Tags

, , , ,

IMG-20140607-WA0001

Cast: Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Siwon, Choi Minho, Lee Jonghyun, Lee Sungmin, Kim Jungmo and others

Genre: Romace, Comedy

Rating: AU

Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya

Summary: Kim Kibum seorang namja introvert yang terpaksa tinggal dengan Cho Kyuhyun yang dingin dan ketus. Kehidupannya yang datar berubah ketika para kingka mengelilinginya.

Pairing: KyuBum, ChangBum, SiBum, JungMin

p. s Pairing lain menyusul seiring berjalannya cerita, mulai part ini akan banyak flashbacknya ^^v yang dibold itu bagian flashback ya soalnya kalau hanya cetak miring di ponsel tidak terdeteksi ^^

©SnowBum KyuDevil proudly presents

.

.

.

Minho mendrible bolanya dengan langkah tenang membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum dengan sosoknya yang berkharisma, mata besar, hidung mancung dan bibir yang tebal dan jangan lupakan tubuh tingginya yang atletis, sungguh siapapun tak mampu menolak pesonanya. Terlebih ketika seringaian melengkung indah di wajah arogannya, bungsu keluarga Choi ini jadi terlihat seperti vampir yang baru menemukan mangsanya.

“Minho!”

Minho berdecak kesal ketika melihat Jonghyun datang menghampirinya dan menahan langkahnya, padahal nyaris saja ia menghampiri Kim Kibum yang hendak berjalan menuju kelasnya.

“Dasar pengganggu!” kesal Minho yang hanya ditanggapi tawa oleh Jonghyun.

“Ayo kita ke kelas bareng!” ajak Jonghyun santai, padahal niatnya tadi Minho mau mengajak Kibum ke kelas bersama.

“Eh kamu sudah tahu belum?” tanya Minho yang kini memeluk bola basketnya dipinggang.

“Belum, kau belum memberi tahuku sih!” jawab Jonghyun sekenanya.

“Aish!” Minho mengangkat bolanya hendak memukul kepala Jonghyun dengan bolanya, “Sungmin hyung sudah pulang!”

“Uhuk!”

Jonghyun tersedak jus yang tengah diminumnya, nama yang selama 4 tahun ini tak didengarnya malah meluncur bebas dari bibir sensual Pangeran Kodoknya, “Jinja?” Minho tersenyum kecut, bukankah pria di sampingnya baru saja tersedak kenapa sekarang bertanya dengan wajah sok coolnya.

“Benar! Jungmo hyung yang memberi tahuku!” kata Minho berjalan meninggalkan temannya yang masih membatu.

Yaa jamkkaman!” Jonghyun berlari kecil mengejarnya, “Kau masih berhubungan dengan Jungmo?”

“Begitulah~”

Minho masuk ke dalam kelasnya dilihatnya Kibum sedang sibuk membaca buku super tebal dengan seriusnya, “Selamat pagi Bummie~” sapa Minho ramah membuat siapapun yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi, kecuali Kyuhyun yang asik dengan dunia gamenya.

“Jangan panggil aku dengan nama puppy seperti itu!” tolak Kibum dengan wajah masam yang justru terlihat semakin manis di mata Minho.

“Pagi Kibum-ah!” sapa Jonghyun yang barus sampai di kelas.

Kibum tersenyum lalu menjawab sapaannya, dia lebih suka cara Jonghyun memanggilnya ketimbang yang dilakukan Changmin dan Minho. Seketika kelas dipenuhi kasak-kusuk soal si penyendiri yang didekati dua pria populer sekolah tapi yang dibicarakan memang bukanlah orang yang suka mendengarkan omongan orang lain, jadilah cerita itu menyebar ke seluruh kelas X – 1.

“BUMMIE!”

Belum tuntas keterkejutan para siswa-siswi dengan kejadian ‘menyapa Kibum’ yang dilakukan Minho dan Jonghyun kini malah datang si Pangeran Tukang Makan yang berlari dan meneriakan nama Kim Kibum dengan sangat manis.

“Aish!”

Kibum memijat keningnya yang berdenyut, pikirnya Changmin akan marah karena panggilannya kemarin tak diangkat tapi rupanya pria itu masih saja mengejarnya.

“Halo chagi!” sapa Changmin yang sungguh membuat siapapun yang mendengarnya bersweatdrop ria.

“…”

Kibum menatap Changmin dalam diam, lebih baik berpura-pura tidak tahu dari pada menjawab si keras kepala ini, pikirnya.

“Mulai hari ini aku akan duduk denganmu!” ujarnya bersemangat.

Andwe! Aku akan duduk di mana?” protes Ryeowook yang langsung dipelototi Changmin, “Kundae-”

“Kau duduk dengan Kyuhyun saja, kita bertukar tempat!” kata Changmin memaksa.

Shireo!” kali ini Kibum bersuara.

“Hahaha…”

Terdengar Minho tertawa sementara Changmin langsung memasang wajah kecut, “Kajja, kembali ke alammu!” ajak Minho seraya menyeret Changmin ke tempat duduknya.

Yaa apa maksudmu!” protes Changmin yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Minho di lengannya.

“Setan harusnya bergaul dengan sesama setan bukan malaikat!” ejek Minho.

Dengan langkah terburu-buru ia menghindari Changmin dan Kyuhyun yang siap memukulnya, Changmin dengan sangat terpaksa kembali ke tempat asalnya karena seorang guru masuk ke kelasnya.

“Selepas istirahat aku akan merebut tempat Ryeowook!” tekad Changmin.

Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya heran. Baru kali ini ia melihat Changmin menjadi sangat agresif setelah 4 tahun.

.

.

.

Sungmin terlihat asik memasak di dapur milik Jungmo, keluarganya memang tak lagi tinggal di Korea sementara Jungmo hidup sebatang kara, maka dari itu lah Sungmin tinggal di rumah Jungmo, hitung-hitung tumpangan gratis sekalian menemani sahabat kecilnya itu.

“Ming, kau benar-benar pintar memasak!” puji Jungmo membuat wajah Sungmin memerah, sayangnya Jungmo sedang sibuk melahap sarapannya. “Oh iya aku akan langsung ke kantor, kau tidak apa-apa kan jika ku tinggal sendiri?” tanya Jungmo tak enak, bagaimana pun Sungmin baru sampai semalam.

Gwaenchana, kau pergilah, aku akan membereskan pakaianku dan juga rumahmu yang tak terawat ini!” katanya menyindir.

“Hahaha aku ini sibuk jadi tak sempat merawat rumah!” elak Jungmo setelah meneguk jusnya.

“Kau kan manajer, masa tidak bisa menggaji seorang pembantu?” lagi-lagi Sungmin menyindir.

Sebenarnya Sungmin tahu Jungmo terbiasa hidup mandiri tapi sepertinya kesibukannya sebagai manajer muda benar-benar menyita waktunya hingga rumahnya nampak seperti kapal pecah.

“Kalau begitu kau saja yang jadi pembantuku, othe?”

Sungmin menatapnya kesal kemudian menjitak kepala Jungmo dengan sangat keras membuat sang manajer muda meringis kesakitan, “Aigoo dasar cowok kasar!” ringisnya seraya mengusap kepalanya, ‘Tapi cantik’ batinnya.

Jungmo memang menyukai Sungmin, sejak mereka SMP, meskipun sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak bangku sekolah dasar tapi Jungmo baru menyadarinya saat SMP, ia sama sekali tak menyangka akan menyukai sahabatnya sendiri, terlebih mereka sama-sama pria.

Yaa kau melamun?” tanya Sungmin tiba-tiba.

“Uhuk!”

Jungmo tersedak mendengar teguran Sungmin, dengan cepat tangan Sungmin menyambar gelas berisi air putih dan memberikannya kepada Jungmo.

“Makanya jangan melamun!” tegurnya.

“Aish teman sedang kesusahan masih saja dimarahi!”

“Salahmu! Sudah cepat habiskan, kalau tidak kau akan terlambat sampai di kantor!”

Ne, tapi kau akan rapihkan semua rumahku kan?”

“AKU BUKAN PEMBANTUMU!” pekik Sungmin, marah.

Sialnya Jungmo harus tersedak untuk yang kedua kalinya.

.

.

.

Dua jam pelajaran berlalu, bel telah berbunyi dan satu persatu murid kelas X – 1 meninggalkan kelas mereka, Minho segera bangkit dan menghampiri Changmin dan Kyuhyun yang duduk berjauhan dengannya dan Jonghyun yang duduk di pojok kelas.

Yaa apa kau tahu kalau Sungmin hyung sudah pulang?”

DEG!

Kyuhyun kembali meletakan PSP yang tadinya akan ia bawa ke kantin untuk menemaninya bermain, Jonghyun tercengang melihat betapa beraninya Minho mengatakan hal tersebut di hadapan Kyuhyun dan Changmin.

“Kau sudah memberitahuku semalam!” kata Changmin seolah Minho sedang mengajaknya bicara.

“Aku kan memberitahu Kyuhyun, sejak semalam susah sekali dihubungi!”

Kyuhyun tak menanggapi perkataan Minho, ia lebih memilih pergi keluar dari kelasnya. Changmin mengambil langkah yang sama, ditinggalkannya Minho yang masih duduk di atas mejanya, sepertinya ia lupa dengan rencananya merebut tempat Kim Ryeowook. Bahkan ia melewati tempat Kibum tanpa menyapanya seperti biasa.

Sementara Jonghyun mendengus kesal. Tak disangkanya, Minho berani sekali mengatakan hal tersebut kepada Changmin dan Kyuhyun, padahal tadi ia berniat mencegah Minho tapi rupanya ia sudah membeberkannya kepada Changmin terlebih dahulu.

“Kau ceroboh sekali!” tegur Jonghyun, kecewa.

“Bukan ceroboh, aku memang sengaja kok cepat atau lambat mereka juga akan bertemu lagi!” kata Minho dengan seringaian arogannya, ia lalu mengambil bola basketnya dan keluar dari kelasnya.

“Huft…” Jonghyun kembali ke tempat duduknya, sepertinya ia malas keluar kelas dalam keadaan canggung seperti ini.

.

.

.

Suasana tenang perpustakaan mendadak ramai ketika Changmin masuk ke dalamnya, Kibum yang sejak tadi merasa terganggu dengan kedatangan Siwon –seniornya, sepertinya akan semakin terusik dengan kehadiran Changmin. Dan benar saja pria jangkung itu melangkahkan kakinya kepojok perpustakaan menghampiri Kibum yang tengah membaca buku dengan Siwon yang terus berbicara tanpa henti meski dihiraukan olehnya.

“Ya ampun setelah Siwon sunbae sekarang sekarang Changmin-ssi?” bisik seorang gadis nerd yang merasa terpukau dengan penampilan pria populer di perpustakaan sekolahnya.

Maklumlah perpustakaan ini hanya berisi para kutu buku saja, Siwon dan Changmin yang tak berkacamata jelas sangat mencolok, terlebih mereka adalah Kingka yang sangat terkenal di sekolah.

“Hei mau apa kau ke sini?” tanya Siwon heran saat si jangkung tiba-tiba saja bertengger di hadapannya –Kibum lebih tepatnya.

“Kau sendiri mau apa di sini Hyung?” tanya Changmin seraya menunjuk wajah Siwon.

“Aish tidak sopan, jangan menunjuk wajah orang lain, itu bukan budaya orang Korea!” tegur Siwon kesal.

“Aish dasar kuno!” ejek Changmin.

“Tidak ada istilah kuno untuk budaya, kau saja yang tidak menghormati budaya!” kata Siwon sewot, bagaimanapun Siwon besar di keluarga bangsawan yang sangat menjunjung tinggi etika dan budaya.

“Jangan ceramah di perpustakaan, ceramahlah di gereja!” Changmin balas menasehati.

Siwon yang kesal diceramahi juniornya langsung menghujaninya dengan siraman rohani tak menyadari bahwa bangku di sampingnya telah kosong.

Kibum memilih keluar setelah sebelumnya meminjam sebuah buku yang tengah dibacanya. Melihat sekelilingnya, berpikir tempat apa yang sepi di jam-jam istirahat seperti ini. “Taman belakang?” gumamya, seingatnya tempat itu selalu sepi karena rata-rata siswa memilih pergi ke kantin, lapangan basket atau tempat-tempat di mana mereka bisa menghabiskan waktu bersama teman mereka sembari tebar pesona.

Kibum sampai di taman belakang sekolahnya, tidak seperti taman lain dalam sekolahnya yang sangat luas, taman yang tak terlalu terawat ini tidak diminati siswa lain karena suasananya yang terkesan suram dan angker.

Kibum duduk bersandar di bawah pohon, membuka beberapa lembar kertas dalam bukunya, mencari sampai mana ia membaca tadi, belum sempat ia menemukan tujuannya ia malah mendengar suara alunan musik.

“Sepertinya itu alat musik tiup,” gumamnya berpikir, “Tapi siapa yang memainkannya?” merasa penasaran Kibum kembali menutup bukunya dan berjalan menyusuri taman yang cukup luas. Dibalik pohon lain, seorang pria tengah memainkan harmonikanya dengan mata tertutup dan airmata yang mengalir.

Kibum seolah terhipnotis dengan alunan indah itu, ia terus berjalan menghampiri pria itu hingga jarak mereka sangat dekat, Kibum berhenti di hadapan pria itu, menghalangi sinar matahari yang menerpa pria yang duduk di bawah pohon di depannya itu.

“Sedang apa?”

Kyuhyun –pria itu, menghentikan permainannya, membuat Kibum tersentak menyadari ia telah berjalan sampai sejauh ini. Kyuhyun menghapus lelehan air matanya, berdiri lalu memasukan harmonika ke saku celananya.

“Permainan harmonikamu bagus, aku tidak tahu kalau kau bisa bermain musik!” puji Kibum, jujur.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, “Bukan urusanmu!” katanya lalu berjalan meninggalkan Kibum.

“Tunggu!” Kibum berjalan menghampirinya, “Kenapa kita tidak pernah berbicara?”

Mwo?” tanya Kyuhyun heran, bukankah yang barusan itu juga berbicara.

“Maksudku, aku sudah err… maksudku kita sudah tinggal bersama selama 4 bulan, berada di kelas yang sama 1 bulan dan orang tua kita juga berteman, kenapa kita sangat canggung?” tanya Kibum.

Kyuhyun ternganga kaget, apa Kibum sedang kerasukan hantu penunggu pohon karena temannya bilang taman belakang angker. Kibum baru saja menanyakan hal paling tidak penting menurutnya dan lagi apa Kibum sebegitu tidak pintarnya bergaul hingga berbicara dengan sangat bertele-tele seperti barusan.

“Kurasa orang tuaku mengirimku ke Seoul untuk berteman denganmu.” lanjutnya, ragu.

“Lalu?” tanya Kyuhyun, datar.

“Tapi kau tahukan kita sama sekali tidak dekat, maksudku-”

“Ara!” Kyuhyun memotongnya, “Kau ingin berteman denganku kan?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan sebuah anggukan dari Kibum, “Aku tidak mau!” tolaknya.

Wae?” tanya Kibum kecewa, “Kalau kau tidak mau, aku akan memberitahu pada teman-temanmu bahwa kau menangis di bawah pohon!” ancam Kibum, entahlah sepertinya ia tidak berpikir dulu sebelum berbicara, padahal biasanya ia tidak suka mencampuri urusan orang lain.

“Memangnya akan ada yang percaya dengan bocah kesepian yang tidak pintar bergaul sepertimu?” tanya Kyuhyun menyindir.

Kibum terdiam, merasa tersinggung dengan ucapan Kyuhyun tetapi ia tak tahu harus mengatakan apa, maka ketika Kyuhyun berjalan meninggalkannya ia hanya terdiam.

‘Kukira kami bisa menjadi teman.’ batinnya, bukankah Kyuhyun yang memintanya tidur dengannya saat di resort Changmin kemarin, bukankah Kyuhyun mengetahui tentang makanan yang tidak bisa dimakannya, bukankah Kyuhyun mengetahui makanan apa yang disukainya, kenapa sekarang ia malah bersikap dingin dan kasar.

“Apa mungkin dia marah karena aku mengancamnya?” gumamnya kecewa, tentu saja ia kecewa, Kibum baru kali ini menawarkan dirinya untuk berteman tapi malah ditolak mentah-mentah oleh calon temannya.

.

.

.

Flashback

Sebuah limousine hitam terpakir manis di depan sebuah rumah megah, terlihat beberapa orang turun dari dalamnya, seorang anak laki-laki dari pemilik rumah mewah itu tampak mengintip dibalik tubuh ramping ibunya sementara sang ibu tengah menyambut tamunya bersama sang ayah.

Dilihatnya seorang bocah berkulit putih berpipi gembil tengah memperhatikannya, menghiraukan sapaan dari pemilik rumah yang sedang dikunjunginya. Merasa tertarik ia berjalan menghampiri bocah itu, kini bocah itu yang gantian bersembunyi di balik tubuh ramping ibunya.

Waeyo Kibummie?” tanya sang ibu ketika melihat anaknya bersembunyi di balik tubuhnya, bocah itu hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi malu-malu yang menggemaskan.

Kemarilah, ayah ingin mengenalkanmu dengan putra keluarga Cho!” titah sang ayah.

Bocah kecil itu perlahan keluar dari persembunyiannya, dilihatnya bocah lain menatapnya dengan rasa penasaran.

Kyunnie, ayo kenalkan dirimu!” kata ibu bocah itu.

Eum!” bocah itu mengangguk patuh lalu mengulurkan tangannya, “Cho Kyuhyun imnida, bangapseumnida!”

Senyum melengkung indah dibibir tipisnya menularkan respon yang sama dari bocah di sebrangnya, hanya saja ketika bocah itu tersenyum matanyapun ikut tersenyum.

K-Kim Kibum imnida.” katanya sedikit terbata.

.

.

.

Kibum duduk di kursinya dengan rasa malas, ‘Ya ampun, sejak kapan ia duduk disitu?’ batinnya mengeluh, mendapati teman sebangkunya yang merupakan pria paling pendek di kelas kini berganti menjadi pria paling tinggi di kelas, siapa lagi kalau bukan Shim Changmin.

Changmin terlihat senang dan santai-santai saja sementara Kibum yang masih memasang wajah datarnya sudah mengeluh berkali-kali di dalam hati kalau saja saat ini sedang tak ada guru yang mengajar dapat dipastikan ia sedang memarahi Changmin untuk pindah.

Tapi apa haknya mengusir Changmin, bukankah Ryeowok saja mau memberikan tempatnya kepada Changmin, lagi pula Neul Paran bukanlah miliknya, ia dan Changmin membayar iuran dalam jumlah yang sama jadi terserah dia mau duduk di mana toh Changmin tidak merebut tempatnya.

“Tsk!”

Kibum berdecak kesal, memikirkan betapa sangat tidak enaknya berada dalam posisi serba terpaksa seperti sekarang ini.

Waeyo Bummie?” tanya Changmin khawatir karena di tengah-tengah pelajaran sejarah Korea tiba-tiba saja ia berdecak sendiri.

“Hn.” Jawab Kibum enggan.

Changmin menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Maksudmu apa?”

“Shim Changmin, apa kau sedang membuka forum diskusi dengan Kim Kibum?” tegur seorang guru, pria paruh baya itu menatap tajam Changmin, membuat bulu kuduk Changmin meremang.

A-ani seonsaengnim, a-aku err…” kata Changmin tergagap

Di pojok kelas Minho membekap mulutnya sendiri, menahan tawa menyaksikan Changmin tengah di sidang di hadapan teman-teman sekelas.

“Kau apa? Sedang bertanya sejarah negaramu pada orang Korea yang besar di negara lain?” tanya sang guru menyindir.

Kibum mengepalkan tangannya kesal. Baru sebentar Changmin duduk dengannya, ia sudah membuat masalah.

“Tapi kejadiannya tidak seperti itu Seonsaengnim!” kata Changmin merasa tak enak Kibum dibawa-bawa karena kekacauan yang dibuatnya.

“Begini saja untuk mengetahui siapa yang salah dan tak memperhatikan pelajaranku, aku akan memberikan sebuah pertanyaan untuk kalian berdua!” tantang sang guru.

Bagaimanapun ia tidak bisa asal menghukum muridnya, meskipun sebenarnya sikap Changmin tadi benar-benar mengganggu ketenangan kelasnya.

Glek

Changmin menelan ludahnya, sejarah, meskipun itu adalah sejarah negaranya sendiri, ia tidak pernah bisa menghapalnya, ia benar-benar membenci sejarah, untuk apa mempelajari masa lalu yang sudah lewat, pikirnya. Ah ia jadi ingat Siwon menceramahinya soal sejarah kebudayaan Korea saat istirahat tadi membuatnya semakin membenci sejarah.

“Changmin-ssi, Kibum-ssi kalian pasti tahu Yang Mulia Raja Taejo dari Joseon kan?”

Changmin dan Kibum mengangguk kompak, Changmin mengintip papan tulis di mana sang guru sedang menjelaskan Dinasti Joseon tapi sialnya ia tak tahu siapa itu Raja Taejo, ia mengangguk karena tak ingin langsung diusir dari kelasnya.

“Baiklah, jadi apa gelar panjang yang dimilik Yang Mulia Raja Taejo?” tanya sang guru membuat Changmin berdecih, kenapa masih memanggilnya sesopan itu padahal yang dibicarakan sedang tidak ada.

“Kurasa Yang Mulia Raja Taejo!” jawab Changmin ngawur

Beberapa anak menahan tawanya mendengar jawaban Changmin yang yang mengkopi panggilan hormat dari sang guru, sementara Kibum menggelengkan kepalanya heran.

“Kau-”

Sang guru bersiap memukul kepala Changmin dengan spidolnya.

“Kaisar Taejo Gangheon Jiin Gyeun Eungcheon Jotong Gwanghun Yeongmyeong Seongmun Sinmu Jeongeui Gwangdeok dari Korea.” kata Kibum menghentikan tindakan sang guru.

Pria bermarga Jeon itu dapat memastikan bahwa tak ada seorang pun muridnya yang hapal dengan gelar panjang tersebut sepanjang ia mengajar sejarah Korea, tapi muridnya yang tinggal bertahun-tahun di negeri lain lah yang hapal dengan gelar panjang tersebut.

Tak hanya sang guru, seluruh murid di kelas itu pun tercengang, bukan kah Kibum baru satu bulan belajar di Korea sedang kan mereka sudah sejak bangku sekolah dasar tapi kenapa Kibum justru lebih pintar soal sejarah Korea dibanding mereka.

Prok! Prok! Prok!

Guru Jeon bertepuk tangan bangga, “Ternyata kau tak hanya pintar berbahasa Inggris! Rupanya aku salah menilaimu!” katanya dengan senyum terkembang.

Kamsahamnida!” kata Kibum sambil tersenyum simpul, dalam hati ia mengeluh kenapa begitu banyak yang meremehkannya hanya karena ia lahir dan besar di negeri orang.

Ne,” guru Jeon mengangguk, “Sesuai kesepakatan, kau Changmin-ssi harus menerima hukuman, kau buatlah biografi singkat tentang Yang Mulia Raja Taejo dan hapalkan!” titah sang guru seperti sambaran petir bagi Shim Changmin.

Entah sadar atau tidak Changmin melihat Kim Kibum menyeringai ke arahnya, ‘Matilah aku!’ rutuk Changmin dalam hati.

.

.

.

Sungmin baru saja selesai membenahi barang-barangnya, ia lalu beranjak keluar hendak membersihkan rumah Jungmo. Di mulai dari ruang tamu, ruang tv, ruang makan dapur hingga kamar Jungmo. Tidak ada rasa canggung karena sejak kecil Sungmin sering menginap di rumah Jungmo meskipun Jungmo dua tahun lebih tua darinya, Sungmin bahkan tak pernah memanggil Jungmo dengan embel-embel ‘hyung’ seperti bagaimana mestinya.

Memasuki kamar Jungmo, Sungmin jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu ketika orang tua Jungmo meninggal, Sungmin berlari dari rumahnya yang berjarak 2 blok dari rumah Jungmo demi melihat keadaan sang sahabat. Saat itu Jungmo menangis di dalam kamarnya, duduk di balkon sambil meringkuk, menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata, sejak saat itu mereka sering menginap di rumah satu sama lain, menemani hari-hari Jungmo yang sepi hingga mereka datang.

Sungmin ingat, 7 tahun lalu ketika ulang tahunnya yang ke 15 ia dan keluarganya datang ke pesta tahun baru yang di adakan keluarga Shim. Sungmin memang berbeda dengan anak lainnya, ulang tahunnya jatuh pada hari pertama pada pembuka tahun, membuatnya merasa seluruh dunia menyambut kelahirannya. Begitupun hari itu, hari di mana ia bertemu dengan 4 bocah berumur 9 tahun yang sangat menggemaskan.

Shim Changmin, Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun dan Choi Minho. Mereka adalah teman sekelas, orang tua mereka saling berteman dengan orang tua Sungmin dan Jungmo, maka pada pesta itulah mereka berkenalan, meski pada saat itu Jungmo hanya datang bersama seorang pamannya.

Sungmin merasa senang mendapatkan teman baru, bagaimanapun Jungmo mulai sibuk dengan sekolahnya tapi ada yang berbeda dengan dua di antara mereka. 5 tahun lalu, Sungmin ingat betul ketika dengan polosnya Changmin mengungkapkan perasaanya kepada Sungmin. Awalnya ia ingin tertawa menyaksikan pengakuan bocah berumur 11 tahun itu tapi sadar bahwa akan menyakiti perasaannya Sungmin hanya mampu tersenyum.

Belum selesai keterkejutannya dari sikap Changmin, Kyuhyun tiba-tiba saja datang dan mendorong Changmin hingga terjatuh, Kyuhyun berteriak dan mengatakan bahwa dirinyalah yang lebih dulu menyukai Sungmin. Sejak hari itu selama setahun penuh hidup Sungmin diisi dengan pertengkaran antara Changmin dan Kyuhyun yang memperebutkannya. Sungmin sadar kehadirannnya hanya merusak hubungan Changmin dan Kyuhyun, bahkan Jonghyun dan Minho membencinya karena merasa bahwa Sungmin telah memecah belah mereka.

Maka ketika orang tuanya mengatakan bahwa mereka akan pindah ke Jepang, Sungmin langsung menyetujuinya, menghiraukan rengekan Jungmo yang mencegahnya pergi. Ia ingin mengembalikan semuanya seperti semula, maka ia pergi tanpa memberitahukan kepada keempat bocah itu. Sungmin hanya berkata bahwa ia akan sekolah di luar negeri, hanya Jungmo lah yang tetap bersamanya, hingga saat ini.

Sungmin tak pernah lagi mengetahui kabar ke empatnya, mereka tak pernah lagi bertemu, meski sebenarnya ia sangat ingin. Sungmin duduk di ranjang milik Jungmo, di sampingnya terdapat nakas dengan beberapa bingkai foto. Ada foto Jungmo kecil bersama orang tuanya, Jungmo dan dirinya, juga Jungmo dan keempat bocah itu. Sungmin memutuskan mengambil figura terakhir yang tersentuhnya.

Foto itu, foto yang di ambilnya beberapa tahun silam, sebelum semuanya menjadi kacau, hanya ada Jungmo dan keempat bocah itu, bocah-bocah kesayangan Sungmin, “Changminnie…” Sungmin mengelus gambar seorang anak laki-laki yang paling tinggi, “Kyunnie…” katanya sedikit tercekat, menyadari betapa dekatnya hubungan antara Changmin dan Kyuhyun saat itu. Hati kecilnya bertanya, apakah kini keduanya sudah kembali akur seperti sebelumnya, entahlah.

“Jonghyun-ah Minho-ah apa kalian masih membenci Hyung?” tanyanya entah pada siapa, “Apa kabar kalian semua, Hyung merindukan kalian…” lirihnya.

Kenyataannya meskipun Sungmin terlihat menghindari mereka, sebenarnya ia berharap dapat bertemu mereka lagi, suatu hari nanti.

TBC

Advertisements