Tags

, , , , , , , , , , , , ,

BtyrQqJCIAMH6eL.jpg large

“Anak tidak tahu diuntung!”

Seorang wanita paruh baya terlihat sedang memukul pria muda bermata musang yang mirip dengannya, di samping kirinya terlihat pemandangan yang sama, sementara di samping kanannya pria tua sedang menendang dan memukuli anaknya. Siapapun yang berada di dalam ruangan itu pasti akan berpikir bahwa, ‘Anak-anak itu pasti memukul karena terbiasa dipukul’.

“Kangin!”

Yeonhee berlarian memeluk seorang pria muda yang tengah menatap ngeri teman-temannya, pandangan Kangin berubah kalut, ibunya tengah menciumi dan memeluk erat dirinya, mengalirkan rasa nyaman, aman sekaligus rasa takut yang luar biasa.

“Kim Youngwoon.”

Ruang kunjungan itu mendadak sepi kala seorang pengusaha besar Kim Youngmin memasuki ruang tersebut seraya memanggil sebuah nama yang diyakini sebagai salah seorang anggota kerabatnya. Youngmin berdiri tegak dengan tangan terkepal dan ekspresi wajahnya yang keras, Kangin tahu betul bahwa pria yang menjadi ayahnya itu kini tengah marah besar, maka dari itu ia hanya bisa menunduk, menunduk dalam diam di samping ibunya, seolah mencari perlindungan dari sang indung.

BUK!

“Kangin!”

Yeonhee berteriak histeris saat Youngmin memukul wajah Kangin yang tengah dirangkulnya dengan sangat keras, ngilu terasa di hatinya meski bukan ia yang dicederai Youngmin. “Kau dan Jongwoon tak ada beda, sama-sama tidak disiplin!” ujar Youngmin pelan, namun dengan nada yang dingin.

“Kangin-ah gwaenchanayo?” tanya Yeonhee khawatir, tangan mungilnya mengusap pipi tembam Kangin yang memerah dengan bekas cetakan tangan ayahnya, “Ya Tuhan!” Yeonhee menutup mulutnya demi menahan isakan.

“Berikan hukuman yang setimpal untuk anak nakal ini, aku tidak akan menyewakan pengacara untuknya!”

Yeonhee menatap Youngmin, nanar. Bagaimana bisa Youngmin mengabaikan anaknya dalam keadaan segenting ini, “Kajja, sudah cukup waktu untuk menjenguknya!” Youngmin menarik tubuh Yeonhee, Yeonhee ingin sekali menolaknya tapi ia tak mungkin berteriak dan membuat keadaan semakin runyam. Maka ia hanya pasrah sembari melihat wajah Kangin yang memelas memohon bantuannya.

.

.

.

Henry and Hyungs Part 3

Cast: Super Junior OT15, Kim Youngmin, Zhang Liyin, Lee Yeonhee and others.

Genre: Drama, Family, Brothership

Rating: PG-13

Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya, FF ini hasil ‘plot bunny’ saya.

Summary: Henry adalah seorang anak yang terpisah dari ayah dan saudara-saudaranya, apa yang terjadi saat ia datang ke kehidupan keluarganya yang penuh masalah dan menolak kehadirannya?

Warning: akan ada beberapa karakter yang OOC, mild-language dan multiple partners (BL and Straight)

©SnowBumKyuDevil proudly presents

.

.

.

Drap… Drap… Drap…

Liyin menuruni tangga dengan tergesa, Henry pun sama, ia terus menyamai langkah sang ibu yang sudah lari jauh sebelumnya, “Mom tell me please, I need my violin for Godsake!” katanya keras kepala.

“No Henry! No! I don’t know where your violin!”

Liyin berusaha menenangkan dirinya, beberapa anaknya tengah menontonnya saat ini, bagaimanapun Liyin tak ingin menambah kacau suasana rumah yang tengah heboh karena Kangin.

“Appa trow your biolin, last night!” kata Donghae setelah berusaha mengingat-ngingat kosa kata yang ia ketahui, meskipun tak sempurna tapi sepertinya Henry mengerti betul apa yang dikatakan oleh kakak tirinya.

“NO! WHERE IT IS? DADDY CAN’T THROW MY VIOLIN!” pekik Henry kesal.

BRAK!

Youngmin membanting pintu dengan keras, wajahnya benar-benar mengerikan, di lihat dari segi manapun ekspresi tak bersahabatnya benar-benar membuat bulu kudukmu merinding, wajar saja perhatian seluruh orang beralih ke arahnya, “Who says I can’t get rid of that thing?” tanya Youngmin seraya berjalan menghampiri Henry yang tengah berdiri di tengah anak tangga. Putra Kim saling berbisik, mencoba menerka-nerka apa yang tengah dibicarakan sang ayah.

“Okay, Mr. Kim. Arraseumnida.”

Henry berbalik arah hendak kembali ke kamarnya. Ucapannya memanggil Youngmin dengan cara yang tak sopan tentu saja semakin membuahkan pertanyaan di benak saudara-saudaranya.

“Apa hanya aku yang merasa janggal?” gumam Kyuhyun seraya melempar pandangannya ke arah Kibum.

.

.

.

“Hyung~” Donghae merengek saat putra sulung Kim kembali mengabaikannya, “Kenapa kau tak mau menghibur umma?”

“Hae,” Leeteuk menutup bukunya, “Bagaimana kau bisa tahu bahwa appa membuang biola Henry?” tanyanya seraya membuka kacamata minusnya.

“Ck… Hyungnim aku sedang membicarakan umma yang tengah sedih karena ulah Kangin hyung bukan masalah appa membuang biola Henry! Mengertilah Hyung bahwa umma dan appa berbeda, bahwa Kangin dan Henry jelas sangat jauuuh berbeda, lalu kenapa kau malah memprioritaskan mas-”

“Masalahnya adalah appa begitu menyayangi bocah itu, kecuali tentang biola.” Leeteuk memotong, Donghae tampak mengerutkan keningnya, “Ryeowook bermain piano, Sungmin dengan gitarnya dan bahkan Siwon meletakkan sebuah drum di kamarnya!”

Donghae mengangguk, “Biola jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan 3 alat musik yang ada di rumah ini, kenapa tidak menyingkirkan drum saja yang jelas-jelas sering membuat Siwon dan Zhoumi bertengkar?”

“Dan bagaimana bisa ia mengubah panggilan ‘Daddy’ menjadi ‘Mr. Kim’ di saat appa benar-benar marah padanya?” tanya Leeteuk lagi, “Atau mungkin dialah yang marah pada appa?” tambahnya.

Pembicaraan itu terus berlangsung hingga mereka lupa tentang Kangin yang kini di penjara, juga tentang ibu mereka yang kini tengah bersedih di dalam kamarnya. Seolah tanpa disadari mereka mulai menaruh perhatian pada si bungsu.

.

.

.

“Hai Zhou~”

Seorang gadis bertubuh ramping bergelayut manja seraya mencium bibir tipis milik Zhoumi, gincu merah pekatnya tertempel dengan jelas di tepian bibir Zhoumi, dengan lembut jemari lentik gadis Cina itu mengusap noda tersebut, “Kau terlihat kusut sekali Zhou?” tanyanya.

“Moli, bisakah kau buatkanku teh hijau?” pinta Zhoumi seraya melepaskan pelukan erat gadisnya.

Moli mengangguk patuh, ia segera pergi ke dapurnya dan menyiapkan minuman untuk kekasihnya, Zhoumi memilih duduk di meja makan sendirian, tentu saja karena kondominium tersebut hanya dihuni oleh Moli seorang diri.

“Apa kau mau menginap Zhou?” tanya gadis yang beberapa bulan lebih tua dari Zhoumi itu, “Aku kesepian di sini!” rengeknya, segera ia memeluk Zhoumi dari belakang setelah menyuguhkan teh panas buatannya, lalu mengusap-ngusap pipi Zhoumi dengan sangat lembut.

“Rumahku semakin ramai,” Zhoumi memulai ceritanya membuat Moli menghentikan kegiatannya dan duduk di seberang Zhoumi, “Ibu yang telah mengandungku, melahirkanku sekaligus menelantarkanku telah kembali…” Zhoumi menggantungkan kalimatnya, menyesap minuman yang tersaji di hadapannya.

“Eum… dia juga datang?” tanya Moli yang penasaran.

“Tentu saja.” Zhoumi tersenyum hambar, “Aku bisa berpura-pura manis di telepon tapi tidak di hadapannya.”

“Kau membencinya padahal dia tak mengetahui apapun.” Moli menatap Zhoumi

“Siapa yang tahu? Ibuku suka mendongeng, bisa saja ia bernyanyi dihadapan bocah itu!”

Zhoumi memutar-mutar telunjuknya di pinggiran atas cangkirnya.

Moli menghela napas, “Kau tidak sepantasnya menaruh curiga pada ibu kandungmu sendiri!”

“Yeonhee umma lebih mirip ibu kandungku dari padanya-”

“Zhou!” Moli memotong, “Berapa tahunpun yang dilalui olehmu bersama dengan ibu tirimu di dunia ini takkan pernah sama dengan yang pernah kau lalui di dalam kandungan ibu biologismu!”

Zhoumi tertawa sinis, “Kau berbicara seolah kau tidak pernah mengalami hal yang serupa, putri yang terbuang.”

Zhoumi berucap datar, tapi sedatar apapun nada bicaranya tetap saja kalimat tersebut terasa menohok di batin gadis yang menjalani hubungan tanpa status dengannya itu.

Malam semakin larut, Zhoumi memutuskan untuk menginap di kondominium milik gadis bermarga Chen itu, tidak peduli dengan masalah yang sedang terjadi di rumah. Toh saudara-saudaranya yang lain juga sudah terbiasa dengan kenakalan Kangin, hanya saja biasanya sang ayah akan menyogok para tikus-tikus hukum dan membiarkan Kangin menghirup udara bebas. Mungkin untuk kali ini kesabaran ayah mereka telah habis.

Kesabaran memang tak berbatas, manusia lah yang membatasinya atas nama emosi, lelah dan sakit hati, Youngmin nampaknya berada dalam opsi pertama dan kedua. Kangin bukan kali pertama melakukan kenakalan seperti ini, dulu di umurnya yang ke 10 tahun ia memaksa Leeeteuk mengajarinya naik motor, Youngmin sendiri tidak tahu bahwa Leeteuk bisa mengendarai motor, sialnya motor yang di kendarai Kangin menabrak seekor anjing milik seorang pengusaha sepatu. Beruntungnya Youngmin bisa menemukan anjing dari ras yang sama untuk menghibur hati si pengusaha sepatu itu.

Lalu saat umur 15 tahun Kangin membuat Kepala Sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah penyakit jantungnya kumat karena Kangin. Kangin dengan polosnya malah berkata, ‘Aku hanya menghapus daftar keuangan dari komputernya, Appa.’ Kangin memang nakal tapi ia bukan satu-satunya yang nakal, hanya saja ia tak pernah berhasil menutupi kenakalannya.

.

.

.

“Kibummie~”

Kyuhyun masuk begitu saja ke kamar RyeoBum, Ryeowook sudah tidur sejak tadi sementara Kibum masih asik membaca buku tentang teori fisika dan kimia yang Kyuhyun saja malas melihatnya, “Ayo ke sana!” Kyuhyun kembali keluar dengan kedua tangan yang terkantung di saku celananya.

Kibum menutup buku dan melepas kacamatanya, dengan malas ia mengikuti Kyuhyun ke basement rumah mereka, di mana hanya ada tempat bermain billiard di sana. Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain, Kyuhyun dan Kibum lebih sering datang ke tempat ini di malam hari untuk kemudian berdiskusi tentang pemikiran mereka yang biasanya tak jauh berbeda.

“Aku tahu Kibummie, kau merahasiakan sesuatu dariku!” ujar Kyuhyun dengan tatapan mengintimidasi, Kyuhyun memanggil semua kakaknya dengan formal tapi untuk Kibum terkadang ia bersikap seolah dialah kakaknya.

“Rahasia apa?”

Kibum mulai mengambil stik billiard, berniat memainkannya sebentar.

“Henry-ssi, kau tahu sesuatu tentangnya tapi kau menyembunyikannya?” Kibum mengangkat sebelah alisnya, berpikir bagaimana mungkin adik satu-satunya itu bisa berpikir demikian, “Apa yang kau ketahui?”

“Menurutmu?” Kibum balik bertanya, Kyuhyun merebut stik yang dipegangnya, menatap oniks kelam kakaknya, “Kau… terlalu dekat…” Kyuhyun menyeringai mendapati Kibum yang memerah dalam kegugupannya.

“Sorry~” Kyuhyun mundur selangkah, membiarkan ada sedikit jarak di antara keduanya.

“Anak itu bisa bahasa Korea.” Kibum berujar datar, Kyuhyun melongo mendengarnya, “Bukan karena aku mengajarinya tapi karena hal lain yang aku juga tidak tahu apa.” sambung Kibum yang menyadari keheranan sang adik.

“Dia memberitahumu?”

“Bodoh! Mana ada penipu yang memberitahu kebohongannya!” Kibum mengambil sebotol air di lemari pendingin di sudut ruangan, “Aku tidak sengaja melihat jurnalnya, jurnal luar biasa yang ditulis dalam setidaknya 5 atau 7 bahasa termasuk hanggul!” Kibum tersenyum sangat manis, kemudian meneguk orang juice miliknya.

D*mn! Berapa banyak ia menguping pembicaraanku selama ini!”

Kyuhyun menonjok tembok dengan kasarnya, tak peduli akan terjadi memar setelahnya. Dalam pikirannya sekarang hanya tertulis satu kalimat, ‘Tamatlah riwayatmu Kyu!’

.

.

.

Suasana sarapan pagi ini benar-benar suram, Youngmin pergi pagi-pagi sekali setelah meneguk kopinya. Yeonhee juga tak menghabiskan sarapannya, ia terlalu sibuk memikirkan apa yang di makan Kangin pagi ini. Leeteuk sadar bahwa malam tadi Zhoumi dan Sungmin tak pulang ke rumah, keduanya pamit setelah melihat keributan di rumah. Sebenarnya Leeteuk dan yang lainnya juga pasti ingin sekali pergi tapi apa boleh buat, sebanyak apapun mereka, ayahnya pasti hapal siapa-saiap saja yang pergi, dan tentu saja anak-anak itu tak mau menambah kekacauan.

“Kemana playboy flamboyan itu?” tanya Leeteuk saat ia bersama Heechul dan Hankyung pergi ke kampus mereka.

“Dia tidak bilang padaku.” jawab Hankyung sekenanya, dia sedang sibuk membaca materi kuliahnya, takut-takut dosen yang hobi ‘menyiksa’ mahasiswanya itu mengadakan tes dadakan.

“Tanya saja pada kembar beda rahimnya!” kata Heechul santai.

Ya itu adalah ejekan di antara putra Kim kepada Siwon dan Zhoumi, bagaimana tidak keduanya punya wajah yang sangat mirip meskipun terlahir dari rahim yang berbeda, justru anak-anak kembar dalam keluarganya terlahir dalam keadaan ‘kembar tidak identik’ yang menjadikan mereka sama sekali tak mirip dari segi fisik.

“Siwon paling-paling hanya menjawab, ‘Oh Hyung kurasa dia pergi dengan pacarnya’ yang bahkan dia tidak tahu Zhoumi pergi dengan pacarnya atau tidak!” sahut Hankyung mengejek.

“Hahaha~ tapi jika Zhoumi pergi memang tidak pernah jauh-jauh dari urusan kencankan?” tanya Leeteuk, ikut mengejek, tawa ketiganya pecah seketika.

Sebenarnya ini sungguh bukan sesuatu yang lucu, ketiganya hanya berusaha melupakan masalah di rumah, masalah yang bahkan tak pernah mereka lakukan.

Lalu sekarang tengoklah anak lainnya yang tak pulang semalam, ia sedang tertidur pulas kini, bukan dalam rasa nyaman seperti yang diharapkannya saat ia pergi dari rumah melainkan rasa lelah luar biasa.

Semalaman ia berkeluh kesah di hadapan Lee Shinyoung, seorang gadis yang di sukainya sejak duduk di bangku sekolah menengah, gadis berwajah boneka berotak cerdas yang juga seorang kapten tim basket wanita. Gadis yang tak pernah lagi menyahuti perkataan sejak 3 tahun 2 bulan ini, gadis yang tak pernah lagi membuka matanya sejak 3 tahun 1 bulan ini, juga gadis yang telah ia lukai selama 3 tahun 5 bulan ini. Dan Sungmin entah bagaimana caranya hapal hari-hari itu, hari kelam yang penuh dengan penderitaan, hari yang bahkan membuatnya menjadi berubah menjadi seorang yang tertutup. Kyuhyun bahkan dengan sinis menyebutnya ‘Kim Kibum kedua’.

Walau waktu telah berlalu, Sungmin malah semakin sulit melupakan semua yang pernah terjadi, tentang cinta pertamanya, tentang ciuman pertamanya, tentang pengkhianatannya dan segala hal tentang kekasihnya.

“Eungh~”

Lenguhan terdengar dari bibir pria penggila merah muda itu, melirik jam yang melingkar di tangannya sejenak, ia sadar bahwa ia sudah meninggalkan kelasnya lagi. Tapi ia malah tersenyum dengan sangat manisnya, “Good morning Shin~” tangan Sungmin membelai lembut tipis Shin yang sedikit lepek karena jarang dicuci lalu mencium keningnya dengan begitu lembut, “Aku akan pergi ke kampus sekarang, semoga harimu indah Shin!” katanya dalam nada bersemangat. Ya Kim Sungmin ingat jam 11 siang nanti ada tes, ia tidak mau memperlambat kuliahnya karena terus terang saja berada hanya satu semester di atas Kibum saja sudah sangat memalukan.

.

.

.

I’m walkin’ to the day, I’m walkin’ to the day (eh eh eh eh)
(Wo~) I’m walkin’ to the day (Wo~) I’m walkin’ to the day (eheh eh eh)

Georeummada meoreojyeo geumankeum meollimeolli geotdaga hanbeonjjeum
Balgire neomeojimyeon na dasigeum teolmyeon dwae (eh eh eh)
Achimen ichyeojineun kkummankeum jakkujakku ichyeojyeo gal sungandeul
Jigeumui geuriumdo I apeumdo modu

Godoen mideumgwa chakgak neomeo pyeolchyeojin I gireun meoreo boyeodo

I’m walkin’ nopeun eondeongmaru I’m walkin’ nalgeun undonghwaro
I’m walkin’ maeil geotgetji naneun eonjekkaji naneun eonjekkajina
One Step neorbeun paranhaneul One Step meolli boineun kkeut
I’m walkin’ naeil dake doel geogin eodikkaji geogin eodikkajilkka

Kedatangan Sungmin di Sungkyukwan disambut dengan teriakan riuh dari para gadis-gadis centil di kampusnya, Sungmin bergidik ngeri memperhatikan mereka berteriak “Oppa~ Oppa~” sembari membawa hand banner bertuliskan EunHae.

Oh iya tentu saja itu bukan untuk Kim Sungmin, mana ada yang nekat melakukan fangirling pada pria ahli bela diri yang anti sosial sepertinya, menatapnya saja mereka takut. Tapi cobalah lihat siapa yang sedang membius para gadis itu, Sungmin mengernyitkan matanya, Kim Donghae dan Kim Hyukjae, si kembar kedua Kim yang hiperaktif dan berisik.

“Ck.”

Sungmin berdecak, bagaimana bisa keduanya sibuk tebar pesona di saat kakak mereka di dalam penjara dan ibu mereka bersedih. Huh Sungmin memangnya apa yang kau lakukan, kau sendiri malah melarikan diri semalam, apa itu lebih baik?

“Oppa~”

“Oppa~”

Entah sejak kapan mereka mengubah lagu mereka, dari lagu berirama reggae menjadi… entahlah Sungmin merasa telinganya sakit mendengar lagu dengan lirik tidak jelas itu.

Naega tteotda hamyeon da wechyeo, oppa, oppa…

Tokyo, London, New York, Paris, oppa, oppa…

I’m so cool, i’m so cool, party like a superstar!

I ppeuni deul da moyeora tteotda, oppa, oppa

“Ih bahkan dia tidak bisa membaca Paris dengan benar, dasar memalukan!”

Sungmin berlalu meninggalkan konser tidak bermutu yang di lakukan kedua adiknya. Sementara Donghae dan Hyukjae terus bernyanyi hingga coklat dan bunga yang di berikan gadis-gadis itu menumpuk di halaman.

“Ah sudah ya, aku dan Hyukjae sudah sangat lelah, lain kali kita lanjutkan lagi EunHae mini showcasenya ya!” kata Donghae sembari memberikan flying kiss kepada gadis-gadis yang merasa kecewa itu.

Ani! Lain kali kami akan mengadakan konser!” goda Eunhyuk membuat mereka menjerit senang.

Kakak-beradik yang dijuluki Fishy Twins oleh Zhoumi itu memunguti coklat dan bunga yang berserakan, “Ah benar-benar melelahkan~” Eunhyuk mengusap peluhnya.

“Tadi katamu kau akan mengadakan konser, dasar bodoh!” Donghae menatapnya sengit.

“Taruhan denganku berapa banyak bunga atas namamu dan coklat atas namaku!” kata Eunhyuk sembari mengintip bingkisan coklat atas namanya.

“Yang kalah harus mengencani 3 mantan Leeteuk hyung atau Zhoumi!” sahut Donghae tak mau kalah.

“Oke!”

Eunhyuk menjabat tangan Donghae, konyol memang tapi begitulah, keduanya memang hobi taruhan, bahkan mereka beberapakali menjadikan Kibum dan Kyuhyun sebagai taruhan saat mereka kecil. Benar-benar konyol bukan?

.

.

.

“Joongie~ saranghae~

Nado Wonnie~”

Krek~

D*mn!’

Kibum dengan cepat menyembunyikan dirinya di balik pohon besar, berharap tak ada siapapun yang mengetahui keberadaannya.

“Oh goyangi~”

Jaejoong berlari dan menggendong seekor kucing liar yang terlihat bersih dan manis, Kibum menghela napas lega karenanya, “Kyeopta~” puji Jaejoong dengan mata yang berbinar.

“Kau bahkan lebih manis darinya Jae!” sanggah Siwon membuat Jaejoong merona malu.

Babo! Tentu saja jauh lebih manis kucing ini!” protesnya dengan bibir terkerucut, walau begitu hatinya tetap berdesir malu karenanya.

“Aih~ aih~ manisnya~ aku jadi ingin menciummu lagi Jae!”

Siwon memeluk pinggang Jaejoong dan mendekatkan jarak di antara keduanya, sayangnya Jaejoong memilih mengalihkan perhatiannya kepada kucing liar temuannya.

“Kau ingin memeliharanya Jae?” tanya Siwon yang menyadari betapa senangnya Jaejoong melihat kucing tersebut.

“Ayahku benci hewan Won, aku tak akan mungkin membawanya pulang meskipun aku ingin…”

Jaejoong menunduk dan memasang ekspresi sedih yang pastinya membuat Siwon tak tega.

“Aku juga tak mungkin membawanya pulang, tapi aku yakin kucing ini akan tinggal di sini!” kata Siwon yakin.

“Bagaimana caranya?” Jaejoong menatap Siwon bingung.

“Kita beri dia makan, kucing itu sekali saja mendapat makan dari seseorang dia akan langsung menjadikan orang itu majikannya, dia akan ingat dengan wajah kita Jae!”

Jaejoong menatap takjub Siwon, berpikir bagaimana Siwon tau tentang hal seperti itu, “Dan ini,” Siwon melepaskan gelang hitam berbahan kulit miliknya dan melilitkannya ke leher kucing berbulu abu-abu itu, “Ini adalah tanda bahwa kucing ini milik kita!”

Senyum Jaejoong terkembang, “Dan namanya adalah Jiji, othe?” tanyany meminta pendapat.

“Itu adalah nama yang sangat bagus!” sahut Siwon sembari tersenyum hangat.

Di balik pohon itu seorang Kibum tengah mengepalkan tangannya dan menahan bulir air mata yang bisa saja terjatuh sewaktu-waktu, “Brengsek kau Hyung!” umpatnya, tangan kanannya mengusap air matanya yang telah berhasil lolos sementara tangan kirinya terkepal main kencang, di tangan yang terkepal itu, sebuah gelang berwarna cokelat yang sama persis dengan milik Siwon terlingkar.

TBC

Advertisements