Tags

, , , , , , , ,

Bt3f5lECEAIbSJ3

Title: Crazy Little Thing Called Jung Kibum

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Kibum, Kim Heechul, Kim Junsu and others.

Rating: K+

Summary: Pokoknya Karam ngga mau lagi bertemu dengan anak-anak kakaknya terutama Jung Kibum.

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan alur cerita, tokoh dan lain-lain hanya kebetluan semata. Semua pemain kecuali Kim Kibum bukan punya saya /plak

.

.

.

Kim Karam adalah adik Kim Jaejoong satu-satunya, dia adalah gadis modis berusia 20 tahun, umurnya jauh sekali dengan kakaknya bukan?

Oh iya hari ini Karam seperti janjinya datang untuk menginap di kediaman Jung. Karam sekolah di Jepang sejak SMP, terakhir ia berada di Korea adalah saat Jaejoong melahirkan Kibum, itupun hanya satu minggu sekaligus memanfaatkan liburan musim panasnya.

“Karam-ah, kau masih ingat dengan mereka kan? Setidaknya dua jagoanku!” kata Yunho kepada adik iparnya, Jaejoong pernah mengirim foto anak-anaknya tapi si bodoh Karam malah tak sengaja menghapusnya.

“Err… ya, Changmin-ah, Kyuhyun-ah dan Kibum-ah?” kata Karam ragu-ragu.

“Aku Kyuhyun, Changmin itu adikku!” kata Kyuhyun setelah Karam menujuknya sebagai Changmin.

“Oh iya maksudku itu hahaha…”

Karam tertawa menutupi rasa malu, tidak sadar saja kalau Heechul dan Junsu juga menertawai kebodohan bibi muda itu.

“Karam-ah karena kau datang, bermainlah dengan mereka ya, kau jarang sekali pulang jadi tidak kenal mereka!” pinta Jaejoong tulus, bagaimanapun Jaejoong ingin agar anak-anaknya dekat dengan keluarga mereka.

“Baiklah Onnie, kau tenang saja!”

Karam tersenyum manis, Kibum sejak tadi memperhatikannya dalam diam, sementara kedua kakaknya masih sebal karena perkara salah nama tadi.

.

.

.

“Kibum-ah umurnya berapa?” tanya Karam gemas, pipi Kibum bulat seperti bakpao membuat siapapun yang melihatnya ingin mencubitnya.

“…”

Kibum diam tanpa ekspresi, Karam ternsenyum, semua anak kecil memang jutek saat pertama bertemu.

“Sudah sekolah belum?”

Karam bertanya lagi, sambil berusaha mendekati Kibum yang duduk di pojokan mencoret-coret buku bergambar miliknya.

Kyuhyun dan Changmin sedang asik main game ditemanin pengasuh mereka sementara Yunho dan Jaejoong di ruang keluarga menonton tv. Karam sudah malu dengan kejadian salah nama tadi, dua jagoan kakaknya itu langsung pasang muka asam dan menghindarinya gara-gara Karam salang sebut nama karena itulah Karam mendekati si bungsu Kibum.

Karam pernah ingin memilik adik perempuan tapi ibunya menolak untuk memilik anak lagi, Karam sendiri adalah anak bungsu di keluarga Kim.

“Gambar apa chagi?” tanya Karam sambil menatap coretan tak jelas dari tangan mungil Jung Kibum.

“Eum.”

Kibum bergumam tak jelas, tapi gumaman itu membuat Karam tersenyum, setidaknya sudah ada respon yang diberikan keponakan termudanya.

“Kibum rambutnya lucu ya, seperti mi.”

Karam membelai rambut Kibum, Karam sedikit aneh sebenarnya melihat Kyuhyun dan Changmin berambut ikal, rambut Kibum juga keriting meski hanya di bawahnya, padahal kedua orang tua mereka punya rambut yang lurus. Tapi mungkin rambut ikal ketiganya berasal dari ibu Yunho, seingat Karam mertua kakaknya itu punya rambut keriting bergelombang.

Kibum menoleh, menatap wajah cantik Karam dengan mata bulatnya, Karam jadi grogi dan berhenti mengusap rambut Kibum.

“Kalam Imo, Bummie mau nonton.”

Karam melongo, untuk pertama kalianya sejak dua jam bertemu, anak ini berbicara padanya. Bahkan sudah memanggilanya ‘Imo’.

.

.

.

Jadi Karam yang di maksud menonton adalah menonton lewat youtube, bukan tv atau dvd player, tapi tidak apa Karam, demi menyenangkan keponakan yang begitu asing denganmu, kenapa tidak?

“Bummie mau nonton Hello Kitty!” ujar bocah itu, Karam tersenyum dan mengabulkan permintaannya.

“Wuah lucu ya! My Melody? Dear Daniel?” Karam berpikir sendiri, kenapa ada nama yang begini aneh, “Oh iya tokoh utamanya saja Hello Kitty!”

“Bummie mau nonton Balbi!”

Kibum memegang mouse komputer yang dibelikan Yunho untuk anak pertamanya, -atas permintaan Kyuhyun yang hobi main game sebenarnya- Karam mengambil alih dan mencari kata kunci yang diinginkan Kibum.

“Nah, ini saja ya?” tanya Karam sembari menunjukan arah kursor ke salah satu film Barbie.

Ani… Bummie mau yang ini!” Kibum menunjuk salah satu gambar di hasil pencarian.

“Oh… The Diamonds Castle!” gumam Karam sambil mengklik gambar.

“Bukan Dayemon Kastil tapi Istana Belian, Imo!” kata Kibum meralat, Karam tersenyum karena Kibum meralat Karam dengan maksud yang sama.

“Iya, tapi dalam bahasa Inggris itu The Diamond Castle, Kibum-ah!” kata Karam.

“Maca? Itu bukan sun blait lek a dayemon tau!”

Kibum mengerucutkan bibirnya, Karam terkekeh karena Kibum mengucapkan lirik lagu Rihanna dengan asalnya. Heran juga kenapa bocah ini tahu lagi seperti itu.

“Iya deh iya, maaf ya, Imo salah, ini namanya Istana Berlian!”

“Bummie kalo macih gede mau punya Istana Belian!”

“Huahahahahaha…”

Kibum mengerjapkan matanya lucu, mungkin batinnya bertanya-tanya kenapa bibinya tertawa begitu kencang mendengar cita-citanya. Karam geleng-geleng kepala mendengar ocehan Kibum karena keponakannya itu berbicara dengan kata-kata yang salah dan nada yang sok tahu.

.

.

.

“Changmin, sudah ya, kau makan terus nanti gendut loh!”

Heechul melirik Junsu dan Changmin malas, kedua putra Jung masih bermain playstation tapi Changmin dengan manjanya minta disuapi makan, setelah makanannya habis dia malah meminta cemilan, terus begitu sampai yang menyuapi saja pegal.

“Kau tenang saja, perut adikku ini bukan perut karet yang elastis melebar saat diisi, perutnya seperti rumah tempat cacing-cacing bersemayam, jadi dia akan terus kelaparan tanpa bisa menjadi gemuk karena harus berbagi pada cacing-cacing pita.” jelas Kyuhyun panjang lebar, Heechul baru saja mau mengomentarinya tapi Junsu sudah menyelanya.

“Ya Tuhan pantas saja, sebentar ya Changmin, Noona carikan obat cacing untuk Changmin!” Junsu berlari cepat meninggalkan ruang bermain anak.

‘Pause’

Hyung jangan membodohi olang bodoh, kasian kan kalau nanti tambah bodoh, selamanya akan akan jadi bodoh!”

“Biarin aja, dia udah bodoh permanen kok!”

PLETAK! Heechul menjitak kepala Kyuhyun dan menatapnnya tajam.

“Jangan bicara tidak sopan pada orang yang lebih tua, kalian berdua dengar ya, Junsu tidak bodoh, hanya… sedikit bodoh…”

“SAMA SAJA!” koor Kyuhyun dan Changmin. Heechul cengar-cengir, setidaknya bukan aku yang bodoh, pikirnya.

.

.

.

“Bummie, Imo mau ke kamar mandi dulu ya!”

Karam baru saja ketumpahan jus karena ulah Kibum yang tidak bisa diam, padahal bajunya itu sedang trend di Jepang dan harganya pun mahal.

“Bummie juga mau ke kamal mandi, Imo!”

Kibum lompat turun dari kursinya hendak mengikuti sang bibi.

“Oh ya sudah ayo.” kata Karam pasrah saja, bukankah anak kecil akan merengek kalau keinginanannya tidak di kabulkan?

Sesampainya di kamar mandi Karam membersihkan noda di bajunya tapi agaknya noda itu sulit hilang. Kibum duduk di wastafel dan mencuci tangannya, nyaris saja dia membasahi bajunya dengan air.

“Jangan ikutin Imo, baju Imo kotor sedangkan baju Bummie bersih!” kata Karam, gemas.

“Baju Bummie juga kotol kok!” kata Kibum ngeyel.

“Sudah yuk, nonton lagi!”

Tak mau menanggapi ocehan keponakannya, Karam menggendong Kibum dan mengajaknya untuk kembali menonton. Anak kecil memang gemar meniru, tapi anak yang satu ini juga gemar mendebatnya, sialnya anak ini juga kelewat pintar untuk anak seumurnya jadi pusing sendirilah Kim Karam.

Imo, ini!”

Kibum menunjuk kembali gambar lain, padahal Karam baru saja mengganti tontonan Barbie mejadi Casper.

“Oh ini Playdoh! Bummie tau Playdoh?”

“Ini lilin, Kalam Imo!”

“Bukan, lilin dan Playdoh memang hampir mirip tapi sebenarnya berbeda!”

Kibum memilih memperhatikan tangan yang sedang membuat lollipop dari playdoh ketimbang mendengarkan bibinya.

“Ini membuat badut, Bummie mau lihat juga?” masih tentang cara membuat sesuatu dengan playdoh, tentu saja Kibum mau melihatnya.

“Baduuut!” seru Kibum, padahal belum benar-benar jadi.

“Hebat sekali, aku mana bisa buat beginian dari lilin?” gumam Karam, pada dirinya sendiri.

“Itu Playdoh bukan lilin, Kalam Imo!”

“…”

Karam terdiam, apa itu, anak kecil itu lagi-lagi meralat perkataannya. Jelas-jelas tadi Karam yang mengajarkannya kenapa sekarang dia yang diajarkan?

.

.

.

Boo… kita nonton yuk!”

Yunho sedang mendekap posesif istrinya, saat ini mereka berdua duduk di sebuah sofa di ruang keluarga menonton acara di televisi.

“Kita kan memang sedang nonton Yun!”

Jaejoong asik mengunyah keripik kentang yang sebenarnya milik Changmin. Sebenarnya hobi makan keripik kentang Changmin menurun dari ibunya tapi karena takut gemuk sejak melahirkan Kyuhyun, Jaejoong jadi mengurangi kebiasaan ngemilnya. Maklum saja hamil dan melahirkan memang berpangruh pada bentuk tubuh wanita dan Jaejoong adalah salah satu yang sensitif mengenai ukuran berat badannya.

Aigoo bukan nonton di sini yobo~ tapi bioskop!”

Jaejoong menatap suaminya tajam, Yunho menggerakan kedua alis matanya ke atas dan ke bawah dengan cengiran genit.

“Bisa tidak jangan ngajak aku pergi setiap akhir pekan, lama-lama anak-anak tidak kenal siapa ayahnya!”

Yunho langsung murung, tega sekali Jaejoong menyindirnya dengan perkataan setajam itu.

“Padahal yang main filmnya ganteng…” kata Yunho memancing perhatian sang istri.

Nugu?”

Jaejoong melirik Yunho dan mengabaikan keripik kentangnnya di atas meja.

“Daniel Henney.” Yunho berujar pelan.

“YA TUHAN KENAPA BARU BILANG YUN! AYO SEKARANG KITA PERGI!”

Entah kerasukan apa, ibu tiga anak itu berteriak-teriak girang seperti anak gadis yang akan bertemu “Big Bang Oppa” mereka. Yunho menggelengkan kepalanya heran.

“Anak-anak gimana Boo?” tanya Yunho, ingin tahu sebesar apa rasa cintanya pada aktor gopyo itu.

“Ah kau ini Yun, Kyunnie kan diawasi Heechul, Minnie diawasi Junsu dan Bummie diawasi errr… Karam!”

Jaejoong cengar-cengir menyebut nama Karam, mana tahu dia adiknya itu mengerti cara merawat bayi atau tidak. Jelas-jelas Karam anak bungsu dan Jaejoong ingat bagaimana manjanya ia saat kecil.

“Baiklah, ayo kita siap-siap!”

Meski tersenyum sebenarnya Yunho mengumpat di belakang Jaejoong, bisa-bisanya ia menyinggung perasaan Yunho padahal kelakuannya lebih parah. Mana ada ibu yang lebih cinta sama Daniel Henney dibandingkan anaknya.

.

.

.

Karam menatap ponselnya gusar, 15 panggilan tidak terjawab, 5 pesan yang belum terbaca, 10 WA, 3 line, 8 kakaotalk dan 2 BBM. Semuanya dari sebuah nama yang sama, Mika. Yah jangan tanya kenapa pria bernama Mika itu meneror ponselnya, Karam terlalu gaul sebenarnya sampai punya banyak sekali aplikasi pesan, untung saja Karam tidak diteror di twitter dan FB juga.

“Ya ampun… Mika Oppa pasti marah padaku…”

Karam menekuk wajahnya sedih, Mika itu pacarnya, meskipun di Jepang pria itu bela-belain nelepon Karam karena pesannya ngga di balas. Karam melirik keponakannya.

Imo ini gimana cih? Bummie mau nonton Ogi dan Kekeloc! Cepet Imo!”

Karam mengepalkan tangannya sebal, anak ini sudah lebih dari 50 kali meminta menonton Hello Kitty, Barbie, Masha and The Bear, Ogi and Cockroaches, cara membuat Playdoh dan lain-lain yang kebanyakan hanya dilihat untuk beberapa detik pertama.

“Iya sayang sebentar ya,” Karam menggerakkan kursor dan mengklik link yang diinginkan Kibum.

Gadis berambut pirang itu kembali fokus pada ponselnya, pacarnya sudah marah-marah karena dianggap di abaikan. Karam membalas semuanya satu per satu, ia mau menelepon sebenarnya tapi bodohnya ia lupa kode panggilannya.

“Kalam Imo, Bummie mau nonton film hantu!”

Karam melotot, apa tidak salah ya anak umur 3 tahun minta nonton film seperti itu tapi kemudian Karam ingat beberapa waktu yang lalu melihat kartun hantu yang lucu dari teman Indonesianya.

“Ini saja ya!”

Kibum tiba-tiba bangun dan berdiri di tempat duduk Karam dan menempel pada bibi mudanya.

Aigooya!”

Karam nyaris menjatuhkan ponselnya, Kibum berdiri untuk bersandar dan mengalungkan tangannya di leher Karam, rasanya seperti dicekik setan kecil, Kara menghela napas kesal tapi Kibum sedang asik tertawa melihat pocong yang menari Gangnam Style.

Imo! Hantunya tau Psy Ahjussi hihihi…” Karam tersenyum ke arah Kibum, ia kemudian melanjutkan kegiatan ‘mari membalas semua pesan Mika’

Ne?”

“Bummie mau film hantu yang lain!”

“Iya tapi jangan begini, duduklah dibangkumu!”

Chileo! Bummie takut!”

“Kalau begitu jangan nonton hantu!”

Chileo! Bummie mau liat hantu!”

“Hah…” sabar Karam, ini baru 3 jam kau menghadapinya. Sabar Karam…

.

.

.

Suara gaduh terdengar di ruang bermain, Changmin dan Kyuhyun sedang bermain pedang-pedangan.

“Aku Pangeran!” kata Kyuhyun, si narsis ini sepertinya selalu mau menjadi yang terbaik.

“Aku Jendelal Pelang!” kata Changmin tak mau kalah keren.

“Yeeee Changmin hebaaat!”

Junsu bertepuk tangan norak, Heechul sibuk membaca majalah milik Jaejoong. Apasih yang Junsu sukai dari anak gembul itu, Heechul saja sudah malas menghadapi anak-anak itu. Lihat saja sekarang kedua bocah itu berlarian di ruang bermain anak padahal ada begitu banyak mainan yang bisa saja mencelakai mereka.

“Tialap!”

Changmin mengangkat tinggi-tinggi mainan panahnya tapi Kyuhyun malah berlari ke perosotan jadi Changmin mengejarnya. Wush… Kyuhyun merosot menghindari Changmin dan terjatuh dengan sangat keras.

“Hahahaha…”

BRUK! Changmin juga merosot dan menubruk sang kakak yang masih cekikian di bawahnya.

“HAHAHAHAHA…”

Bukannya menangis, Kyuhyun dan Changmin malah tertawa semakin keras kontan saja membuat Junsu kebingungan dengan mulut menganga. Heechul geleng-geleng kepala dan berdecak kesal, dua bocah itu kalau benar-benar nakal saking nakalnya jatuh pun malah tertawa.

“Ngomong-ngomong gimana ya nasib gadis itu menghadapi bocah ajaib seperti Jung Kibum?”

Heechul tiba-tiba teringat Kim Karam. Melihat kedua putra Jung yang mengerikan mengingatkan Heechul pada biang masalah lainnya merasa kasihan ia pun pergi ke luar.

Rumah sangat sepi, Heechul melihat beberapa ruangan terdekat dari ruang bermain tapi tak ada siapapun.

“Cari siapa Nona cantik?” bibi Cha sedang menyapu lorong, wanita itu berjalan menghampiri Heechul yang terlihat bingung.

“Kenapa sepi sekali Bi?”

“Tuan Jung dan Nyonya Kim baru saja pergi, mau jenguk temannya yang sakit katanya!”

Heechul mengernyitkan dahinya, banyak sekali teman mereka yang sakit dan harus dijenguk, pikirnya curiga.

“Kalau Nona Kim dan Kibum di mana?”

“Oh di ruang belajar, sedang memakai komputer, Bibi lihat Kibum sangat menyukai Nona Karam.”

Bibi Cha tersenyum kalem, Heechul melotot tidak percaya, pengasuh berambut panjang itu dengan langkah cepat pergi ke ruangan itu.

“Ya Tuhan Nona Kim, kau kenapa?”

Kibum mengigit telunjuknya. Karam bibinya sedang tiduran di lantai tangan kanannya terkulai lemah dengan ponsel ditangannya sementara tangan kirinya sedang memijat pelipisnya.

“Ku mohon jauhkan aku dari monster kecil ini, kepalaku sakit sekali!”

Heechul menatap iba Kim Karam, gadis itu pada akhirnya pasti akan menyerah menghadapi Kibum.

Monstel?”

Kibum mengerjapkan mata lucu, Heechul dan Karam menatapnya merasa bersalah.

“Kau bisa melukai hatinya Nona Kim.” tegur Heechul pelan.

“Bukan chagimianhaeImo ngantuk…” kata Karam seraya memejamkan matanya.

Jujur saja kepala Karam saat ini seperti sedang ditimpa beban berat, matanya berkunang-kunang, parahnya lagi gadis yang masih merasakan efek jet lag itu sudah terkena demam ringan dan berimajinasi kalau kepalanya akan segera meledak secepatnya.

Wajah Jung Kibum mendadak murung, ia berjalan keluar dan memanggil ibunya, Karam sudah mau menangis takut dengan amukan kakaknya. Sekarang giliran Heechul yang memijat pelipisnya.

Gwaenchanayo, Tuan Jung dan Nyonya Kim sedang keluar rumah, Nona Jung sebentar lagi juga akan ceria kembali.”

Ajaib sekali keluarga ini, anaknya, ibunya, bibinya, semuanya memusingkan.

.

.

.

“Jadi, bisa jelaskan kenapa kau baru menghubungiku yang setengah mati mengkhawatirkanmu?” tanya suara di sebarang, Mika.

“Huwaaaaaaa Oppa aku tidak akan pulang ke Korea dan bertemu Crazy Little Thing Called Jung Kibum, sebelum dia besaaaaarrr!”

Karam berteriak di ponselnya, masa bodoh dengan penghuni rumah Jung, toh kakak dan kakak iparnya sedang tidak ada di rumah, sekarang ini pasti Karam benar-benar trauma menghadapi Jung Kibum. Tidak tahu saja kalau di depan kamarnya para pengasuh, Kyuhyun, Changmin dan Kibum sedang menguping.

Imo bilang apa cih?”

Kibum bertanya polos, Kyuhyun dan Changmin saling melempar seriangaian. Kibum benar-benar calon evil, pikir keduanya.

END

Halooo semuanya~ apa kabar? Semoga sehat ya…

Well curhat dikit, ide ceritanya di ambil dari kisah Kira sendiri menghadapi anak bos Kira yang tiba-tiba di ajak ke kantor dan ngerecokin kerjaan dengan maksa nonton Barbie dkk aseliii kepala Kira bener-bener mau pecah #mewekdipojokan dan hari ini dia dateng lagi masa? :\

Terus umurnya kayak Jung Kibum gitu dan emang anak perempuan tapi ngga cadel, ngomongnya jelas dan tua banget hahaha lucu sih tapi ya itu saking pinternya sampe bikin pusing kepala. Kualat kali ya bikin tokoh Jung Kibum nakal atau karena ngefans berat sama Masha terus akhirnya dikirimin duplikatnya di dunia nyata #garukgarukpala tapi pada dasarnya Kira suka anak-anak jadi terus aja dia nempel sama Kira sampe manggil Kira “Mama” hihihi

Advertisements