Tags

, , , , ,

BuNeHQHCIAATcT4.jpg large

Cast: Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin and others

Genre: Fluff, Romance

Rating: PG13

Disclaimer: Semuanya punya Tuhan, tetapi alur cerita ini milik saya dan Kibum akan segera jadi suami saya #evillaugh

.

.

.

Sabtu malam di Yonsei 100th Memorial Hall, akhirnya setelah berkeliling jalanan Seoul yang cukup padat, Kyuhyun dan Kibum telah sampai, seperti biasanya dengan motor bebek milik Kyuhyun.

“Kajja kajja!” Kibum berseru.

Helm biru miliknya diberikan kepada Kyuhyun untuk disimpan, keduanya berjalan ke area gedung tersebut. Tampak beberapa pasang muda-mudi yang juga baru sampai, mereka telihat begitu serasi dengan tuxedo yang di kenakan para pemuda dan gaun yang dikenakan para pemudi. Jelas jauh berbeda dengan Kyuhyun dan Kibum yang datang dengan pakaian ala remaja yang ingin menyaksikan film terbaru di bioskop.

“Ck apa-apaan itu, menghadiri konser saja sudah seperti mau menghadiri pernikahan!” umpat Kibum seraya menatap sinis sekitarnya.

“Heh norak! Yang salah kostum itu kita berdua, kenapa jadi situ yang sewot?” tegur Kyuhyun, malu.

Kibum cuek saja lalu menyeret Kyuhyun masuk, berhubung ini adalah konser ekslusif, jadi tak banyak orang yang datang, tiketnya di jual secara terbatas untuk 100 orang dengan konsep teater.

“Di sini!”

Kibum membandingkan nomor kursi dengan yang tertera di tiketnya, D4 dan D5.

“Ayo!” Kyuhyun baru saja akan duduk di kursi D4 ketika Kibum melototinya sembari memanyunkan bibirnya, “Wae?”

“Aku yang duduk di sini, kau duduk di sana!”

Kibum menunjuk kursi D5 yang berada persis di samping tangga, membuat Kyuhyun menghela napas, meratapi kesialan nasibnya, namanya juga nonton gratisan, jadi yang bisa dilakukannya hanya pasrah saja.

Tak jauh dari sana terlihat sepasang pria –jika mereka masih bisa disebut pasangan, tampak mencari tempat duduk mereka, mereka tampak gagah dengan tuxedo putih dan hitam yang mereka kenakan, “Sepertinya di sana!” kata si tuxedo putih yang kemudian berjalan terlebih dahulu, si tuxedo hitam hanya mengangguk dan mengikutinya.

“Ini area D kan?” si tuxedo putih yang rupanya Siwon bertanya pada pria yang tengah sibuk menatap layar ponselnya.

“Ye, oh?”

Kyuhyun yang baru saja menjawab, memperhatikan wajah tampan Siwon, begitupun Siwon, keduanya saling menatap dalam diam, eh tapi ini tidak seperti adegan di film di mana keduanya akan langsung jatuh cinta setelahnya. Nampaknya ada hal lain yang di rasa janggal oleh keduanya.

“Kyu!”

“Siwon!”

Kibum dan Sungmin menegur keduanya secara bergantian, yang di tegur malah menoleh ke arah Kibum, Kyuhyun tentu saja kesal karena teguran Kibum sementara Siwon malah senang, sudah nyaris 3 bulan sejak pertemuan pertama mereka di kampus, keduanya tak pernah lagi bertemu lantaran beda fakultas.

“Yaa!”

Sungmin mencubit pinggang Siwon sesaat setelah menyadari tatapan genit kekasihnya, “Cepat duduk, konsernya sudah mau dimulai!” katanya seraya mendorong tubuh Siwon, Siwon dengan enaknya duduk di samping Kibum, bocah itu nampaknya tak sadar pernah bertemu dengan Siwon sebelumnya. Lain halnya dengan Kyuhyun yang sadar betul dengan pertemuan keduanya dengan si senior genit itu.

“Kau suka dengan 4Men?”

Siwon berbisik tepat di samping Kibum, Kibum menoleh dan memberikan tatapan bingungnya, masih bisa ia melihat si tuxedo hitam yang tengah terbius penampilan tiga pria bersuara emas seperti Kyuhyun juga penonton lainnya.

“…”

Kibum menggeleng, ia bingung harus menjawab apa, sepertinya tak baik berbicara di suasana konser balada seperti ini.

“Aku juga tidak suka, aku hanya menemani temanku saja!”

Siwon melirik Sungmin dengan ekor matanya lalu kembali melihat wajah polos Kibum yang sangat manis. Kibum hari ini mengenakan jeans panjang serta kaos Snoopy hitam berelangan pendek, poninya yang dibiarkan menutupi dahinya menambahkan kesan imut di wajahnya. Kim Kibum benar-benar uke yang menggemaskan dan cocok sekali dengan tipe Siwon.

“Ngomong-ngomong kau ini siapa?”

Kibum akhirnya mengeluarkan suaranya walau pelan, tapi sepertinya Kyuhyun mendengarnya, dengan tangan kirinya ia menutupi mulutnya demi menahan tawa atas pertanyaan polos yang di lontarkan oleh Kibum kepada senior malang itu.

Siwon menggaruk kepalanya, “Aku-“

PROK… PROK… PROK…

Siwon tersenyum hambar saat kata-katanya terpotong oleh tepuk tangan para penonton, ia dan juga Kibum terpaksa ikut berdiri dan bertepuk tangan bersama yang lainnya. Tidak terasa 2 jam sudah terlewati sejak konser itu di mulai.

“Daebak!” puji Sungmin yang kemudian tersenyum ke arah Siwon, Siwon balas tersenyum ke arah Sungmin meskipun sebenarnya Siwon lebih menikmati wajah Kibum ketimbang kensernya.

“Ah bagaimana kalau kita makan dulu, kalian juga ikut!” Siwon dengan percaya diri berlebihnya itu mengajak Kyuhyun dan Kibum yang bahkan belum ia ketahui namanya.

Sungmin mengernyit aneh, “Kau kenal dengan mereka?” tanya Sungmin heran.

“Kayaknya ngga kenal deh.” gumam Kibum yang untungnya hanya bisa di dengar oleh Kyuhyun.

“Mereka ini junior kita di Universitas Seoul!” jelas Siwon.

‘Oh jadi sunbaenim ini sekolah di sana juga ya?’ batin Kibum mengerti.

“Ya sudah, tapi kau tanya dulu apa mereka mau ikut atau tidak!” kata Sungmin yang rupanya lebih punya perasaan mementingkan orang lain ketimbang Siwon.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita makan bersama!” jawab Kibum mendahului Kyuhyun yang sedianya ingin menolak ajakan itu.

Siwon tersenyum puas, ia berjalan terlebih dahulu dan mengatakan bahwa mereka akan makan di restoran yang berada tak jauh dari gedung ini.

“Heh kenapa main bilang mau aja?” Kyuhyun menahan Kibum.

“Kau belum masak hari ini dan aku sudah lapar!” kata Kibum tidak tahu diri.

“Ck!” Kyuhyun memukul kepala Kibum membuat sahabatnya itu mengaduh kesakitan, “Kan kita bisa beli makanan sendiri!”

“Mereka senior kita Kyu, mengertilah bahwa kita tidak boleh bertindak tidak sopan pada senior sendiri!” Kibum menceramahi, Kyuhyun mendengus kesal dan meninggalkan Kibum yang masih terus menceramahinya.

.

.

.

Sampai di tempat parkir, Kyuhyun dan Kibum berpencar dari Siwon dan Sungmin, sebenarnya Siwon menawari keduanya ikut mobil mereka tapi mau di kemanakan motor kesayangan Kyuhyun. Lagi pula Kyuhyun punya rencana membawa Kibum pulang. Tapi rencana tinggal rencana, mereka tetap menyambangi restoran yang sudah dibook untuk 4 orang oleh Siwon, Kyuhyun sepanjang jalan sudah habis direngeki oleh Kibum jadi dengan sangat terpaksanya ia mengikuti permintaan Kibum untuk ikut makan di sana.

“Ini pertama kalinya aku makan di restoran mewah di Seoul!”

Mata Kibum berbinar, Kyuhyun menatapnya jengah, bagaimana bisa seorang kaya raya sepertinya, begitu norak saat menginjakan kakiknya di restoran mewah ibu kota.

“Udah… cukup terpukaunya, ngga usah norak deh!”

Kyuhyun menoyor belakang kepala Kibum lalu berjalan mendahulinya, Kibum yang sadar langsung mengekorinya sembari menggerutu kesal karena tingkah kurang ajar sahabatnya.

“Hei! Ayo silahkan duduk!”

Siwon melambaikan tangannya dan mempersilahkan kedua juniornya duduk, Kibum mengangguk senang dan langsung duduk di hadapan Sungmin, Kyuhyun menyusul untuk duduk di sampingnya, Siwon nampaknya kecewa karena malah Kyuhyun yang duduk di hadapannya.

Keempatnya saling melempar pandangan dan senyuman canggung, hingga tak lama kemudian seorang pelayan memberikan 2 buku menu kepada mereka, Kyuhyun dan Kibum langsung sibuk melihat menu apa saja yang tersaji di restoran itu sementara Sungmin dan Siwon dengan cepat memilih menu makanan dan minuman yang mereka inginkan. Diam-diam Kyuhyun menyimpulkan bahwa keduanya pastilah sering datang ke tempat makan yang kelewat mewah ini.

By the way, aku belum mengenal kalian, aku Lee Sungmin murid semester 5 fakultasIlmu Komunikasi, bagimana dengan kalian?”

Sungmin memulai pembicaraan setelah si pelayan pergi, si gigi kelinci itu rupanya seorang yang ramah.

“Aku Kim Kibum murid semester 1 dari fakultas Seni, sunbaenim!” jawab Kibum dengan semangat

Ia selalu bangga menjadi murid fakultas seni, karena sejak SMA semua orang selalu menuntutnya untuk menjadi penerus perusahaan layaknya sang kakak, tentu saja Kibum tidak mau.

“Cho Kyuhyun imnida, aku mengambil fakultas Bisnis dan Manajemen.” Kyuhyun menyahut, datar.

“Oh.” Sungmin menganggukan kepalanya, “Bagaimana caranya kalian kenal Siwon?” tanya Sungmin lagi, makin tidak mengerti bagaimana bisa Siwon mengenal junior yang beda fakultas dengannya, sembari diam-diam meneliti paras Kyuhyun, barangkali kekasihnya itu mulai genit lagi.

“Eh?” Kibum mengerjapkan kedua matanya polos, “Anou,” Kibum melirik Siwon dan Kyuhyun bergantian, bingung harus menjawab apa.

“Kita pernah bertemu dengan Siwon sunbaenim tempo dulu, di kampus!” kata Kyuhyun menjelaskan pada Kibum, “Maaf ya, Kibum memang pelupa, bahkan walau melihat wajah orang asing selama 1 jam kalau tidak saling berbicara, dia tidak akan ingat!” kali ini Kyuhyun menjelaskan kepada kedua seniornya, Kibum cemberut kesal saat disebut pelupa, tapi mau protes pun memang yang di katakana Kyuhyun itu benar.

“Oh hahaha ada-ada saja!” tawa Sungmin membuat Kibum semakin malu, Siwon juga nampaknya malu karena rupanya Kibum sama sekali tak mengingatnya.

“Kalau begitu mulai sekarang kalian harus mengingatku, aku adalah Choi Siwon, murid semester 5 fakultas Ilmu Komunikasi!” kata Siwon tegas.

“Kalau ngga kalian hapalin aja DJ Andrew, dia itu suka bawain acara radio kampus kita!” Sungmin menyarankan.

Kyuhyun mati-matian menahan tawa, pasalnya nyaris setiap hari ia memergoki Kibum mendengarkan siaran radio yang dibawakan DJ Andrew tersebut.

“Oh jadi DJ Andrew dan Siwon sunbaenim itu sama saja ya?” Kibum bertanya dengan polosnya, Siwon tersenyum kaku, Sungmin menutup mulutnya menahan tawa sementara Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal.

.

.

.

Sungmin bertemu dengannya lagi, oh mungkin sebenarnya sudah sering tapi karena sebelumnya tak pernah saling mengenal jadi mereka tak saling menyapa, tak ada salahnya kalau sekarang ia mulai menyapanya, “Kyuhyun-ssi!” Kyuhyun menoleh dan mendapati pria manis bergigi kelinci itu tengah berdiri di hadapannya, “Boleh aku duduk di sini?” Kyuhyun mengangguk, tak mungkin ia menolaknya meskipun benar ia sedang ingin sendirian.

Sungmin meletakan makanannya dan menatap buku-buku dan makanan Kyuhyun secara bergantian, “Makanlah dulu Kyuhyun-ssi, buku itu takkan lari jika kau tinggal makan sebentar!” nasihatnya seraya mematahkan sumpitnya.

“Ah ne!”

Kyuhyun mematahkan sumpitnya, terpaksa menutup bukunya dan menemani Sungmin makan, bagaimanapun Sungmin adalah seniornya, dan di negeri ini senior harus selalu di hormati, walau terasa asing sekalipun.

“Kau, cantik juga ya Kyuhyun-ssi!” puji Sungmin.

“Uhuk-uhuk!” Kyuhyun tersedak.

Sungmin tersenyum ala Cassanova, sejak makan malam kemarin ia terus memperhatikan Kyuhyun yang duduk di hadapan Siwon, pria itu punya mata bulat dan bibir yang tipis menggoda, jika saja ia mau di dandani pastilah ia tak ada bedanya dengan seorang gadis.

Sunbaenim, apa maksudmu?”

Kyuhyun mengernyitkan alisnya, Sungmin menatap Kyuhyun semakin dalam, tidak, pria ini punya karisma yang begitu kuat, wajahnya mungkin tak bisa dibandingkan dengan Siwonnya yang tampan tapi entah mengapa ada sesuatu yang lain saat ia menatap matanya.

“Maaf!” seru Sungmin saat ia sadar bahwa mungkin bukan Kyuhyun lah yang diinginkan Siwon.

“Ne!” jawab Kyuhyun singkat, masih sedikit tersinggung dengan ucapan Sungmin tentang wajahnya, rasanya lebih baik diejek berwajah tua oleh semua teman SMA-nya ketimbang dipuji cantik oleh seorang yang baru dikenalnya.

“Ehm…” Sungmin meminum jusnya, “Ke mana temanmu?”

“Kami jarang bertemu di kampus!”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke makanannya, masih belum mau ditatap oleh si kelinci yang memujinya cantik itu.

“Oh… lalu bagaimana caranya kalian bertemu?” tanya Sungmin penasaran, ya penasaran karena kalimat Kyuhyun yang terasa janggal.

“Di rumah!” Sungmin nyaris tersedak, matanya membola saat mendengar perkataan Kyuhyun, “Kami sahabat, jangan berpikiran yang tidak-tidak, sunbaenim!”

.

.

.

Sore ini Kibum dan Donghae pergi ke pasar bersama, mereka akan mencari perlengkapan untuk tugas kelompok mereka, satu kelompok terdiri dari 2 orang saja, karena tugasnya memang tidak begitu rumit. Kibum sendiri jadi rebutan gadis-gadis di kelasnya saat pembagian kelompok tadi, untungnya Donghae bisa memaksanya untuk bergabung dengannya saja.

“Kalau hanya berdua tidak seperti tugas kelompok ya, Hae-ya?” tanya Kibum saat memilih kuas yang bagus untuk melukis, Donghae berubah muram, sayangnya Kibum tak menyadarinya karena terlalu sibuk mencari kuas.

“Tapi aku senang Kibum-ah.”

“Ye?”

“Aniya!”

Kibum tersenyum dan melanjutkan pencariannya, sebut Kibum tidak peka, tapi begitulah Kibum, ia terlalu polos dan lurus, sekali dalam hidupnya ia pernah berpacaran dengan Taeri, seorang primadona di SMP-nya tapi itu pun karena Taeri yang menyatakan perasaannya. Kibum sendiri hanya mengatkan “Iya.” demi menyenangkan perasaan Taeri, tapi tak pernah sekalipun ia mengajak gadis itu berkencan atau sekedar mengatakan cinta. Tak pernah.

“Kita akan kerjakan ini di mana Hae-ya?” tanya Kibum pada gadis berkepang dua itu.

“Rumahmu?” tanya Donghae berhati-hati.

“Jangan! Di sana hanya ada aku dan seorang teman priaku, gadis sepertimu tidak baik berkumpul dengan para pria di dalam rumah yang sepi tanpa pengawasan orang tua!”

Donghae manyun, bagi pria Seoul yang lain, rumah yang sepi itu seperti surga tapi Kibum malah melarangnya datang ke sana.

“Ya sudah rumahku saja! Tapi oppaku sangat galak!” kata Donghae memperingatkan.

“Kalau aku baik, ku rasa tidak masalah!”

Kibum tersenyum jahil membuat Donghae meleleh seketika, ah Kim Kibum andai saja kau sadar bahwa senyummu itu benar-benar senyum pembunuh.

.

.

.

“Drowning me so deep~ I just can’t reach my self again, oh you~ successfully tore my heart, now is only pieces~ oh nothing left but pieces of you~”

PROK! PROK! PROK!

Siwon bertepuk tangan bangga, walau hanya mendengar bait terakhir, bukan berarti Siwon tak menyadari betapa indahnya suara seorang Lee Sungmin, “Daebak, Sungmin-ah!” Siwon mengangkat kedua ibu jari tangannya membuat Sungmin tersipu malu.

“Siwon-ah, sejak kapan kau di sana?” Sungmin meletakkan gitar pink kesayangannya.

“Sejak, drowning me so deeeeeppp…” jawab Siwon sembari meniru nyanyian Sungmin dengan suaranya yang pas-pasan.

“Hahaha… baboya! Kemarilah!” Siwon mengangguk, ia menghampiri Sungmin dan memeluknya.

“Tapi, untuk siapa lagu itu?” tanya Siwon saat menyadari arti lirik berbahasa Inggris tersebut.

“Untukmu!” jawab Sungmin yakin, matanya menatap ke dalam bola mata kecoklatan milik Siwon yang begitu tajam. Sungmin tersenyum manis meskipun ada perasaan tak tenang di dalam hatinya, entah karena apa.

“Jangan bercanda seperti itu Minnie-ya!” Siwon mencubit hidung Sungmin yang kemudian ditepis oleh kekasihnya.

“Kapan terakhir kali kita melakukan making love, Wonnie?” Sungmin menatap genit Siwon, mencoba merayunya.

“Ini masih siang Sungmin-ah!” tolak Siwon.

Pria itu mulai beranjak tapi Sungmin dengan cepat menariknya, lalu kemudian mendorongnya hingga terjerembab ke kasurnya.

“Tak ada masalah dengan waktu chagi!” Sungmin mengelus pipi Siwon dengan lembut, “Toh ini flat pribadi kita!”

“Hentikan Min!” Siwon mendorong Sungmin yang mulai menindih tubuhnya, “Aku bukan ukemu!” wajah Siwon mengeras, entah sejak kapan keduanya meributkan masalah ‘seme dan ‘uke’ di tengah hubungan mereka. Walau Siwon kira, ia adalah ‘seme’ sejak awal hubungan keduanya.

Tapi semua berubah, sejak saat itu, saat keduanya mulai mengenal ‘making love’ Siwon baru sadar bahwa Sungmin bukanlah uke yang diharapkannya, pria itu memaksa menjadi dominan, ia menolak berada di bawah. Hingga keduanya secara bergantian bertukar posisi, tapi itu tentu saja tak nyaman bagi mereka, bukankah tak mungkin ada dua kepala dalam satu rumah tangga? Ya, walaupun memang mereka belum menikah dan bahkan belum tentu menikah.

.

.

.

“Hai!”

Kyuhyun sibuk menuliskan lembaran kerja miliknya, belajar adalah hal yang penting bagi masa depannya, ia tak mau mengecewakan kakaknya yang bekerja sendirian demi masa depannya, “Ih jangan nyuekin aku dong!” sewot Kibum, ia meletakan jajangmyun yang baru dibelinya di atas meja, karena masih hangat aromanya menguar dan menganggu konsentrasi Kyuhyun.

“Gomawo!”

Kyuhyun membiarkan bukunya terbuka tanpa dibaca, dengan tidak sopannya ia melahap jajangmyun yang dibawakan sahabatnya.

“IH!” Kibum memukul pundak Kyuhyun hingga tersedak, “Itu milikku babo Evil!” merasa kurang puas ia memukuli Kyuhyun dengan buku-buku tebal tentang manajemen yang tergeletak manis di atas meja.

“UHUK! UHUK!” Kyuhyun terbatuk dengan sangat kencang, “YAA! KAU MAU MEMBUNUHKU?” Kyuhyun melotot kesal.

“MENYEBALKAN!” Kibum menjerit kesal lalu berlari ke kamarnya diiringi suara bantingan pintu yang sangat kencan.

“Aish dasar pria sensitif, seperti anak gadis yang sedang PMS saja!” gerutunya, entah tak punya perasaan atau perasaannya sudah beku, bungsu Cho itu malah melanjutkan kegiatannya memakan jajangmyun, “Biar nanti ku buatkan ramen saja dia, atau spageti, yang penting kan masih sama-sama berbentuk mie!”

Sementara di dalam kamar, Kibum tengah merajuk kesal sembari memukuli bantalnya, “Dasar nyebelin, ngeselin, nyakitin! Eh?” Kibum memutar bola matanya, “Dia ngga mau minta maaf?” Kibum menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya.

Selama beberapa menit ia terus menoleh hingga lehernya terasa pegal, Kibum pun memutuskan untuk mengintip Kyuhyun, sialnya yang diintip malah sedang asik memakan jajangmyunnya. Kibum menghela napas dan mengusap dadanya, “Ya Tuhan, dosa apa aku harus menyukai evil sepertinya?” Kibum berhenti mengintip, memang salahnya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, terlebih sahabatnya adalah seorang pria, benar-benar tak wajar.

Kibum keluar dari kamar dan menuju dapurnya, sepulang dari kuliah malah berteriak, membuat haus saja, pikirnya, tangan putihnya terjulur mengambil sebotol jus jeruk miliknya, “Wuah masih ada!” katanya berbinar senang, maklumlah Kibum ini maniak jeruk, terutama jus jeruk yang sangat segar.

BRUSH!

Kibum menyemburkan jusnya setelah indra pengecapnya merasakan rasa asin yang luar biasa.

“EVIL KYU APA YANG KAU LAKUKAN PADA ORANGE JUICEKU!”

“Uhuk!” ya ampun Kyuhyun tersedak lagi tapi kali ini karena tawanya tertahan, akhirnya Kibum meminum racun buatannya, “Hehehe itu bukan orange juice tapi oralit rasa jeruk hehehe.”

Tragedi oralit rasa jeruk berakhir naas, pasalnya Kibum melempar kepala Kyuhyun dengan sepatu olahraganya yang meskipun terasa ringan saat dipakai tetap saja akan terasa sakit saat menyapa kepala. Bukannya meminta maaf Kibum malah lari ke kamarnya, Kyuhyun yang kesal berusaha menariknya keluar tapi si empunya kamar malah cuek saja. Setengah jam kemudian Kibum keluar dari kamarnya dengan memakai jaket abu-abu polos dan membawa tas, sebelum ditanya dia sudah lebih dulu berpamitan untuk mengerjakan tugas di rumah temannya.

Kibum melenggang santai, awalnya ia mau meminta Kyuhyun mengantarnya ke halte bus tapi sikap Kyuhyun yang sangat menyebalkan membuatnya enggan. Untunglah jarak dari rumah sewaannya dengan halte bus tak terlalu jauh tapi yang ia tidak sangka adalah kediaman keluarga Lee yang benar-benar jauh dari halte bus tujuannya.

“Semoga benar yang ini,” gumam Kibum seraya mencocokan nomor rumah yang tertera di pos it dengan di tembok rumah tersebut, “Gila! Masa ada 3 rumah dengan nomor yang sama dalam satu komplek!” keluhnya seraya memencet bel, tak disangka bel tersebut disahuti oleh seekor anjing Siberian Husky berbulu hitam dan putih.

Glek.

Seluruh tubuh Kibum terasa lemas karenanya. ‘Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?’ batin Kibum.

“Andrew!”

Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang anak laki-laki berpakaian army berlarian mengejar si anjing, “Kemari!” anak itu melambaikan tangannya sambil terus berjalan ke arah pagar rumahnya.

“Whoa!”

Kibum terjengkang dengan sangat tidak elitnya saat bocah itu membuka pagar dan membiarkan anjingnya menggonggong di hadapan Kibum.

“Oh?” bocah itu mengerjapkan matanya, lucu dan selanjutnya tertawa sangat keras atas kemalangan tamunya.

“Lee Hyukjae!”

Seorang gadis berambut panjang dengan hiasan bandana putih berlari dan memukul kepala bocah laki-laki bernama Hyukjae, gadis itu tersenyum ke arah Kibum.

“Mianhae Noona…” cicit bocah itu.

Gwaenchana Kibum-ah?” bukannya menyahut sang adik, Donghae –gadis itu- malah berjalan menghampiri temannya yang terjungkal.

“Ne, gwaenchana!” Kibum berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor, “Tapi bisakah anjing itu di bawa masuk?” tanya Kibum sambil menatap jiper si anjing berwajah bagai serigala itu.

“Kau takut Hyung? Andrew tidak galak!” cerocos Hyukjae.

“Eh tapi aku takut anjing.” Kibum memerah malu.

“Hyukjae tolong kau bawa Andrew ke kandang dan beri dia makan, jangan menganggu teman Noona!” ujar Donghae memperingatkan, Hyukjae hanya mengangguk patuh lalu mengajak Andrew masuk dengannya.

Gomawo Hae-ya!” ujar Kibum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Gwaenchana Kibum-ah, tidak semua orang suka anjing, kaja kita masuk!” Donghae berjalan masuk diikuti oleh Kibum. Rumah Donghae cukup luas dengan taman yang juga cukup luas, Kibum bisa melihat sebuah audi putih terparkir manis di garasi, semakin meyakinkan Kibum bahwa Donghae adalah putri keluarga kaya.

“Nuguseyo?” belum sempat Kibum duduk di sofa ruang tamu suara seorang pria menginterupsinya, Kibum berbalik untuk melihat pria yang pastilah bagian dari keluarga Lee.

“Dia temanku Oppa, Kim Kibum!” jawab Donghae cepat, Kibum mengernyitkan alisnya berusaha mengingat wajah pria yang diketahui sebagai kakak Donghae itu.

“Oh hai Kim, kita bertemu lagi!” ujar pria itu dingin.

TBC

Advertisements