Tags

, , , , , , , ,

IMG-20140607-WA0001

Cast: Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Siwon, Choi Minho, Lee Jonghyun, Lee Sungmin, Kim Jungmo and others

Genre: Romace, Comedy

Rating: AU

Disclaimer: Semua cast bukanlah milik saya tetapi cerita ini murni milik saya

Summary: Kim Kibum seorang namja introvert yang terpaksa tinggal dengan Cho Kyuhyun yang dingin dan ketus. Kehidupannya yang datar berubah ketika para kingka mengelilinginya.

Pairing: KyuBum, ChangBum, SiBum, JungMin

p. s Pairing lain menyusul seiring berjalannya cerita

©SnowBum KyuDevil proudly presents

.

.

.

Gelap, matahari seolah tertelan langit hitam, awan bahkan berarak menutupi rembulan, membuat suasana terlihat mencekam.

“Huft.”

Kibum menghela napas, menunduk kecewa saat tak menemukan satupun bintang di langit. Suram, seperti suasana hatinya sekarang. Entah mengapa ada perasaan sakit di hatinya saat Kyuhyun membentaknya, bukankah ia tahu Kyuhyun memang dingin dan kasar? Kyuhyun bahkan meninggalkannya pulang, membiarkan Kibum menghampiri Sunny sendirian.

Heran, kata itu sepertinya yang paling tepat menggambarkan pikirannya. Pasalnya ia tak menemukan sedikitpun kesalahan yang dilakukan Sunny hingga membuat Kyuhyun begitu membenci wanita itu.

Angin bertiup kencang saat Kibum menutup pintu jendela kamarnya, masih bisa dilihatnya tampias hujan yang membasahi lantai kamar. Dingin meski tak sedingin sikap Kyuhyun terhadapnya, “Aish!” Kibum membanting tubuhnya ke ranjang dengan kasar, bagaimana bisa ia masih memikirkan pria itu di saat seperti ini.

Suara petir terdengar sahut-menyahut di udara, Kibum memejamkan matanya selama beberapa saat hingga tiba-tiba ada rasa sakit luar biasa di kepalanya. “Akh!” Kibum memijat keningnya sekedar untuk mengurangi rasa sakitnya tapi rasa sakit itu tak kunjung hilang. Kibum beranjak dari ranjangnya, berjalan dengan langkah tertatih keluar dari kamarnya. Ini belum larut malam tapi suasana rumah sudah sangat sepi, mungkin para pelayan sudah meringkuk nyaman di balik selimut karena dinginnya malam. Mungkin hanya Kibum yang masih terjaga dengan bermandikan keringat di sekujur tubuhnya.

Odie?”

Kibum menggeratak kotak obat dengan panik, tidak ada aspirin yang bisa meringankan rasa sakit di kepalanya. Kibum beralih mencari gelas, seteguk air putih mungkin bisa menenangkan dahaganya. Dengan gerakannya yang sembrono Kibum menarik gelas beling dan botol air minum, tangannya bergetar hebat tapi ia tetap memaksa untuk menuangkan sendiri air minumnya.

PRAAANGGG! Kibum menatap sedih pecahan beling yang nyaris melukai kakinya, ia tak berhasil meminum airnya tetapi ia malah menghancurkan gelasnya, “Huft! How silly I am!” desisnya kesal.

“Sedang apa kau?”

Kibum melotot kaget saat melihat bayangan Kyuhyun di gelapnya malam, wajahnya yang selalu masam dan matanya yang tajam terlihat begitu menyeramkan terlebih saat kilat bersinar menerpa kulit pucatnya yang nyaris tak berona.

Mwo?”

Kyuhyun berjalan menghidupkan saklar, ia dapat melihat dengan jelas pecahan beling berserakan dengan genangan air di sekitar kaki Kibum yang tak beralas, “Ck! Babonika!” rutuknya.

.

.

.

“Aku benar-benar tidak tahu aspirinnya ada di mana.”

Kibum menunduk malu saat seorang pelayan membawakan aspirin untuknya, Kyuhyun melengos malas kemudian memutar kedua bola matanya kesal.

“Kalau tidak tahu ya tanya!” sindir Kyuhyun.

“Ku pikir semua orang sudah tidur, aku tidak mau mengganggu.” Kibum membela dirinya.

“Sekarang kau malah mengganggu tidur semua orang dengan pecahan beling ala dramamu!” kata Kyuhyun mendramatisir.

“Lagi pula tadi aku sedang panik!” lagi-lagi Kibum membela dirinya.

“Sudahlah sudah, ini sudah malam… bisa-bisa semua orang tertular sakit kepala karena kurang tidur!” gurau Kyuhyun yang malah membuat Kibum semakin dongkol.

Satu persatu pelayan yang terbangun kembali ke kamar mereka, meninggalkan Kim Kibum sendirian.

“Sebenarnya dia mengkhawatirkanku atau tidak?” gumam Kibum jengkel, “Lagipula apa peduliku dengan perasaannya?” Kibum memutar bola matanya, “Aish sudahlah!” Kibum menjenggut rambutnya sendiri kemudian beranjak pergi dari ruang keluarga.

.

.

.

Changmin menatap kotak bentonya dengan tampang sumringah, Jonghyun dan Minho sedang asik bermain kartu ala anak SMP di meja Kyuhyun, sementara anak-anak gadis sibuk bergosip soal teman-teman pria mereka yang tampan dan siswa lain berkerumun melihat majalah dewasa yang nekat di bawa Sungjong ke sekolah. Kibum dan Kyuhyun malah baru sampai di kelas yang tak pernah sepi kecuali saat jam belajar tersebut.

“KIBUMMIE!” pekik Changmin membuat suasana kelas mendadak lengang.

Si Tiang Listrik yang hobi makan itu dengan cepat berlari menghampiri si polos Kibum dan membiarkan bentonya terbuka tanpa sempat dicicipi.

“Bummie~”

Changmin bergelayut manja di lengan Kibum seolah ia sedang merengek kepada sang ibu untuk dibelikan eskrim, tentu saja tindakan tidak tahu malunya itu memicu tawa dan tatapan geli dari teman-teman sekelasnya.

Kyuhyun yang berada tepat di samping keduanya melengos dan pergi ke tempatnya, sialnya ia mendapati temannya yang bermata kodok tengah duduk manis di atas mejanya sembari memegang beberapa kartu yang disejajarkan seperti kipas sementara temannya yang lain -yang katanya mirip dengannya, duduk di bangkunya dengan kartu-kartu yang tak kalah banyaknya. Lalu entah sejak kapan seorang Choi Sooyoung duduk cuek sembari memakan bento di meja keramat milik Shim Changmin dengan wajah belepotan dan tanpa dosanya.

“Huft…”

Kyuhyun menghela napasnya sembari mengepalkan kedua tangannya geram. Terang saja, meja dan kursinya bisa kotor karena Choi bersaudara.

Mendengar helaan napas Kyuhyun, Minho malah melengos melihat pria manis di depan papan tulis yang baru saja sampai, “Bummie~” Minho melempar kartunya dengan cengiran nakal yang menghiasi wajah bak pangerannya, ia berjalan menghampiri Changmin yang asik menebar feromonnya tanpa mempedulikan keberadaan sekitarnya.

Yaa Choi Minho kita belum selesai bermain! Aish!” Jonghyun merapihkan kartunya kemudian tersenyum kaku ke arah Kyuhyun, “Silahkan!” kata Jonghyun sembari menepuk-nepuk kursi dan meja Kyuhyun, sadar bahwa ia dan Minho baru saja merusak wilayah teritori anak setan yang sudah lama berteman dengannya itu.

“Kau juga minggir!” Jonghyun berbisik di telinga Sooyoung yang entah sejak kapan berada di sana.

“Mwo?”

Sooyoung mengerjapkan matanya, sok polos.

“CHOI SOOYOUNG APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN BENTOKU?” pekik Changmin sebelum Jonghyun menjawab sikap ‘pura-pura polos’ sepupu Choi Minho itu.

“Hihihi…”

Sooyoung tertawa garing sembari menyembunyikan tubuh kelewat tingginya di balik tubuh Jonghyun.

“Tidak!” Changmin menatap horror kotak bentonya, “Ini untuk Bummieku… Aku yang membuatnya sendiri untuk Bummieku…” tangisnya membuat Sooyoung menggigit bibirnya, merasa bersalah.

“Lanjutkan itu semua di drama perpisahan kelas tiga nanti!” gurau Kyuhyun sembari mendorong tubuh lemas Changmin. Kesal juga melihat tingkah aneh bin ajaib teman-temannya di kelas yang katanya berisikan murid-murid pintar ini.

Sementara itu Choi Minho dan Kim Kibum sepertinya tengah terlibat dalam percakapan akrab yang menyenangkan, “Bummie ini cok-”

“Bummieeee~” Changmin berlari mendorong Minho membuat coklat yang tengah dipegangnya terjatuh, “Aku janji akan mentraktirmu makan enak hari ini tapi ku mohon kau jangan marah padaku!” rengek Changmin dengan jurus puppy eyes gagalnya.

Nde…” kata Kibum dengan senyum tulusnya, “Lagipula yang kemarin itu aku hanya bercanda!”

Ani! Aku akan tetap membuatkanmu bento yang paling lezat sedunia besok, kau tunggu saja Kibummie, dijamin kau suka!” bantah Changmin mesara bersalah.

“Lho Bummie kan ngga boleh makan seafood, nanti alergi lho!” kata Minho yang rupanya sudah berhasil bangun.

“Aku mengganti semua bahan dasar seafood dengan ayam, jadi Bummieku sayang ngga akan terkena alergi!” seru Changmin senang.

“Eum, gomawo!” kata Kibum, “Itu untukku kan?”

Kibum menunjuk sekotak coklat Swiss di tangan Minho yang sempat jatuh karena ulah Changmin tadi.

“Oh? Tentu saja!” Minho mengulurkan tangannya dan memberikan coklat mahal itu kepada Kibum, “Aku menepati janjiku kan?” katanya seraya melirik wajah kesal Changmin.

“Aish pasti kau sengaja menyuruh Sooyoung!” desis Changmin yang tak di pedulikan oleh Minho, dia malah tersenyum manis dan kembali ke tempat duduknya.

Gwaenchana!” Kibum menepuk pundak Changmin membuat putra Shim itu terkejut.

Aigoo…”

Changmin memegang pundaknya dengan senyum sumringahnya, rasanya sentuhan Kibum yang begitu lembut telah berhasil mengipnotisnya.

.

.

.

Jam istirahat yang menyenangkan, setidaknya itulah yang tertulis di kepala sebagian besar siswa. Kyuhyun, Changmin, Jonghyun dan Minho seperti biasanya pergi ke kantin, kali ini mereka tak berhasil memaksa Kibum untuk ikut bersama mereka, jadi kini mereka kembali ke formasi awal.

“Bisakah kau berhenti makan?” tanya Jonghyun saat melihat Changmin melahap porsi ketiganya.

Ini baru jam sepuluh dan akan ada makan siang sungguhan nanti, mungkin hanya orang-orang seperti Shim Changmin dan Choi Sooyoung yang makan dalam porsi mengerikan seperti itu.

“Bisakah kau matikan PSP-mu?” tanya Minho sembari menarik PSP milik Kyuhyun tanpa izin, “Tenang!” Minho memamerkan gesture tangan ala Choi Siwon yang belakangan ini sering ditirunya.

“Ini adalah hasil diskusiku dengan Minho.” Jonghyun menahan napasnya, Kyuhyun dan Changmin menatapnya sengit.

“Kita bukan anggota OSIS!” Changmin menolak mendengarkan.

“Ayolah kami ingin berbicara serius!” kata Minho sembari menarik makan siang Changmin.

“Mungkin sudah saatnya kita move on!”

“Berpindah… ke dalam!” racau Changmin ikut meniru gesture tangan milik Choi Siwon.

“Yang benar itu berjalan terus, bodoh!” Minho memukul kepala Changmin kesal.

“Aku tidak mengerti maksudmu!” kata Kyuhyun.

“Aku juga!” sambar Changmin, ikut-ikutan.

“Kalian tahu? Ini tentang Lee Sungmin… maksudku…”

“Maksudmu apa?” tanya Changmin datar.

Jonghyun memijat keningnya, “Ini… Kita bukan lagi anak kecil… Maksudku adalah-”

To the point!” tuntut Kyuhyun bosan.

“Jangan berputar-putar, kau bukan orang yang suka bertele-tele Lee Jonghyun!” suara Changmin terdengar dingin.

Jonghyun tahu bahwa tidak mudah membawa masalah ini ke dalam pembicaraan dengan Kyuhyun dan Changmin. Bagaimanapun mereka berdua adalah orang yang paling merasa sakit sejak kejadian itu.

“Kalian berdua tak usah marah-marah seperti itu, kami hanya berpikir untuk membantu memperbaiki hubungan ini.”

“Hubungan apa?” marah Changmin, ia menatap mata besar Minho seolah mencari jawaban atas pertanyaannya, “Kau pikir kami punya hubungan apa dengannya?”

“Teman.” jawab Jonghyun.

Changmin menyeruput jusnya tak sabaran, Kyuhyun hanya diam dengan tatapan kosong.

“Aku tidak berusaha mempengaruhi Jonghyun, aku juga tak pernah dipengaruhi oleh Jungmo Hyung.”

Minho melambai-lambaikan kedua tangannya, seolah memberi isyarat penolakan.

“Kami tulus, kami benar-benar ingin hubungan kita dan Sungmin Hyung kembali baik!” sambung Jonghyun, yang pada akhirnya bisa bersikap santai.

“Baiklah…” kata Kyuhyun membuat Changmin tersedak, Kyuhyun mengambil PSP-nya lalu pergi meninggalkan teman-temannya.

“Bagaimana Shim Changmin?” tanya Jonghyun.

“Kau sedang tawar-menawar denganku?” tanya Changmin polos, “Baiklah, tapi jangan kalian pikir aku masih menyukai kelinci gendut itu!” katanya tak sopan.

“Jadi sebenarnya kau memperhatikan bentuk tubuhnya ya?” ejek Minho sekali lagi membuat Changmin tersedak.

YAA!”

Changmin melempar bola basket ke wajah pangeran kodok di sampingnya. Jonghyun hanya tersenyum melihat keduanya, ini baru awal Lee Jonghyun dan kau tahu bahwa ini tak semudah membaca tapi akan menjadi sesulit menghapal dan mempraktikan.

“Aku tahu.”

.

.

.

Siwon menopang dagunya di meja, di samping sebuah buku yang dibiarkan terbuka tanpa terbaca, matanya terus menatap sesosok pria cantik dengan intens. Sudah 10 menit berlalu dan ia belum juga bosan memandangi mata sayu berbingkai kaca mata hitam, pipi bulat kemerahan dan bibir pink ceri menggoda milik sang junior. Beruntung hari ini ia tak diganggu oleh Changmin dan kawan-kawan.

Sementara di hadapannya, di meja yang sama dengannya sebuah ensiklopedia setebal 10 cm sejak tadi berhasil mencuri perhatian Kim Kibum dari sekitarnya. Entah mengapa ia tak pernah merasa jenuh ataupun lelah membaca buku-buku yang malah membuat kemampuan melihatnya berkurang, bukankah tepat di hadapannya ada pemandangan yang jauh lebih indah dan menyegarkan mata. Ah ya dia adalah Kim Kibum seorang pria remaja yang pendiam dan cenderung tak peduli sekitarnya, bukan seorang gadis remaja genit yang akan berteriak histeris setiap melihat pria tampan seperti Choi Siwon.

“Ehm~”

Merasa cukup melihat sikap cuek Kibum, sang kapten tim basket sekolah menutup buku yang tengah dibaca Kibum, membuat kedua alis Kibum saling bertautan, sebagai balasan Siwon tersenyum lebar.

Mwohandago Sunbaenim?” tanya Kibum heran, sebenarnya ia sadar Siwon membuntutinya sejak ia akan pergi ke perpustakaan tetapi Kibum malas untuk mencari keributan.

“Kibum-ah kumohon beri aku kesempatan setidaknya sampai hari kelulusanku!”

Kibum mendongakan kepalanya, menatap Siwon yang entah mengapa menjadi sosok yang menggemaskan ketika memohon kepadanya.

S-Sunbaenim jangan seperti ini!” Kibum melepas genggaman tangan Siwon, “Aku ini normal Sunbaenim, kau tidak akan bisa membuatku jatuh cinta kepadamu!” elak Kibum.

“Tapi bagaimana jika aku bisa mengubahmu menjadi seorang gay?” tantang Siwon yakin, sepertinya pengalaman beberapa uke membuatnya lebih percaya diri.

Kibum menganga dengan sebelah alis yang terangkat, “Woahahaha Sunbae kau lucu sekali, itu tidak akan mungkin!”

Kibum kembali mengelak, kakinya sudah siap untuk berjalan meninggalkan Siwon tapi entah mengapa ia berbalik seraya berkata: “Baiklah! Hanya sampai hari kelulusanmu!”

Siwon mematung, baru saja telinganya mendengar persetujuan dari seorang Kim Kibum. Kakinya seolah lemas seketika, ia berlutut tapi bibir tipisnya tersenyum lebar dan bahkan matanya berbinar senang.

Siwon menang selangkah dari Shim Changmin, Siwon punya kesempatan untuk mendapatkan hati Kim Kibum. Dunia ini seolah berpihak padanya dan surga seolah berada di depan matanya. Indah, benar-benar indah.

Sementara Kibum tengah merutuki dirinya sendiri yang dengan lancang menerima permintaan konyol Siwon.

.

.

.

‘Sebentar lagi dia masuk, aku tidak mungkin pergi dari pelajaran Matematika untuk kedua kalinya’ batin Kyuhyun, tangannya sibuk bermain PSP, matanya terlihat fokus pada layar tetapi pikirannya tak pernah jauh dari Lee Sungmin dan masa depan hubungan mereka.

“Sebentar lagi kelinci gendut itu datang!” Changmin berbisik di telinga Kyuhyun, meskipun tak dijawab Changmin tahu Kyuhyun sedang memikirkan hal yang sama dengannya.

Sementara di barisan paling depan tempat Kibum dan Ryeowook duduk, Kibum sedang melamun tanpa buku yang biasa dibacanya, jelas saja hal itu membuat Kim Ryeowook yang nyaris satu bulan duduk dengannya merasa bingung. “Kibum-ah, neo gwaenchanayo?” tanya Ryeowook, khawatir.

“Eum, sepertinya” Kibum mengangguk pelan.

“Kenapa sepertinya? Kau harus menjawab dengan yakin Kibum-ah!” kata Ryeowook kebingungan.

“Ryeowook-ah apa benar masa sekolah di Korea lebih panjang dari pada di negara lain?” tanya Kibum takut-takut.

“Kau kenapa Kibum-ah?”

Ryeowook semakin bingung melihat ekspresi ketakutan Kibum, Kibum hanya menggeleng dan mendesak Ryeowook menjawab pertanyaannya.

“Terlihat lebih lama karena kita jarang sekali libur tapi kalau sudah terbiasa menurutku sama saja, kita termasuk beruntung karena sekolah ini terkadang membiarkan kita pulang sore!” jelas Ryeowook.

“Sore kau bilang?” kedua alis Kibum bertautan.

“Jam 7 kan masih cukup terang, masih bisa disebut sore!” jawab Ryeowook santai.

“Ck! 14 hingga 16 jam berada di sekolah, benar-benar mengerikan!” keluh Kibum.

Dalam hati ada hal lain yang sebenarnya lebih membuatnya kesal, yaitu perjanjiannya dengan Siwon, ini adalah awal dari tahun ajaran baru, masih ada banyak bulan yang akan ditemuinya hingga hari kelulusan Siwon. Bisa saja ia benar-benar jatuh cinta pada si pemilik senyum Joker tersebut, “Sh*t! I’m dead!”

Mwo? Siapa yang mati?” tanya Ryeowook polos, Ryeowook memang pintar tapi tidak dalam bahasa Inggris, nilai listeningnya saja hanya rata-rata.

Ah aniyo!” elak Kibum, Ryeowook yang tidak percaya berusaha bertanya, menurutnya Kibum jadi aneh sekali hari ini tapi sayangnya bel masuk berbunyi dan Sunny si guru baru itu telah datang.

Kibum dan Ryeowook menoleh ke belakang mereka, membuat Minzy dan Sulli yang duduk di belakang mereka ikut menoleh ke belakang. Entah radar dari mana satu persatu murid mengikuti mereka dan memperhatikan Kyuhyun dan Changmin yang tengah duduk kaku di meja mereka.

“Kenapa tidak ada yang melihatku?” gumam Jonghyun.

“Kau kurang tenar, sepertinya.” bisik Minho membuat Jonghyun jengkel.

Sunny tersenyum, “Kwon Sohyun, mereka Cho Kyuhyun dan Shim Changmin kan?” tanya Sunny kepada sekretaris kelas.

Sohyun buru-buru mengangguk, “Dan Lee Jonghyun yang itu!” Sohyun menujuk orang yang duduk tak jauh dengannya.

“Baiklah, berikan mereka hukuman yang kutitipkan kemarin padamu, sekarang!” perintah Sunny, tegas.

Jonghyun menelan ludahnya, kelu. “A-apa-apaan ini?” gumam Changmin, Kyuhyun hanya memutar bola matanya, bosan.

Igo!”

Sohyun, si manis yang digilai kakak-kakak kelasnya itu memberikan setumpukan lembar kerja di atas meja Kyuhyun dan Changmin, “Kalian bertiga harus mengerjakannya sebagai PR karena hari ini kita akan mempelajari bab baru, karena ini bab lama kalian boleh tanya teman, kakak atau orang tua kalian bagaimana caranya, tapi jangan harap bisa tanya sama Sunny sonsaengnim!” Sohyun bertolak pinggang menunjukkan wajah jengkelnya.

“Kenapa begitu?” tanya Changmin, sewot.

“Karena kalian sudah seenaknya pergi saat pelajaran Sunny sonsaengnim, beberapa hari yang lalu, apa kalian sudah merasa pintar?”

Sohyun dengan tangan kiri yang masih setia bertengger di pinggang rampingnya, menujuk Kyuhyun, Changmin dan Jonghyun dengan tangan kanannya, satu persatu membuat teman-teman sekelasnya tertawa geli melihatnya.

“Aish!”

Changmin dan Jonghyun memijat kening mereka sembari mendongkol dengan kompak. Kyuhyun hanya menggaruk kepalanya, dia memang pintar tapi masa harus mengerjakan soal yang bahkan rumusnya saja tak pernah ia pelajari.

Minho tersenyum senang ke arah Sunny, Sunny sadar bahwa Minho melakukan sesuatu untuknya, jadi ia ikut tersenyum dengan penuh terimakasih kepada si mata kodok itu. Ini baru awal Sunny, masih banyak yang harus kau lakukan.

TBC

Advertisements