BtyrQqJCIAMH6eL.jpg large

“Mau tidak?”

Minho menatap gusar temannya, sejak tadi ia terus saja berpikir tanpa memberikan jawaban.

“Aish tinggal bilang iya atau tidak saja susah sekali sih!” keluh Jonghyun, sama gusarnya.

Kim Kyuhyun yang sejak tadi menjadi sasaran mereka masih terus saja mengetuk-ngetukan jemarinya di meja dengan ekspresi serius yang membuatnya terlihat semakin tua.

“Lebih enak mana dengan bermain game?” tanyanya polos.

Aigoo bocah ini polos atau bodoh? Tentu saja lebih enak dari pada bermain game!” kata Jonghyun kesal.

“Kau bisa bawa motor kan?” tanya Minho untuk yang kesekian kalinya, sejak mengenalnya di SMA ia selalu melihat Kyuhyun datang dengan mobil mewahnya bersama supir dan saudaranya.

“Tentu saja bisa!” kata Kyuhyun yakin.

“Kalau begitu ikut kami! Di sana banyak gadis cantik dan seksi, taruhannya juga besar!” goda Jonghyun.

Sial memang playboy sekolah satu ini memang selalu pintar merayu Kyuhyun, bahkan Jonghyun juga orang yang bisa mengajaknya bolos demi pergi ke game centre.

“Baiklah, tapi kau pinjami aku motormu!” tawar Kyuhyun.

“Tentu!” kata Jonghyun diiringi seringaian puas, tangan kirinya terangkat untuk saling beradu dengan tangan kanan Minho. Kyuhyun merasa berdosa tapi meskipun begitu ia tetap mengikuti kedua temannya.

.

.

.

Henry and Hyungs Part 4

Cast: Super Junior OT15, Kim Youngmin, Zhang Liyin, Lee Yeonhee and others.

Genre: Drama, Family, Brothership

Rating: PG-13

Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya, FF ini hasil ‘plot bunny’ saya.

Summary: Henry adalah seorang anak yang lahir terpisah dari ayah dan saudara-saudaranya, apa yang terjadi saat ia datang ke kehidupankeluarganya yang penuh masalah dan menolak kehadirannya?

Warning: akan ada beberapa karakter yang OOC, mild-language dan multiple partners

©SnowBumKyuDevil proudly presents

.

.

.

Suara langkah kaki terdengar memecahkan keheningan di ruangan yang sepi itu, seorang sipir terlihat menuntun seorang pria muda yang terborgol tangannya ke dalam sebuah ruangan. Sipir itu melepaskan borgol tersebut dan membiarkan anak itu masuk kemudian meninggalkannya sendirian di dalam ruangan yang lebih mirip bilik bertembok itu.

“Yesung?”

Kangin –anak yang terborgol itu, mengernyit heran saat melihat saudara kembarnya tengah duduk di balik kaca di hadapannnya.

Yesung tersenyum, tangannya memberikan perintah kepada sang adik untuk segera mengangkat teleponnya, Kangin terdiam sesaat, bingung dengan kedatangan Yesung yang tiba-tiba tapi toh ia pada akhirnya mengangkat gagang telepon yang akan membatunya berkomunkasi.

“Bagaimana… rasanya tidur di dalam sel?”

Yesung membuka pembicaraan terlebih dahulu, satu pertanyaan yang menggelitik perasaannya tapi membuat Kangin merasa begitu jengkel.

“Mau apa kau?” tanya Kangin kesal, setahunya hanya ada 15 menit waktu yang tersedia untuk sekali kunjungan jadi untuk apa membuang-buang waktu hanya untuk sebuah pertanyaan yang tak penting seperti tadi.

“Ck Youngwoon-ah… kakakmu ini sedang mengkhawatirkanmu! Apa kau tidak tahu bahwa umma jadi sakit karenamu?”

Kangin mengepalkan tangan kirinya di bawah meja, ingin sekali rasanya ia menjahit mulut sang kakak yang berisik itu.

“Katakan padanya, jangan memikirkanku.”

“Bagaimana? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya? Bagaimana Youngwoon-ah?”

BRAK

Kangin membanting gagang teleponnya, ia berteriak mengusir Yesung dengan jari yang menunjuk, Yesung masih bisa mendengar suaranya walau samar. Kangin keluar dari ruangan itu dalam sekejap saja hingga Yesung tak bisa lagi mencegahnya. Yesung tersenyum getir, merasa begitu bodoh karena tak bisa menghibur adik kembarnya.

“Mianhae…”

.

.

.

Hankyung bertepuk tangan antusias, baru kali ini ia pergi ke pertunjukan opera, sejak kecil ia dan saudara-saudaranya selalu pergi ke tempat-tempat wisata padahal menurutnya ada tempat hiburan lain yang jauh lebih menarik.

“Anak muda, kau nampak bahagia sekali menyaksikan pertunjukannya!” seorang pria menegurnya yang masih bertepuk tangan meski yang lain sudah diam.

Ah ne, ini pertama kalinya aku menyaksikan opera!” jujur Hankyung, “Mwo? Ahjussi…”

Hankyung menatap panggung opera yang sudah kembali di selimuti oleh tirai merah, ia nampak bingung.

Naega wae?” tanya pria yang tadi menegurnya.

“Kau…”

Hankyung mengerjapkan matanya saat sadar ada kemiripan luar biasa antara si pemeran utama opera dengan pria yang duduk di sampingnya.

“Perkenalkan, namaku Xiah Junsu, jika kau berpikir aku mirip dengan Juno maka aku sedikit setuju.” Hankyung mengernyitkan dahinya, “Maksudku, adikku lebih tinggi dariku hahaha lucu sekali bukan?”

Hankyung mengangguk paham, bodoh sekali ia, padahal ia punya banyak adik kembar, “Dia saudara kembarmu kan?”

“Tentu saja!”

“Heechul lebih tinggi dari Leeteuk, Kangin lebih tinggi dari Yesung, Kibum juga lebih tinggi dari Ryeowook. Ku rasa kakak tidak harus lebih tinggi dari adiknya!” kata Hankyung memaklumi.

“Tapi kami kembar!”

“Mereka juga kembar!”

“Mereka itu siapa?”

“Saudaraku!”

“Oh… banyak sekali ya?” Junsu tersenyum canggung.

“Entahlah, aku juga heran!” Hankyung mengangkat bahunya.

“Ngomong-ngomong siapa namamu?”

Ah mianhe Ahjussi, namaku Hankyung, maaf atas sikapku yang tidak sopan!”

Hankyung membungkuk hormat, ia memang cukup hormat pada orang tua terlebih jika orang itu adalah orang asing.

Gwaenchana! Juno akan bermain opera yang berbeda minggu depan, ini eksklusif, kau mau datang?”

Junsu mengeluarkan sebuah undangan berwarna keemasan dan memamerkannya kepada Hankyung. Hankyung tersenyum sumringah melihatnya.

“Kau mau memberikannya untukku Ahjussi?” tanyanya penuh harap.

“Nah! Jika kau berjanji untuk datang!”

“Tentu saja!” seru Hankyung semangat, Junsu hanya terkekeh melihat sikapnya yang polos. Tidak disangka jika yang dicari telah datang sendiri.

.

.

.

“Ukh! Ah…”

Seorang pria tampak sibuk dengan kegiatannya di sebuah kamar mandi tua di sudut kampusnya, kamar mandi itu begitu sepi akibat kabar tak sedap mengenai hantu di sekolah.

“Ah… ahhhh… mmm yeah…”

Mata pria itu terpejam sementara tangannya sibuk menggauli kemaluannya sendiri, sepertinya ia sama sekali tak perduli pada gosip mengenai seniornya yang bunuh diri di kamar mandi ini. Jika bagi yang lainnya tempat ini adalah sarang hantu, baginya tempat ini adalah surganya dunia karena hanya di tempat inilah ia bisa memuaskan kelainannya.

Drrrtt… Drrrt…

“Ck, nuguya?” decaknya kesal, ia tak langsung mengangkat ponselnya yang bergetar malah pergi mencuci tangannya yang sudah kotor dengan cairan lendir yang menjijikkan.

YAA Hae kau mengangguku!” pekiknya saat menjawab panggilan dari seorang di seberang sana.

Mwo? Eum baiklah aku akan ke sana, awas saja kalau tidak ada wanita cantiknya!”

Pria itu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian mengendap-endap keluar dari sana. Bagaimanapun ia tak mau dicurigai orang-orang karena memasuki toilet hantu sendirian.

.

.

.

Hari itu langit bersinar sangat cerah, Liyin mengajak Yeonhee berkebun bersamanya, meskipun ia tahu keadaan Yeonhee sedang kurang baik tapi agaknya berdiam di dalam kamar bukanlah kegiatan yang tepat. Yeonhee harus menyegarkan pikirannya dari masalah tentang anaknya, pikir Liyin.

Jadi begitulah kedua ibu yang nampak akur itu kini tengah berdiskusi tentang beberapa jenis bunga yang mereka tanam dan berbagi saran dalam merawatnya. Liyin tahu bahwa Yeonhee adalah seorang wanita yang tegar sekaligus rapuh, ia sepeti bangunan kokoh tak bertiang yang sewaktu-waktu bisa rubuh, maka Liyin di sini bersamanya, berusaha menjadi tiang penopangnya.

“Yeonhee-ah, apakah kau masih suka merajut?” tanya Liyin yang sepertinya kehabisan topik soal bunga.

Yeonhee menggeleng, “Aku sudah lama tak merajut, bahkan tak menyimpan benang dan jarum.”

“Kenapa?” tanya Liyin heran, seingatnya Yeonhee sangat suka merajut, ia bahkan bisa membuat lukisan seorang wanita di tengah taman bunga dengan rajutannya.

“Jarumku patah Onni…” lirihnya.

Liyin tak tahu apa yang terjadi, ia menangkap kesenduan di mata Yeonhee yang seolah menjelaskan makna kias dari kata-katanya.

Yeonhee tersenyum sesaat untuk kemudian beralih melanjutkan kegiatannya menyemproti kelopak bunga yang nampak kehausan. Liyin tak pernah tahu bahwa rajutan seorang wanita di tengah taman bunga adalah rajutan terakhirnya.

.

.

.

Kelereng hitam milik Kibum berputar bosan, sejak tadi ia duduk di bawah pohon sendirian tanpa melakukan apapun. Kepalanya sudah terasa pegal melongok semak-semak menantikan mahkluk berbulu abu-abu itu untuk keluar.

“Apa dia tahu bahwa aku tak menyukai majikannya sehingga ia tidak mau keluar?” gumamnya diselingi desahan kecewa.

“Meow…”

Kibum dengan sigap menoleh ke asal suara tersebut, Jiji, si kucing liar yang beberapa saat lalu ditunggu-tunggunya telah keluar dari semak-semak. Kucing itu terlihat lapar dengan sebuah tulang ayam kecil yang sedang di santapnya. Kibum tersenyum girang dan berjalan menghampirinya.

“Hey manis! Kau lapar?” tanya Kibum seraya merogoh sakunya, ia membawa makanan kucing yang dibelinya di supermarket tadi.

Jiji si kucing yang mencium bau makanan pun mengabaikan tulang ayam yang sudah tak mempunyai daging lagi, dengan lahapnya kucing itu menyantap makanan yang diberikan oleh Kibum.

“Aku tak yakin berapa umurmu, tapi karena ini makanan untuk bayi kucing, ku tebak bahwa usiamu pastilah masih sangat muda!” katanya seraya mengusap kepala kucing itu, “Aku selalu ingin punya kucing, tapi ayah melarang kami memelihara binatang yang hanya akan mengotori rumah, dia hanya mau memelihara ikan koi yang menurutnya adalah pembawa keberuntungan!” entah sadar atau tidak Kibum terus berbicara banyak pada kucing itu meskipun siapapun tahu bahwa Kibum tak pernah bicara panjang lebar dan lebih banyak mendengar.

“Ini gelang yang ku beli saat pergi ke pasar malam dengan Siwon hyung,” Kibum mengelurkan tangannya demi memegang gelang yang kini terlilit di leher kucing kecil itu, “Itu pertama kalinya aku ke sana…”

Kibum menatap langit yang berawan dengan senyum pahit. Terbebani oleh perasaan yang tak seharusnya ada, perasaan yang bahkan tak bisa dijangkau logikanya, perasaan cinta kepada kakak kandungnya sendiri.

.

.

.

“KYUHYUN MEMBOLOS?”

Seohyun menutup telingannya mendengar pekikan kakak kelasnya yang cempreng itu, “Apa kau yakin? Mungkin dia sakit lalu pulang!” kata Ryeowook, membela adiknya.

“Aku tidak bohong kok, dia membolos bersama Lee Jonghyun dan Choi Minho, aku kan ketua kelas masa tidak hapal siapa yang masuk dan tidak masuk?” Seohyun mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aish bocah itu, kau tahu ke mana mereka?” Ryeowook menatap Seohyun tajam, membuat gadis itu merasa tak nyaman.

“Mana aku tahu, kalau aku tahu berarti mereka ijin bukan membolos!” katanya kemudian melengos meninggalkan seniornya yang cukup menyebalkan.

Sebenarnya anak tunggal keluarga Seo itu tahu ke mana teman-temannya pergi, itu karena ia sempat mendengar perbincangan mereka tapi melihat sikap Ryeowook yang menyebalkan membuatnya enggan memberitahu. Salah-salah nantinya Kyuhyun malah membencinya karena dianggap pengadu.

Sementara Ryeowook yang masih berdiri di muka kelas Kyuhyun mengepalkan tangannya gusar, ia melirik jam tangannya dan yakin bahwa tak ada lagi orang di sekolah ini selain satpam sekolah. Maka dengan berat hati ia turun dan kembali pulang hanya bersama Henry, adik ‘baru’nya.

Hyung, Kyuhyun hyung odiga?” tanya Henry saat melihat Ryeowook dating sendiri.

Ryeowook hanya mengangkat bahu tanda tak tahu, tidak tahu kemana Kyuhyun pergi juga tidak tahu apa yang harus dia katakan pada orang asing seperti Henry.

Henry menatap Ryeowook, ia curiga pada sikap Ryeowook yang cemas dan gusar. Seingatnya Ryeowook sama seperti Kibum yang selalu memasang wajah datar. Mungkin sesuatu terjadi pada Kyuhyun adalah hal yang buruk.

“Wo bu zidao.”

Ryeowook memincingkan matanya mendengar gumaman Henry, sementara Henry yang merasa diawasi tersenyum polos, berharap Ryeowook tak mencurigainya. Ryeowook hanya menggelengkan kepalanya, hanya sepatah dua patah saja mungkin Henry bisa, toh dia kan memang keturunan Cina, pikirnya.

.

.

.

Annyeonghaseyo Kwon Ahjung imnida.”

Gadis itu tesenyum malu-malu membuat Eunhyuk dan Donghae tersenyum sumringah melihatnya, Ahjung adalah gadis yang sempurna secara fisik, laki-laki manapun pasti jatuh hati melihat penampilannya yang indah.

Yeppuda…” gumam si kembar kompak, terang saja hal tersebut membuat Ahjung semakin tersipu bahkan pipinya yang putih itu kini sudah dijalari semburat merah.

Gomawo.

Ahjung tersenyum manis sekali, bahkan senyum itu seperti racun yang kini menjalari otak kedua pria di hadapannya. Kwon Ahjung adalah mahasiswa baru yang kebetulan mengambil fakultas yang sama dengan Donghae dan Eunhyuk, beruntung baginya karena menjadi gadis tercantik, sejak tadi sudah banyak pria yang mengerubunginya minta berkenalan dan mengobrol dalam waktu yang lama. Donghae yang melihatnya langsung buru-buru menghubungi kembarannya, bagaimanapun juga Ahjung adalah rejeki bagi matanya jadi ia harus berbagi rejeki itu pada kakaknya.

Dalam waktu yang sebentar saja ketiganya telah akrab, tampaknya Donghae mulai menaruh hati pada gadis itu sementara Eunhyuk hanya menyukai penampilannya saja, bagaimanapun Eunhyuk lebih menyukai wanita tomboy dan terlihat sedikit liar, Ahjung terlalu manis baginya.

“Aku ke kelas Jira dulu ya!”

Eunhyuk menepuk pundak Donghae dan pergi meninggalkan sepasang anak manusia yang tengah dilanda cinta pada pandangan pertama. Donghae mengabaikan kakaknya, perhatiannya sudah teralihkan pada Ahjung. Bahkan baru beberapa menit saja mereka berbincang, sudah tak ada lagi bahasa formal yang digunakan. Kwon Ahjung, sekali lagi berhasil melelehkan hati seorang pria.

“Kalau begitu, sabtu nanti aku jemput di apartementmu!”

Donghae mengedipkan matanya dengan senyuman menggoda, ini dia keahliannya dalam menarik perhatian perempuan, seingatnya tak ada satupun yang tak jatuh ke dalam perangkapnya. Rencananya Donghae akan mengajak gadis itu kencan, ya meskipun mereka baru mengenal tapi sepertinya keduanya telah sama-sama menaruh perhatian lebih.

.

.

.

Brrmm… Brrmmm…

Suara bising yang berasal dari mesin motor besar itu terus terdengar di telinga Kyuhyun, ia sudah siap memacu kendaraan birunya setelah 2 jam tadi di latih oleh Jonghyun dan Minho yang tak percaya bahwa ia bisa mengendarai motor.

Di sisi kiri Kyuhyun ada Jonghyun dengan motor merahnya sementara Minho dengan motor hijaunya berada di ujung kanan, ketiganya akan bertanding melawan Seungri yang menggunakan motor putih dan Junhyung yang menggunakan motor hitam.

Seorang gadis bertubuh seksi berdiri di antara motor Kyuhyun dan Junhyung, dari kantong celana pendeknya ia mengeluarkan kain berwarna merah muda, “Okay fellas, are you ready?”

Seungri mengacungkan jempolnya sementara empat lawannya semakin gila dengan pedal gas mereka.

“Hana…” gadis itu bergerak maju ke depan, “Dul…” tangan kanannya mengacungkan kain merah yang sejak tadi digenggamnya, Kyuhyun menelan ludahnya melihat gadis yang pakaiannya seronok itu, sungguh jika Leeteuk atau Zhoumi yang ada di sini pastilah gadis itu sudah jadi santapan mereka.

“SET!”

Kain merah itu terlempar ke udara, Kyuhyun yang tak terbiasa tertinggal karena sibuk memperhatikan si gadis seksi yang nyaris di tabraknya, Junhyung berada di paling depan, benar kata Jonghyun bahwa Poppin Dragon tersebut adalah jagoan balap liar tapi sebagai seorang putra Kim, Kyuhyun tak mau kalah begitu saja, maka dengan nekatnya ia menyusul ketertinggalannya, di mulai dari menyalip Minho, Seungri lalu Jonghyun. Kini Kyuhyun sudah begitu dekat dengan Junhyung.

Tapi tak semudah menyusul kedua temannya dan Seungri, lawan Kyuhyun kali ini adalah Yong Junhyung yang tak terkalahkan. Sementara itu di kediaman Kim, Ryeowook, Henry dan Kibum secara kebetulan tiba di rumah pada saat yang bersamaan.

“Kibummie!”

Ryeowook berlari dan merangkul pundak adiknya, keduanya berjalan beriringan memasuki rumah, meninggalkan Henry sendirian.

“Kalian sudah pulang, kemana Kyuhyun?”

Yeonhee baru saja selesai mengganti bunga di vas dengan yang baru dan masih segar, ia heran melihat Ryeowook dan Henry justru pulang bersama Kibum dan bukannya bersama Kyuhyun.

“A-itu Kyu, dia sedang pergi bersama teman-temannya, iya mereka sedang bermain!” jawab Ryeowook gugup, Liyin dan Kibum menatapnya curiga sementara Yeonhee dengan mudah percaya pada anaknya.

“Oh kalau begitu kalian pergilah ke kamar untuk ganti baju, aku dan Jakeun Umma tadi pagi membuat banyak kue!”

Yeonhee mengusap kepala Kibum, Kibum dan Ryeowook mengangguk dan beranjak ke kamar mereka.

You too, little son!” Yeonhee menunjuk Henry.

Ye, Geun Umma!” sahut Henry ragu, tapi sepertinya Yeonhee senang mendengarnya, Ryeowook yang sudah berada di tangga sempat mengurtkan dahi, heran dengan panggilan yang diberikan Henry.

“Kurasa karena umma memanggil wanita itu Jakeun Umma jadi dia memanggil umma kita Geun Umma!” Ryeowook menekuk wajahnya tak suka, “Apa kau yang mengajari anak itu soal Geun umma dan Jakeun Umma?”

Kibum tersenyum, “Dia pintar kan?”

“Kau yang paling pintar!” bantah Ryeowook yang hanya diberikan gelengan oleh Kibum, tak mau berargumen lebih panjang lagi Kibum malah masuk ke kamar mandi dan meninggalkan kakaknya.

.

.

.

Mom, di mana biolaku?”

Liyin menggelengkan kepalanya melihat putra bungsunya masuk tanpa seizinnya.

“Kau berani bicara bahasa Korea sekarang? Apa karena rumah ini sedang sepi?” Liyin balik bertanya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan Mom, aku tanya di mana biolaku disembunyikan pria tua itu?” desak Henry, sepertinya ia benar-benar tak bisa hidup tanpa biolanya.

“Dia ayahmu, bersikaplah yang sopan.”

“Tapi dia tak menganggapku, dia pikir aku anaknya Kim Junsu dan membuangku jauh-jauh sampai tak satu pun saudaraku mau menerima kehadiranku!”

Liyin memijat keningnya, “Aku tidak tahu di mana Youngmin menyembunyikan biolamu, yang pasti Henry, jangan pernah membahas masa lalu lagi, aku tak mau saudara-saudaramu tahu terutama Hankyung dan Zhoumi!”

Why?”

Henry duduk di ranjang, tepat di samping ibunya.

“Aku tidak mau menyakiti mereka.”

But you hurt me, Mom!”

Henry mendesah kecewa, ia keluar dengan langkah gusar dan masuk ke dalam perpustakaan di mana Kibum tengah membaca novel sendirian di sana.

Hi!”

Kibum menyapanya, dengan mata yang masih tertuju pada barisan huruf di bukunya.

Hi!” balas Henry sama singkatnya, ia kemudian beralih mencari buku yang barang kali bisa menghilangkan rasa bosannya.

“Di bagian itu hanya ada buku berbasa Korea saja Henry-ssi.” sindir Kibum.

Henry tersenyum polos, “Aku tahu Hyung.” jawabnya enteng, Kibum menatap heran si bungsu, “Apa kau tahu apa yang tidak disukai appa?”

Mwo?” Kibum mengeryitkan dahinya.

“Kau tidak tahu?” tanya Henry dengan suara cempreng khas anak-anaknya.

“Tidak suka anak yang nakal.”

“Bagaimana dengan biola?”

“Aku tidak mengerti!” Kibum menutup bukunya, “Ada apa denganmu?”

“Ku beritahu, appa sangat membenci biola, teater dan…” Henry menggantungkan kalimatnya sendiri, sedikit ragu untuk mengatakannya atau tidak.

“Rajut.”

Henry terdiam mendengar sahutan Kibum, bukan itu yang ingin disebutnya, tapi Kibum tengah memberinya informasi baru, jadi lebih baik dia diam. Kibum beranjak meninggalkan Henry, sebenarnya ia memikirkan kata-kata Henry, seingatnya ayahnya memang tak pernah mengajaknya ataupun saudaranya yang lain ke teater, padahal kediaman Kim sering mendapat undangan ekslusif untuk menyaksikan teater.

“Kenapa dia diam?” gumam Henry saat melihat Kibum berdiri di ambang pintu.

I wonder where you know our father?” tanya Kibum.

Henry hanya tersenyum paksa dan menghindari tatapan kakaknya. Henry memang tidak lahir dan besar bersama keluarganya selain sang ibu tapi bukan berarti ia tak pernah mendengar tentang keluarganya dari sang ibu.

Henry begitu percaya pada ibunya, ia tahu dengan jelas bagaimana rasa sakit yang di alami ibunya, rasa sakit yang juga dirasakan olehnya, saat teman-temannya mengejeknya tak punya ayah, saat seniornya disekolah menganggunya, saat ia malah ditemani sang ibu di pesta perayaan hari ayah.

Henry begitu benci dengan kehidupannya tapi ia tak pernah bisa membenci ayahnya, ia selalu merindukan kehadiran sang ayah, meskipun ibunya bilang bahwa sang ayah tak menyukai biola tapi ia tetap ingin tinggal bersamanya.

“Gudang?”

Henry entah kenapa teringat akan biolanya, dulu kalau ia tak mau belajar sang ibu akan menyembunyikan biolanya di gudang. Henry menyeringai senang dan segera meninggalkan perpustakaan. Henry sudah menghapal setiap sudut rumah ini, ia meminta seorang pelayan untuk menemaninya berkeliling rumah setelah ia sampai.

Gudangnya sudah di depan mata tapi sayangnya Henry tak bisa masuk karena gudang tersebut di kunci, bocah itu mendesah kecewa karena gagal mendapatkan biolanya kembali. Maka Henry dengan tergesa-gesa menghampiri kepala pelayan yang setaunya memilik kunci duplikat semua ruangan.

Hey butler!” panggil Henry, pria tua dengan tubuh yang masih tegap itu tersenyum dan menghampiri Henry.

Yes Sir, may I help you?” tanya si kepala pelayan dengan penuh hormat.

I had to go the warehouse, but the door was locked! Please, give me the keys!”

Kepala pelayan itu tersenyum dan mengangguk paham, Henry tau bahwa pria tua itu adalah satu-satunya pelayan yang mengerti bahasa Inggris dengan baik.

Sorry, I don’t have… the key is held directly by Mr. Kim Youngmin.”

Henry kembali mendesah kecewa, kepala pelayan itu jujur, Henry bisa menangkap kejujuran di matanya. Entah apa saja yang disembunyikan oleh Kim Youngmin sampai-sampai kunci gudangpun disimpan olehnya.

Oh it’s okay, gamsahamnida!”

Henry berbalik kembali ke kamarnya, masih terus berpikir, bagaimana ia bisa memainkan biola kesayangannya lagi. Mungkin ia akan memelas atau bila perlu merengek agar sang ayah mengembalikan biolanya, entahlah.

.

.

.

Di ujung jalan sana ada keramaian yang dibuat para pemuda dan pemudi, mereka berdiri seraya menyorakkan nama Yong Junhyung, Kyuhyun berada tepat di samping pria itu sekarang, tinggal beberapa meter lagi jarak yang harus ia tempuh untuk menamatkan pertandingannya, ia yakin akan mengalahkan Junhyung.

“Sedikit lagi.” Kyuhyun menggumam, ia kini hanya fokus pada jalan di depannya hingga tanpa sadar Junhyung menyalipnya secepat kilat.

“Yong Junhyung jjang!” teriak seorang gadis seksi yang Kyuhyun ingat sebagai gadis pemberi aba-aba.

Sh*t!”

Kyuhyun memukul tangki motornya, ia kalah dan hanya berada diurutan kedua meskipun ia yakin akan menang. Benar kata Jonghyun, Junhyung mungkin akan kalah di tikungan tapi ia tak mungkin kalah di garis akhir.

“Hai Kim, permainanmu bagus!”

Kyuhyun menoleh ke asal suara tersebut, baru kali ini Kyuhyun melihat orang seperti Junhyung, bagaimana bisa ia terlihat begitu tampan dengan seringaian di wajahnya.

“Terimakasih, aku masih pemula, aku pasti mengalahkanmu di pertandingan berikutnya!”

Junhyung tergelak mendengar tantangan Kyuhyun tapi ketika melihat tangan bocah SMA itu tetap meraihnya dan saling berjabatan.

“Malam minggu ini, di tempat yang sama, temanmu pasti tahu apa taruhannya!”

Junhyung segera pergi meninggalkan Kyuhyun, Jonghyun yang merasa wajahnya ditunjuk-tunjuk oleh Junhyung segera berjalan menghampiri Kyuhyun dan bertanya apa yang dibicarakan mereka.

“Kau hebat Kyu, berani sekali kau menantangnya!” seloroh Minho.

“Aku tak menyesal meminjamimu motor dari bengkel kakakku!” Jonghyun menepuk pundak Kyuhyun bangga.

“Aku pinjam sekali lagi, hanya sekali karena aku akan mendapatkan motor Junhyung di pertandingan nanti!” ujar Kyuhyun yakin, Minho hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan nyali Kyuhyun yang begitu besar.

“Tapi kalau kau kalah motor kakakku yang jadi korbannya Kyu!” kata Jonghyun enggan.

“Tidak akan!”

Kyuhyun tertawa melihat wajah Jonghyun yang memucat, ia benar-benar yakin akan menang, pertandingan hari ini sudah cukup baginya untuk mempelajari gerak-gerik lawan.

.

.

.

Hari ini Shindong datang lagi ke kedai itu, orang bilang bakso ikan yang dijual di tempat ini cukup enak tapi bagi Shindong bakso ikan buatan koki di rumahnya jelas berkali-kali lipat lebih enak. Hanya saja kokinya adalah seorang pria tua yang umurnya hanya berberapa tahun lebih muda dari ayahnya sementara di sini kokinya adalah seorang bibi muda yang mungkin sepantaran ibunya.

Annyeong apa kau mau bakso ikan?”

Seorang gadis muda bertubuh kecil tampak membungkuk di hadapan Shindong dan tersenyum ramah sembari menjajakan dagangannya. Namanya Jung Nari, gadis yang Shindong kenal sebagai putri pemilik kedai kecil tersebut.

Ah ne, tentu saja!”

Shindong sesungguhnya sangat bersemangat tetapi melihat wajah gadis itu ia seolah kehilangan kata-katanya, jadi hanya kata-kata itulah yang selalu di ucapkannya saat Nari datang.

“Tunggu sebentar, aku akan membawakan pesananmu!” ujar Nari seraya pamit ke belakang, gadis itu tahu betul apa yang diinginkan Shindong karena pelanggannya itu hamper setiap hari berkunjung ke kedainya.

“Dia datang lagi?” tanya seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah ayah Nari.

Ne Aboji.”

“Kau jangan terus-terusan melayaninya, aku tidak suka padanya!” kata tuan Jung kesal.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu yobo, dia itu kan pelanggan kita.” ibu Nari datang melerai tuan Jung.

“Nari, kau harus cari pria yang tampan dan kaya, dia juga haruslah seorang sarjana! Jangan mau dengan pria gendut yang hanya mampu membeli bakso ikan dan soju saja!”

Nari tersenyum mendengar wejangan sang ayah, ia memilih berlalu meninggalkan ayahnya dan menyajikan pesanan Shindong.

Gomawo Agassi, kau cantik sekali hari ini.”

“Eh?”

Mata keduanya saling berbenturan, oh akhirnya Shindong berani memuji gadis pujaannya setelah sekian lama hanya mengagumi dari kejauhan.

“Ehm… hehehe…”

Shindong tertawa canggung tak sadar bahwa dari kejauhan tuan Jung sedang menatapnya tak suka, sementara Nari sendiri sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar keras entah karena apa. Nari hanya seorang gadis remaja yang naïf, mana mengerti ia tentang gejala yang tengah ditunjukkan hatinya, sayang Shindong tak mengetahuinya.

TBC

A/N

1. Geun Umma adalah “Ibu yang lebih tua” atau “Ibu besar” yang diucapkan pada istri dari kakak laki-laki ayah.

2. Jageun Umma adalah “Ibu yang lebih muda” atau Ibu kecil” yang diucapkan pada istri dari adik laki-laki ayah.

3. Kira tidak tahu bagaimana orang Korea memanggil ibu tiri mereka, saat ibu kandung mereka juga masih bersama ayah mereka jadi Kira menggunakan istilah Geun Umma dan Jageun Umma agar lebih mudah, jadi maaf jika kalian sempat terkecoh.

4. Karena pemainnya banyak, jadi Kira berusaha adil dalam membagi peran. Karena judulnya “Henry and Hyungs” maka menurut Kira semua kakak Henry juga berhak mendapat porsi cerita yang banyak/

5. Kira adalah seorang Karyawan Swasta jadi mohon maaf bila mengupdate cerita ini dengan sangat lama dan bahkan jarang balas komentar, bukan tidak dibaca tapi Kira harus mengatur waktu Kira untuk bekerja dan menulis tapi setiap review yang Kira baca pasti Kira jadikan bahan pembelajaran baru untuk Kira. Jadi mohon tinggalkan review kalian, kritik, saran atau apapun asal bukan bashing kepada chara.

Akhir kata, terimakasih.

Advertisements