan alur cerita, tokoh dan lain-lain hanya kebetluan semata. Semua pemain kecuali Kim Kibum bukan punya saya /plak

.

.

.

Ini adalah hari pertama bagi ketiga anak Jung, Kyuhyun akan masuk sekolah dasar, Changmin akan masuk TK sementara Kibum akan masuk playgroup. Kedua orang tua mereka pun berpikir untuk menyewa baby sitter untuk membantu Jaejoong dan kini sudah ada Kim Heechul dan Kim Junsu yang entah kenapa punya marga yang sama dengan sang nyonya besar.

Annyeong Kyunnie, Minnie, Bummie!”

Yunho dengan tangan yang terbuka lebar menghampiri ketiga anaknya dan memeluk mereka satu per satu sementara anak-anak itu melihat ke arah ibu dan dua wanita asing di hadapan mereka.

“Anak-anak, seperti yang Umma dan Appa katakan kemarin bahwa mulai hari ini akan ada yang membantu Umma dalam menjaga kalian.”

Jaejoong berujar dengan lembut, berusaha memberi pengertian kepada anak-anak mereka. Selama ini ketiganya hanya kenal seorang asing saja yaitu Bibi Cha, pembantu rumah tangga mereka. Wajar saja Jaejoong sedikit khawatir jika mereka belum siap.

“Yang rambutnya panjang itu Kim Heechul dia akan menjaga Kyuhyun dan yang di sampingnya adalah Kim Junsu, Junsu akan menjaga Changmin.” Yunho mulai menjelaskan.

“Kenapa harus dijaga mereka?” tanya Kyuhyun dengan wajah jengkel yang jelas saja membuat si cantik Heechul khawatir.

“Karena sekarang kalian pisah sekolah, dulu kan Kyu dan Changmin sekolahnya masih satu kompleks kalau sekarang tidak lagi, sekolah Kibum juga jauh jadi kalau hanya Umma dan Appa yang mengantar akan memakan banyak waktu.” jawab Yunho

“Kan ada supil!” bantah Changmin.

“Tapi kan supir tidak mengerti cara mengasuh anak.” Yunho tersenyum sembari mengelus kepala Changmin.

“Kibum bagaimana?” tanya Kyuhyun seraya melihat si bungsu yang berdiri di antara dirinya dan Changmin.

“Kibum akan di antar Umma, tidak apa-apa kan Kyu?” tanya Jaejoong takut-takut.

Sebenarnya dia tidak setuju dengan saran Yunho yang bagaimanapun hanya akan membuat Kyuhyun dan Changmin iri tapi kalau dipikir-pikir juga tidak mungkin ia menjaga tiga anaknya sekaligus di tempat yang berjauhan.

“Selalu saja.” gumam Kyuhyun cemburu.

“Telselah!” sahut Changmin kesal, ia juga sama cemburunya dengan sang kakak tapi menolaknya juga tidak mungkin.

Kibum hanya mengerjapkan matanya dengan polos, ia tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan orang-orang di sekitarnya.

Umma, Bummie lapal…” cicit Kibum sembari memilin roknya.

Aigoo kalian harus segera sarapan kalau tidak bisa terlambat! Kaja!”

Jaejoong menggendong Kibum dan berlalu begitu saja. Ia bersyukur karena bisa menghindari rajukan dua putranya.

“Ayo jagoan Appa juga! Heechul, Junsu kalian sudah kenal siapa yang harus kalian jaga kan? Mari ikut kami sarapan!” kata Yunho dengan senyum hangatnya. Kedua pengasuh itu mengangguk patuh lalu menghampiri Jung bersaudara.

.

.

.

“Hallo, boleh aku duduk di sini?”

Seorang anak gadis berkepang dua dengan gigi kelincinya datang menghampiri Kyuhyun.

“Eum!” jawab Kyuhyun yang masih fokus bermain PSPnya.

“Ah terimakasih, namaku Lee Sungmin dan ini ummaku Lee Sunkyu atau Sunny Lee!” katanya seraya menunjuk seorang ibu muda di sampingnya.

Annyeonghaseyo, Jung Kyuhyun imnida!”

Kyuhyun menoleh untuk menyapa Sunny sebentar, sebenarnya dia malas menanggapi Sungmin tapi sayangnya dia bersama ibunya, tak baik bukan bila tidak menghormati orang tua.

Annyeonghaseyo Kyu, apa kau ibunya?” Sunny melirik Heechul yang sedari tadi berdiri di samping Kyuhyun.

“Bukan!” jawab Kyuhyun cepat.

“Oh saya Nanny!” Heechul meralat.

“Oh… lalu ibunya di mana?” tanya Sunny lagi.

“Mengantar adiknya sekolah!” jawab Heechul singkat.

“Eum jika punya anak lebih dari satu memang agak sulit!” kata Sunny, maklum.

Keduanya terus saja berbicara dan meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin di kelas. Heechul sepertinya lupa untuk mengambil PSP Kyuhyun. “Terimakasih.” gumam Kyuhyun entah pada siapa, Sungmin hanya mengerjapkan matanya bingung.

.

.

.

“Junsu Noona! Aku lapal!”

Changmin menarik ujung rok lolita milik Junsu, anak itu sejak sampai terus saja mengatakan bahwa dia lapar.

“Changmin, bekalnya di makan nanti saja ya kalau sudah istirahat!” ujar Junsu mencoba memberi pengertian, bagaimanapun Jaejoong hanya memberikan sekotak makan siang saja, jadi kalau dimakan duluan lantas anak itu mau makan apa saat jam istirahat nanti.

Shileo! Aku maunya sekalang Noona! Aku lapaaal!” Changmin terus saja berteriak membuat mereka menjadi bahan tontonan.

“Sebaiknya kau beri makan anakmu, kalau tidak dia bisa kena maag di usia muda!” ujar seorang pria muda yang sepertinya guru di TK ini.

“Maaf Tuan, saya hanya Nanny dan soal makan, anak ini sudah sarapan banyak sekali jadi mustahil kalau dia lapar.” kata Junsu membela diri. Memang benar Changmin sarapan sangat banyak, Heechul dan Junsu saja sampai kenyang melihatnya makan dengan lahap.

“Oh begitu ya…”

“Aku lapal Sonsaengnim…” Changmin memegangi perutnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Siapa namamu?” pria yang ternyata guru itu berjongkok di hadapan Changmin.

“Jung Changmin, umulku 5 tahun, aku anak kedua dali 3 belsaudala, ibuku sedang mengantal adikku ke playgup jadi aku diantalkan Nanny.” jawabnya mengundang tawa guru muda itu pasalnya Changmin hanya diberikan satu pertanyaan dan malah menjawabnya dengan deskripsi yang panjang.

“Baiklah-baiklah, namaku Park Yoochun dan kamu boleh memanggilku Park Sonsaengnim.” Yoochun mengalihkan pandangannya ke arah Junsu, “Agashi, sekolah ini memiliki kantin yang akan memberikan makanan sehat kepada murid-murid saat jam istirahat jadi sekarang kau bisa memberikan bekalnya tanpa perlu khawatir dia akan kelaparan di jam istirahat!” kata Yoochun dengan senyum khas Casanovanya jelas saja membuat para ibu dan nanny yang berkeliaran meleleh dibuatnya. Mungkin Junsu salah satunya.

.

.

.

Candy Crush, entah mengapa nama playgroup ini mirip dengan nama game visual yang kerap dimainkan Kyuhyun belakangan ini. Kim Jaejoong memasukan Kibum ke sini karena rekomendasi seorang teman kuliahnya dulu yang anaknya juga pernah bersekolah di sini.

Kalau dilihat-lihat lingkungannya memang bagus, ada banyak permainan anak yang bagus dan aman, mengingat para siswanya kebanyakan adalah anak berusia 2 hingga 4 tahun.

Umma…”

Kibum menarik tangannya dari genggaman sang ibu, bocah itu berlari dengan sangat cepat meskipun kaki-kakinya masih sangat kecil. Jaejoong mau tak mau berjalan cepat untuk mengekorinya.

“Aku duyuan!” teriak seorang bocah gempal

“Aku!” bantah si kurus.

“Bolaku!” seorang anak laki-laki berambut jamur terlihat mengejar bolanya.

“Yang ini caja!” oh dan di sudut sana ada seorang anak perempuan yang tengah menyeret temannya untuk bermain ayunan.

Kibum berdiri di tengah taman bermain, melihat begitu banyak anak-anak kecil yang sibuk dengan mainan yang disediakan pihak sekolah, tak peduli dengan mata awas sang ibu yang berdiri tepat di belakangnya.

“Oh…”

Kibum berlari menghampiri seorang gadis cantik dengan kuncir kuda dan kemudian menarik rambutnya.

Ummaaaaa…”

Anak itu berteriak kencang sekali dan melepaskan boneka gajah di tangannya. Kibum membungkuk untuk mengambil boneka itu dan memberikannya kepada Jaejoong.

Kim Jaejoong masih tercengang dengan tindakan brutal anak gadisnya, menerima begitu saja bonek gajah berbulu abu-abu itu.

“Punya Umma!” kata Kibum polos.

“Bu-bukan chagi, bonekanya hanya mirip dengan punya Umma, tapi bukan milik Umma!” katanya merasa bersalah dengan anak perempuan yang menangis oleh tindakan brutal Kibum.

“Maaf, bolehkah aku meminta bonekanya kembali?”

Seorang ibu bersama dengan anak gadisnya datang menghampiri Jaejoong, sungguh malu bukan kepalang, di hari pertama Kibum malah sudah berbuat onar.

“Oh ini, maafkan anakku, dia berpikir bahwa boneka tersebut adalah milik kami, karena terlihat mirip!” ujar Jaejoong berusaha meminta pengertian.

“Gwaenchanayo, Yoona ini bonekanya, sudah jangan menangis!”

Jaejoong tersenyum canggung, bagaimana bisa ibu itu tidak marah pada putrinya yang begitu kasar.

Mianhae…” Kibum mengulurkan tangannya ke arah bocah perempuan malang itu, mata kelinci Jaejoong membola sempurna.

Gwaenchanayo,” anak itu membalas uluran tangan Kibum, kemudian menyeka air matanya, “Im Yoona imnida!” kata anak itu.

Jaejoong tersenyum, bersyukur karena kenakalan Kibum tak berbuntut panjang, atau mungkin belum.

“Jung Kibum.”

Kibum tersenyum, Yoona melihatnya sebagai senyum yang aneh, mungkin dia belum mengerti kalau yang sedang dilakukan Kibum adalah menyeringai.

The End

Advertisements