Tags

, , , , ,

IMG-20140607-WA0001 

Cast: Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Siwon, Choi Minho, Lee Jonghyun, Lee Sungmin, Kim Jungmo and others

Genre: Romace, Comedy

Rating: AU

Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya

Summary: Kim Kibum seorang namja introvert yang terpaksa tinggal dengan Cho Kyuhyun yang dingin dan ketus. Kehidupannya yang datar berubah ketika para kingka mengelilinginya.

Pairing: KyuBum, ChangBum, SiBum, JungMin

p. s Pairing lain menyusul seiring berjalannya cerita, mulai part ini akan banyak flashbacknya ^^v yang dibold itu bagian flashback ya soalnya kalau hanya cetak miring di ponsel tidak terdeteksi ^^

©SnowBum KyuDevil proudly presents

.

.

.

Semilir angin sejuk masuk melalui celah-celah ventilasi kelas X-1 masih ada beberapa siswa yang terdiam menatap Sunny sang guru baru yang baru saja memperkenalkan dirinya, berbeda dengan para siswi yang justru menatap sinis ke arahnya. Tapi Sunny rupanya seorang wanita supel yang cerdas, ia membuka kelas dengan perkenalan antar guru dan murid, para siswa dan siswi tentu senang karena jam pelajaran Matematika pasti akan berkurang.

Annyeonghaseyo Son Dongwoon imnida, umur Koreaku 16 tahun, aku asli Korea meski banyak orang yang mengira aku keturunan Arab, aku suka pelajaran Matematika, ku harap Sunny sonsaengnim adalah guru pengganti yang tepat!”

Dongwoon membuka perkenalan dengan kerlingan genit khas cassanova miliknya, Sunny hanya tersenyum simpul dan menanggapi dengan beberapa pujian dan motivasi belajar, perkenalan terus berlanjut sampai kini giliran Lee Jonghyun.

Semua murid menoleh ke arahnya tentu saja selain KyuLine, 4 serangkai itu sejak tadi hanya terdiam menatap Sunny dalam diam.

“Choi Minho imnida,” Minho pada akhirnya mengambil alih perkenalan Jonghyun, “Yang di sampingku Lee Jonghyun-”

BLAM!

Minho menolehkan kepalanya ke arah pintu yang terbuka, pintu yang tak pernah terbuka saat jam pelajaran itu dibanting dengan kasar oleh Changmin, Minho bisa melihat dengan jelas bagaimana Changmin, Kyuhyun juga Jonghyu pergi meninggalkan kelas.

“Biarkan mereka pergi.” titah Sunny dengan pandangan kosong ke arah pintu kelas yang terbuka.

“Mereka Shim Changmin dan Cho Kyuhyun, temanku!” Minho melanjutkan perkenalannya, kali ini hanya memberi tahu siapa murid-murid yang keluar kemudian kembali duduk di tempatnya.

Kelas menjadi sangat canggung, Hayi dan Dani yang duduk di depan Minho bahkan tak berani berdiri untuk melakukan perkenalan. Changmin memang nakal tapi ia tak pernah meninggalkan pelajaran dengan begitu saja, Kyuhyun adalah salah satu siswa terpintar dan Jonghyun bukanlah pembuat onar seperti Minho teman sebangkunya. Jadi menyaksikan ketiganya keluar dengan langkah kasar tentu bukan hal yang wajar.

Kibum mungkin salah satu yang paling shock, baru saja untuk pertama kalinya ia melihat KyuLine saling mengejek dan bercanda satu sama lain, biasanya hanya Changmin dan Minho yang terlihat begitu ceria tapi tadi ia bahkan melihat Kyuhyun tersenyum puas setelah mengejek Changmin. ‘Mereka berubah begitu cepat.’ batinnya heran.

.

.

.

“NEO!”

Minho baru saja sampai di gedung olahraga ketika Changmin menarik kerah bajunya, ia bahkan harus berjinjit untuk menyamai tinggi badan Changmin, “Kau pasti tahu siapa guru baru itu kan!” bentak Changmin, napasnya tersengal karena emosi yang memuncak, Minho hanya menyeringai sebagai jawaban.

“NO!”

Jonghyun menepis tangan Changmin yang nyaris saja memukul wajah Minho, “LET HIM GO!”Jonghyun kembali berteriak saat Changmin berusaha menendang Minho.

“Cih!”

Minho tertawa mengejek, “Kenapa kalian pergi dari kelas? Seperti iblis yang lari ketakutan saat kiamat mulai datang!”

“BEDEBAH!” emosi Changmin kembali naik, ia bersiap memukul Minho tapi kali ini tak hanya Jonghyun, Kyuhyun juga menahannya.

“Beberapa waktu yang lalu, aku dan Changmin melihatmu pergi bersama Jungmo-ssi, kuharap kau mau menjelaskan sesuatu kepada kami!”

Kyuhyun berjalan menuju tribun penonton dan duduk sendiri tanpa sedikitpun menoleh ke arah teman-temannya.

“Kau benar,” Minho memasukan kedua tangannya di saku celananya, berjalan dengan santai ke tengah lapangan, “Aku dan Jungmo hyung memang bertemu, kami bahkan sering bertemu tanpa sepengetahuan kalian.”

MWO?” koor Changmin dan Jonghyun.

Wae?” tanya Minho dengan wajah polos.

“Kau pernah bertemu dengannya sebelum ini?” tanya Kyuhyun yang masih tak mau menatap Minho.

“Belum, kita semua sama-sama baru melihatnya hari ini!” jawab Minho dengan senyum tulusnya.

Changmin menghela napas kasar, bingung harus melakukan apa lagi, sementara Jonghyun diam-diam tersenyum, menerka apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.

.

.

.

Sunny meletakan tas selempang dan buku-buku modul miliknya di atas meja, hari pertamanya menjadi guru cukup mudah kecuali peristiwa keluarnya ketiga murid tanpa permisi, Sunny meremas kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya, merasa ia telah gagal menjadi guru. Bagaimanapun ia masih seorang progresif yang belum dinyatakan sbegai guru tetap, jadi wajar jika ia ingin tak ada cacat dalam kegiatan mengajarnya, setidaknya untuk tiga bulan pertama.

“Huft…”

Sunny mengambil segelas air dan menenggaknya hingga tak bersisa, merasa diperhatikan oleh guru lain, ia menoleh dan melemparkan senyum dengan gigi kelincinya.

“Kau gugup?”

Choi Jina yang duduk di sampingnya bertanya, bagaimanapun guru baru itu baru saja mengajar di kelas perwaliannya.

“Ini pengalaman pertamaku!” jawab Sunny jujur.

Jina mengangguk paham, “Choi Sonsaengnim, maaf sebelumnya, apakah murid kelas X-1 nakal?” tanya Sunny tak enak, guru muda itu masih kepikiran soal bolosnya tiga murid tadi rupanya.

“Lee Sonsaengnim, pada dasarnya setiap anak nakal, mereka melakukannya untuk alasan yang berbeda tapi kebanyakan adalah untuk mencari perhatian. Masa-masa SMA adalah masa peralihan yang penuh dengan gejolak percintaan, kau tidak akan menyangka bahwa murid tercerdas di kelasku baru saja menjadi salah satu yang terlibat dalam kehebohan masa cinta remaja!” Jina tersenyum penuh arti, “Untuk memahami para murid yang harus kau lakukan adalah mengenang kembali masa sekolahmu, ku kira kau masih muda, jadi mungkin kau masih ingat kenakalan-kenakalan apa yang kau atau teman-temanmu perbuat!”

Puk

Jina menepuk pundak Sunny, “Sudah saatnya makan siang, ayo, para guru dan murid makan di cafeteria yang sama, itulah cara yang diajarkan kepala sekolah untuk lebih dekat dengan murid!” Sunny mengangguk kaku, ia belum sempat menolak karena Jina sudah keburu menarik tangannya dan pergi ke cafetaria.

.

.

.

“Apa… kalian baik-baik saja?” tanya Kibum dengan ekspresi keheranan, dia baru saja akan pergi ke perpustakaan sekolah ketika KyuLine atau lebih tepatnya Changmin dan Minho menyeretnya ke cafeteria da mengajaknya makan bersama.

“Tentu saja!Ini adalah waktu terbaik di antara beberapa yang terbaik!” jawab Changmin asal.

“Memangnya ini waktu apa?” tanya Kibum polos.

“WAKTUNYA MAKAN!” pekik Changmin heboh, tentu saja membuat semua orang menoleh ke arah mereka.

Yaa! Dasar tidak tahu malu!” umpat Minho kesal, untunglah Changmin yang kelaparan tidak mendengarnya, jika tidak pastilah mereka sudah berperang lagi sekarang.

“Aku tidak mau makan dengan pembolos!”

Kibum memicingkan matanya, menatap Changmin, Jonghyun dan Kyuhyun bergantian kemudian mengerucutkan bibirnya, lucu.

“Kalau begitu kita makan berdua saja!” kata Minho, menawarkan.

Yaa!”Jonghyun memukul kepala Minho kasar, “Enak saja kau mau makan hanya berdua saja dengannya, kita ini KyuLine jadi harus selalu bersama!” cerocosnya kesal.

“Aku bukan, kalau begitu aku kembali ke perpustakaan saja!”

Kibum baru saja akan beranjak dari kursinya ketika Kyuhyun menggenggam tangannya dengan sangat kuat.

“Jangan! Kemarilah, kau anggota KyuLine sekarang!”

Changmin, Jonghyun dan Minho tercengang, setelah bertahun-tahun baru kali ini mereka mendengar Kyuhyun mengajak anggota baru untuk berkumpul di dalam kelompok mereka.

“Memangnya apa untungnya bagiku?” jawab Kibum dengan wajah tanpa dosanya, membuat siapapun yang mendengarnya pasti ingin memukul kepala jeniusnya yang kelewat polos itu.

“Kau bisa makan gratis di cafeteria setiap harinya karena aku akan mentraktirmu seperti member KyuLine yang lain!” jawab Changmin yang sepertinya tak pernah bisa jauh dari makanan.

“Makanan di cafeteria ini tak seberapa dibandingkan cafetari di Santa Monica!” jawab Kibum, sedikit menyombongkan sekolah lamanya.

“Aku bisa mengajarimu bermain basket dan futsal jika kau mau!” tawar Minho si penggila olahraga.

“Aku tidak menyukai olahraga!” kata Kibum menolak.

“Aku bisa membawamu masuk ke bar bahkan sebelum usiamu 20 tahun!” kali ini Jonghyun yang menyombongkan dirinya.

“SIAPA YANG MENGIJINKANMU MENGAJAKNYA KE BAR BODOH!” bentak Minho, Changmin dan Kyuhyun bersamaan.

“Hah kalian semua bodoh!”

Kibum mengibas-ngibaskan tangannya kemudian beranjak meninggalkan KyuLine.

“Aku akan membelikanmu sebuah kucing dan mengijinkanmu memeliharanya di rumahku jika kau bersedia bergabung dengan kami!” ujar Kyuhyun tiba-tiba.

“Kucing?” gumam Kibum ‘Dari mana dia tahu kalau aku suka kucing?’ batinnya heran.

“Atau kau mau kelinci saja?” Kyuhyun berjalan menghampiri Kibum dan berbisik di telinganya, “Othe?”

Kibum mundur selangkah saat menyadari jarak wajahnya dengan Kyuhyun begitu dekat, terlebih mata bulat itu menatapnya dengan sangat intens dan membuatnya merasa tak nyaman, “Eum.” dan tanpa sadar putra Kim itu pun mengangguk, disambut sorak kemenangan ketiga member KyuLine yang lainnya, Kyuhyun menyeringai puas, menyadari ada hal yang tak akan berubah.

Sementara di sudut lain cafeteria sekolah Sunny tengah menatap intens KyuLine dan mengabaikan makan siangnya, matanya menyipit saat melihat Kyuhyun berbisik di telinga Kibum. Entah mengapa ada perasaan tak nyaman yang berdesir di dalam hatinya, bahkan perasaan itu semakin kuat saja saat melihat KyuLine bersorak dengan wajah penuh keceriaan sesaat setelah Kyuhyun membisikan sesuatu di telinga murid yang katanya paling pintar di kelas itu.

“Sunny-ssi,” Jina yang merasa diabaikan memanggil, Sunny menoleh kaget, membuat sang senior tersenyum lembut memakluminya, “Kau pasti sudah mengenal mereka kan?” tanya Jina yang rupanya sadar siapa yang tengah diperhatikan oleh Sunny.

“Jina-ssi, mereka orang yang seperti apa?” tanya Sunny ragu-ragu.

Jina menolehkan kepalanya dan menatap kelima muridnya, “Itu Kim Kibum,” Jina menunjuk seorang siswa berkacamata hitam yang kini diseret oleh Kyuhyun untuk duduk di hadapannya, “Lahir dan besar di LA, seorang yang sangat pintar, ah bukan maksudku jenius, intelejensinya saja di atas rata-rata, sayangnya dia terlalu polos dan tidak pintar bergaul.” Jina menyeruput jusnya, memberi kesempatan Sunny berbicara.

“Lalu bagimana dengan 4 siswa yang lain?” tanya Sunny, membuat Jina mengernyitkan dahinya mentapa ekspresi antusias dan penasaran Sunny.

“Terus terang saja, mereka hanya murid kelas satu di semester pertama, aku baru menjadi wali kelas mereka selama hampir 2 bulan, tapi aku cukup mengenal mereka,” Jina kembali tersenyum lembut, “Itu, yang paling tinggi adalah Shim Changmin, di sebelahnya, yang di tengah-tengah Lee Jonghyun, di sebrangnya adalah Choi Minho dan yang terakhir adalah Cho Kyuhyun!”

Sunny tersenyum malas, dalam hati ia menggerutu bahwa ia sama sekali tak bertanya tentang nama.

“Mereka baru-baru ini masuk tim basket sekolah, meskipun belum pernah ikut bertanding, sejak masa orientasi mereka selalu bersama, ku dengar mereka adalah sahabat sejak kecil, Changmin dan Minho yang paling usil, Jonghyun yang selalu melerai mereka sementara Kyuhyun selalu cuek. Beberapa guru bahkan menilainya sebagai siswa yang apatis, tapi tidak lagi!”Jina menghentikan ceritanya dan kembali memakan pudingnya.

“Kenapa? Apa dia telah berubah?” tanya Sunny yang rasa penasarannya begitu besar.

“Jujur saja kami semua kaget saat mengetahui Kyuhyun menyelamatkan masa depan Kibum, dia benar-benar siswa yang baik di mata kami, kami salah menilainya sebagai seorang yang apatis!” jawab jina dengan raut penyesalan.

“Masa depan?”

Sunny tercengang sementara Jina sepertinya masih sibuk merenungi kesalah pahamannya kepada sang murid, Sunny kembali menatap KyuLine dan Kibum, mereka tengah sibuk bersenda gurau, memaksa Kibum memakan makanan dari tangan mereka dan tertawa bersama-sama. Manis, Sunny akui itu, mereka terlihat sangat manis, meski ia tak bisa melihat wajah Changmin dan Kyuhyun yang membelakanginya tapi ia yakin ketiganya pasti tengah tersenyum lebar seperti yang dilakukan Jonghyun dan mengapa tiba-tiba dadanya tersa sesak dan hatinya merasakan kerinduan yang begitu besar.

.

.

.

“Kau pasti melihatnya.”

Minho menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, kelas nampak sepi, hanya ada suara dari Mr. Smith sang guru bahasa Inggris yang tengah mengajarlah yang terdengar.

“Kau berbicara denganku?” tanya Minho dengan tampang bodohnya, sedikit ragu karena Jonghyun menatap lurus ke papan tulis.

Jonghyun tak juga menjawab dan Minho kembali menggambar di buku catatannya tanpa mempedulikan pelajaran yang dianggapnya tak penting, jelas saja Minho pintar berbahasa Inggris, diajari tenses sama saja seperti ia diajari mendrible basket, padahal ia sudah ahli melakukannya.

“Dia terus memperhatikan kita.” Minho mengernyitkan dahinya, mengehela napas dan meletakannya pensilnya.

“Ck!”

Minho berdecak kesal saat dilihatnya Jonghyun masih duduk menatap lurus papan tulis, seperti patung yang bisa berbicara, pikirnya.

“Apa yang dicarinya?” kali ini Jonghyun bertanya.

Minho mengepalkan tangannya kesal, “Kau-”

“Minho-ssi, ada berapa tenses yang kau ketahui?” Minho kembali mengepalkan kedua tangannya dan menatap Jonghun kesal.

“Tenses terbagi menjadi 3 waktu, semuanya ada 12 tenses, jika dengan pengembangan’Past Future Tense’ akan bertambah menjadi 16!” jawab Minho lancar, Mr. Smith tersenyum dan menganggukan kepalanya.

“Bagus, aku tahu kau pintar tapi kau tetap harus memperhatikan pelajaran, bukan malah mengajak temanmu berbicara!” sindirnya membuat Minho memerah, entah malu atau marah, pasalnya Jonghyun lah yang mengajaknya berbicara, bukan sebaliknya.

Mr. Smith kembali melanjutkan pelajarannya sementara Minho mulai sibuk dengan kertas dan pensilnya lagi, kali ini bukan untuk menggambar melainkan menulis dengan tulisan raksasa dan memberikannya kepada Jonghyun.

Kau ini bicara apa sih? Siapa yang lagi ngeliatin kita?”

Jonghyun mengambil penanya dan menuliskan sebuah nama di atas kertas milik Minho, menggesernya hingga berada di meja milik sahabatnya, memuaskan rasa penasaran Minho.

LEE SUNGMIN.”

Minho mematung dengan mulut menganga saat membaca nama itu, ia pikir Jonghyun sudah lupa tapi nyatanya ia kembali membicarakan masalah itu. Minho menolehkan kepalanya ke arah Jonghyun dan menatap gelisah, tapi ia sudah terlanjur melakukannya dan tak mungkin jika harus dihentikan.

.

.

.

“Kibummie,” Kibum mendelikan matanya tajam saat melihat Siwon menghampirinya, “Err… maksudku Kibum-ah!” ralat Siwon sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tak yang diajak bicara bukannya menjawab malah sibuk merapikan buku-bukunya.

“Hei kuda jantan mau apa kau ke kelasku?” tanya Changmin galak, Jonghyun dan Minho mengekor di belakangnya sembari memberi tatapan mengintimidasi kepada siswa paling tampan di sekolah itu.

“Aku tidak ada urusan dengan perut kuali!” balas Siwon yang jelas saja menohok hati Changmin.

“Memang apa urusanmu?” tanya Minho, ikut-ikutan kesal.

“Yang pasti itu bukan urusanmu mata kodok!” jawab Siwon tak kalah kesal.

Yaa! Temanku punya nama, jangan seenaknya memanggilnya dengan sebutan mata kodok!” seru Jonghyun tak terima.

“Benar itu, dan namaku Shim Changmin bukan perut kuali!”

“Tapi kan kau duluan yang memulai dengan kuda jantan!” koor Siwon, Minho dan Jonghyun.

“Aish iya-iya maaf, habisnya kan aku kesal dengan kejadian Jumat lalu!” kata Changmin malu.

“Itu jugakan bukan sepenuhnya salahku!” bela Siwon, “Lagipula kalian kepo banget sih sama urusanku dan Kibummie!”

“Namanya Kim Kibum!” ralat Jonghyun, sepertinya ia tidak suka jika ada yang salah menyebutkan nama di hadapannya.

“Apalah!” Siwon melambaikan tangannya pasrah, “Tapi kenapa Kibum-ah sekarang tidak ada?”

MWO?” pekik Changmin dan Minho.

“Kalian terlalu sibuk bertengkar, jadi tidak sadar kalau dia sudah pulang bersama Kyuhyun sejak tadi!”Jonghyun menyampirkan tasnya dengan santai.

“Jadi kau sadar?” tanya ketiga pangeran kesiangan itu.

“Tentu saja!” jawabnya acuh tak acuh.

“Kenapa tidak bilang!” seru ketiganya sembari menahan rasa kesal.

Sepertinya selain gemar meralat kesalahan pada nama teman-temannya, Jonghyun juga gemar mematahkan hati teman-temannya.

.

.

.

Seorang pelayan baru saja selesai menata peralatan makan ketika dua remaja putra berwajah tampan layaknya pangeran itu datang, keduanya duduk berhadapan dan mulai makan dalam diam, kegiatan yang baru berlangsung sejak kejadian tempo hari di sekolah itu terang saja membuat para pelayan menggunjing sejak pertengahan Desember tahun lalu, ketika Kibum menginjakan kakinya di rumah ini tak sekalipun keduanya berkomunikasi dengan bahkan hanya untuk sekedar sarapan bersama.

“Kenapa tadi kau keluar dari kelas?” tanya Kibum di tengah kegiatannya mengiris potongan daging impor, lagi-lagi kegiatan yang cukup membuat para pelayan Cho takjub dan menganggap barangkali mereka sudah menjadi sangat dekat.

“Tsk!” Kyuhyun menyilangkan garpu dan pisaunya di atas piring, “Kibum-ssi kau bisa membuat napsu makanku hilang dengan membahasnya!” kata Kyuhyun, sarkastik.

Suasana mendadak menjadi tegang, Kibum mengernyit heran mendapati Kyuhyun yang kembali bersikap dingin padanya, sementara para pelayan yang berdiri di sudut ruangan berbisik penasaran dengan pembicaraan kedua majikan mereka.

“Kau pikir, apa yang akan kau lakukan kepada orang yang sudah mengecewakanmu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Eum, sedih… entahlah!” gantian Kyuhyun yang mengernyit heran.

“Bagaimana rasanya jika orang yang kau sukai pergi?” tanya Kyuhyun lagi.

“Yoona bilang sangat menyakitkan, dia bisa menghabiskan banyak gulungan tissue!” jawab Kibum, lagi-lagi membuat Kyuhyun heran.

“Tsk, siapa itu Yoona?” tanya Kyuhyun sedikit kesal.

“Im Yoona itu sepupuku, dia gadis yang sangat cantik, kau pasti akan menyukainya!” jawab Kibum heboh.

Sebenarnya dia sangat dekat dengan Yoona jadi jangan heran jika membicarakan entang Yoona pasti tingkahnya akan meluap-meluap seperti anak kecil yang baru saja mendapat balon dan permen.

“Aku gay, bodoh!” elak Kyuhyun telak.

Merasa moodnya benar-benar hilang putra semata wayang Cho itu beranjak pergi meninggalkan Kibum yang masih melongo di tempatnya, Minho memang pernah mengatakan bahwa KyuLine gay, tapi selama ini ia berpikir bahwa Jonghyun dan Kyuhyun tidak termasuk di dalamnya.

“Apa dia benar-benar gay?”

Entah terlalu polos atau apa, Kibum malah bertanya kepada para pelayan yang masih setia berdiri menemaninya makan, para pelayan itu mengangguk pelan dengan senyum termiris yang mereka punya. “Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak di antara pria-pria gay?”

.

.

.

“Kemarilah!”

Jungmo menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mempersilahkan Sungmin untuk duduk di sampingnya, Sungmin duduk dengan wajah lesunya, ada banyak hal yang tengah menggelayuti perasaannya.

Gwaenchanayo?” Jungmo menatap iba wajah sang sahabat, “Ceritakan hari pertamamu di Paran!” pinta Jungmo.

“Hum!” Sungmin mengangkat kedua bahunya.

Marebwa!”

Seperti biasanya, Jungmo memilih untuk memaksa Sungmin yang tertutup, kalau boleh memuji sebenarnya hanya kepada Jungmo lah Sungmin bisa bersikap sangat terbuka, nyaman, ya mungkin karena perasaan nyamanlah Sungmin selalu berhasil menceritakan segalanya kepada Jungmo.

“Mereka pergi!”

Mwo?”

“Changmin, Kyuhyun dan Jonghyun keluar dari kelas sebelum aku sempat mengajar, mereka menatapku dengan penuh kebencian!”

Jungmo mengusap punggung Sungmin saat dilihatnya ada air mata bergumul, siap meluncur di pipi chubby milik sahabatnya itu.

“Setidaknya Minho mengikuti pelajaranku, dia meminta maaf atas sikap ketiga temannya dan berjanji akan membantuku.”

“Minho pasti membantumu!”

Jungmo bersugesti positif, Sungmin hanya membalasnya dengan senyuman, “Yang harus kau lakukan adalah bersabar dan tetap berusaha, karena batu yang keras pun bisa hancur dengan tetesan air yang membasahinya seiap hari!”

“Jungmo…”

Sungmin memeluk Jungmo erat, menenggelamkan dirinya di dalam lengan kekar Jungmo, sembari menangis, menangis karena rasa lelah dan juga rasa haru, haru akan pengorbanan Jungmo yang begitu besar. Sementara Jungmo diam-diam menyimpan kekhawatiran yang begitu besar, kekhawatiran yang mungkin haya diketahui dirinya dan Tuhan. Jungmo tersenyum hambar, ada hal besar yang tak pernah bisa diungkapkan olehnya.

.

.

.

“Ku rasa, ada yang salah dengan diriku,” Kibum bergumam pelan, seraya memijat keningnya yang terasa berdenyut.

Cha!”

Sebuah tangan kekar terulur dengan sebotol air mineral dingin, wajahnya yang tampan terlihat bersinar dengan senyum berhiaskan lesung pipit kebanggaannya, Choi Siwon, pria yang sepertinya tak memiliki kata menyerah di dalam kamusnya itu kembali datang menghampiri Kibum.

Gomawo!” seru Kibum seraya mengambil botol minum tersebut.

“Kau terlalu banyak membaca, makanya kau pusing!” kata Siwon, sadar dengan sikap Kibum barusan.

“Eum mungkin,” jawab Kibum yang kemudian kembali focus dengan buku bacaannya.

“Gumanhae!” Siwon menarik buku itu, “Dibacanya nanti saja, sekarang kau istirahatkan otakmu!” perintahnya dengan tangan yang bergerak bebas merangkul pundak Kibum.

“Ah mianhae Sunbaenim!” Kibum melepaskan tangan Siwon dari pundaknya, “Aku lupa kalau tadi Lee Sonsaengnim memanggilku, aku pamit Sunbaenim, permisi!”

Kibum berlari secepatnya menghindari Siwon –yang agaknya menjadi sangat genit hari ini, untunglah ia ingat tentang janjinya untuk mampir ke ruang guru.

Annyeong Sonsaengnim!” sapa Kibum, Sunny yang tengah mengoreksi lembar kerja siswa itu menoleh dan mempersilahkan Kibum duduk di hadapannya.

“Ku dengar kau selalu ke perpustakaan saat istirahat, apa aku menganggumu?” tanya Sunny tak enak.

Aniya, gwaenchana, aku baru saja dari sana!” jawabnya, jujur.

“Oh! Juyohan memintaku memilih beberapa murid untuk di seleksi mengikuti olimpiade Matematika tingkat nasional, tapi seperti yang kau tahu aku baru mulai mengajar sejak kemarin!” kata Sunny mencoba menjelaskan.

Ne!” Kibum mengangguk paham.

“Kita belum mendapatkan peringkat di awal semester ini tapi dari data yang kulihat, kau adalah perserta terbaik saat tes masuk, aku akan menyeleksi 5 terbaik!”

“Eum kenapa yang lain tidak ada?” tanya Kibum canggung.

“Aku sudah bertemu beberapa di antara mereka kecuali Cho Kyuhyun!”

Sunny tersenyum hambar, sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana untuk berbicara dengan putra Cho tersebut.

“Kalau begitu aku akan memanggilnya!” Kibum mengeluarkan ponsel pintarnya tapi Sungmin dengan cepat melarangnya.

“Nanti saja, pulang sekolah nanti kau dan Cho Kyuhyun datanglah ke ruang English Club, kita akan meminjam ruangan itu untuk seleksi, kau bersedia kan?” tanya Sunny.

“Tentu saja!” jawab Kibum semangat, Sunny tersenyum tulus, Kibum seorang yang ceria dan ramah, pantas saja jika KyuLine begitu dekat dengannya.

.

.

.

“Kibummie!”

Changmin berlari ke arah Kibum kemudian memeluknya dengan erat.

Yaa lepaskan! Kau bisa membuatnya mati kehabisan napas!”

Minho menarik Changmin, kesal melihat Changmin dengan bebasnya memeluk pria yang tengah disukainya.

“Kyu, nanti kau tidak ada latihan basketkan?” Kibum menghampiri Kyuhyun yang tengah asik dengan ‘kekasih’nya.

“Hn.” jawab Kyuhyun seolah Kibum mengerti maksudnya.

“Baguslah!” Kibum tersenyum senang.

“Kalian mau ke mana?” tanya Changmin cepat.

“Sepertinya akan benar-benar membeli kucing dan kelinci ya?” tanya Jonghyun membuat Changmin dan Minho panas.

“Kalau begitu aku ikut ya!” pinta Minho.

Ani!” tolak Kibum.

Wae?” Minho memelas.

“Aku dan Kyuhyun akan mengikuti seleksi olimpiade Matematika sepulang sekolah nanti!” Kibum menjelaskan.

“Apa katamu?” Kyuhyun membiarkan gamenya berjalan tanpa kendali, mata tajamnya menatap wajah Kibum dengan sangat intens.

“Guru baru yang kemarin, Lee Sonsaengnim bilang-”

“Kau saja!” bentak Kyuhyun, memotong Kibum, “Aku tidak mau berurusan dengannya!” katanya lagi, masih dengan nada yang kasar.

Changmin, Jonghyun dan Minho hanya diam saat Kyuhyun pergi meninggalkan mereka sementara Kibum menunduk takut. Kyuhyun baru saja membentaknya, ia bahkan tak merasa telah melakukan kesalahan, tapi rasa sakit itu jelas-jelas menjalar di dalam hati.

TBC

Advertisements